Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Budaya Dayak dan Burung Enggang Angkat Nama Kalimantan di Festival Internasional Kolombia

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 15 Juli 2026 | 23:57 WIB
Mobil karnaval delegasi KBRI Bogota dihiasi motif burung enggang dan ukiran Dayak sebagai representasi budaya Kalimantan saat mengikuti Festival Bambuco ke-65 di Kota Neiva, Huila, Kolombia. Indonesia menjadi satu-satunya negara asing yang diundang dalam festival budaya tersebut. ANTARA/HO-KBRI Bogota.
Mobil karnaval delegasi KBRI Bogota dihiasi motif burung enggang dan ukiran Dayak sebagai representasi budaya Kalimantan saat mengikuti Festival Bambuco ke-65 di Kota Neiva, Huila, Kolombia. Indonesia menjadi satu-satunya negara asing yang diundang dalam festival budaya tersebut. ANTARA/HO-KBRI Bogota.

 

PONTIANAK POST – Identitas budaya Kalimantan kembali mendapat panggung internasional. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bogota memilih motif burung enggang dan ukiran Dayak sebagai tema utama dalam Festival Nacional Bambuco en San Juan y San Pedro ke-65 di Kolombia. Pilihan itu menjadikan kekayaan budaya Kalimantan sebagai wajah Indonesia di hadapan ribuan pengunjung salah satu festival budaya terbesar di negara Amerika Selatan tersebut.

Bagi masyarakat Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat yang menjadi rumah bagi beragam komunitas Dayak, penampilan ini bukan sekadar atraksi budaya. Simbol-simbol yang lahir dari hutan tropis Borneo itu kini menjadi bagian dari diplomasi Indonesia untuk memperkenalkan keragaman budaya, flora, dan fauna kepada dunia.

Burung Enggang Dipilih sebagai Simbol Kalimantan

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kolombia, Tatang Budie Utama Razak, mengatakan tema Kalimantan sengaja dipilih agar masyarakat Kolombia mengenal lebih dekat kekayaan budaya dan alam Indonesia.

Menurut dia, motif burung enggang dipilih karena memiliki kemiripan bentuk dengan burung toucan yang hidup di Kolombia sehingga lebih mudah dikenali masyarakat setempat.

"Kami ingin memperlihatkan meskipun Indonesia dan Kolombia terpisah jarak geografis yang sangat jauh, namun kedua negara ini memiliki banyak kemiripan. Tentu hal ini menarik untuk diketahui oleh publik Kolombia, dan banyak hal yang dapat digali lebih lanjut melalui kerja sama di berbagai bidang," ujar Tatang.

Pilihan simbol tersebut sekaligus menjadi jembatan budaya antara dua negara yang sama-sama memiliki kekayaan hutan hujan tropis dan keanekaragaman hayati.

Tarian Dayak Tampil di Hadapan Publik Kolombia

Tidak hanya menghadirkan ornamen Kalimantan pada kendaraan karnaval, Tim Kesenian KBRI Bogota juga mengenakan pakaian adat Kalimantan dan menampilkan sejumlah tarian tradisional Indonesia.

Di atas panggung Festival Bambuco, mereka membawakan tarian khas Suku Dayak dan Tari Saman, diiringi lagu-lagu pop daerah Indonesia.

Penampilan tersebut semakin semarak dengan keikutsertaan sekitar 50 anak-anak Kolombia yang mengenakan kebaya dan seragam pencak silat sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya Indonesia.

Indonesia menjadi satu-satunya negara asing yang diundang berpartisipasi dalam festival budaya tersebut.

Festival Budaya Bergengsi di Kolombia

Festival Nacional Bambuco en San Juan y San Pedro merupakan salah satu agenda budaya terbesar di Kolombia.

Festival yang berlangsung pada 12–29 Juni 2026 di Kota Neiva, ibu kota Negara Bagian Huila, berakar pada tradisi masyarakat Pegunungan Andes yang menampilkan seni tari, musik, kuliner, serta kerajinan tangan.

Sejak 2006, Kongres Kolombia menetapkan Festival Bambuco sebagai Warisan Budaya Nasional, menjadikannya salah satu ajang penting untuk memperkenalkan budaya dari berbagai daerah maupun negara sahabat.

Diplomasi Budaya Perkuat Hubungan Indonesia–Kolombia

Selain mempromosikan budaya Indonesia, KBRI Bogota juga memanfaatkan momentum festival untuk memperluas kerja sama di bidang pendidikan dan pertukaran budaya.

Delegasi Indonesia menggelar pertemuan dengan Universidad Nacional Abierta y a Distancia (UNAD) Zona Selatan serta Jaringan Universitas Huila guna menjajaki peluang kolaborasi akademik dan pertukaran kebudayaan.

Menurut KBRI, diplomasi budaya menjadi salah satu cara efektif mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus membuka peluang kerja sama di berbagai sektor.

Dipilihnya budaya Dayak dan simbol burung enggang sebagai representasi Indonesia menunjukkan bahwa kekayaan budaya Kalimantan memiliki daya tarik yang diakui di tingkat internasional.

Bagi masyarakat Kalimantan Barat, momentum ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga dapat menjadi kekuatan diplomasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif apabila terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada dunia. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
burung enggang Kalimantan Festival Bambuco Kolombia KBRI Bogota budaya Kalimantan budaya Dayak