PONTIANAK POST – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) membantah laporan yang menyebut jumlah tentara AS yang tewas dalam konflik dengan Iran sengaja dikurangi dari 18 menjadi 14 orang. Pentagon menegaskan perubahan angka pada situs Defense Casualty Analysis System (DCAS) terjadi akibat gangguan data sementara, bukan karena adanya upaya menghapus korban dari catatan resmi.
Bantahan tersebut disampaikan Juru Bicara Departemen Pertahanan AS Sean Parnell, Jumat (24/7), setelah The New York Times melaporkan bahwa jumlah korban tewas yang tercantum di situs Pentagon berubah dari 18 menjadi 14 dalam kurun satu hari.
Baca Juga: Iran Klaim Bombardir Fasilitas Militer Amerika Serikat di Enam Negara Timur Tengah
The New York Times Ungkap Dugaan Perubahan Data
Menurut laporan The New York Times, pada Rabu (22/7) situs Pentagon masih mencatat 18 personel militer AS tewas dalam konflik Iran. Namun pada Kamis (23/7), jumlah tersebut berubah menjadi 14.
Surat kabar itu mengutip tiga pejabat militer yang menyebut salah satu kemungkinan penyebab perubahan adalah keputusan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menghapus empat personel militer yang tewas pada akhir pekan lalu karena kematian mereka terjadi setelah Trump mengumumkan gencatan senjata pada April lalu.
Laporan itu juga menyebut Pentagon memberikan penjelasan berbeda. Pelaksana Tugas Juru Bicara Pentagon Joel Valdez mengatakan perubahan angka dipengaruhi "gangguan data sementara" dan menyebut informasi tersebut akan segera diperbaiki.
Baca Juga: Biaya Perang Iran Tembus USD 50 Miliar, Dua Kali Lipat Estimasi Pentagon
Pentagon Sebut Terjadi Gangguan Data
Sean Parnell membantah dugaan bahwa perubahan data berkaitan dengan kebijakan pemerintah.
"Ini adalah salah satu contoh terburuk dari industri media fake news, yang mengada-ada kebohongan tanpa alasan sama sekali, kecuali untuk menimbulkan kekhawatiran di kalangan rakyat Amerika," tulis Parnell di platform X.
"Kantor Pers Pentagon kami telah menghubungi The New York Times melalui telepon, secara tidak resmi, untuk menjelaskan secara rinci bahwa kesalahan pada situs Defense Casualty Analysis System (DCAS) disebabkan oleh gangguan data sementara."
Ia menambahkan Pentagon sedang bekerja sama dengan pihak militer AS untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Sementara itu, Joel Valdez juga menyebut perubahan pada situs merupakan "site anomalies" atau anomali pada sistem dan menegaskan Departemen Pertahanan tetap berkomitmen menjaga akurasi pelaporan korban.
"Kami tetap berkomitmen untuk melaporkan jumlah korban dengan akurat," ujarnya.
Trump Masih Sebut Angka 18 Korban
Di tengah polemik tersebut, Presiden Donald Trump dalam konferensi pers pada Kamis (23/7) masih menyebut jumlah korban tewas tentara AS mencapai 18 orang saat membandingkan konflik Iran dengan perang-perang lain yang pernah diikuti Amerika Serikat.
Trump mengatakan satu korban jiwa pun sudah terlalu banyak, tetapi tetap menyebut jumlah korban sebanyak 18 orang.
Minim Informasi soal Korban dan Jalannya Konflik
The New York Times juga melaporkan Pentagon dinilai minim memberikan informasi mengenai strategi militer maupun jumlah korban sejak gencatan senjata berakhir. Laporan itu menyebut pengarahan resmi terakhir mengenai konflik digelar pada awal Mei lalu.
Pentagon juga disebut menahan informasi mengenai tiga serangan Iran di Yordania yang mengakibatkan puluhan personel militer AS terluka serta merusak sejumlah helikopter.
Sean Parnell sebelumnya mengakui jumlah korban militer AS sejak 7 Juli meningkat hingga mendekati 100 orang, termasuk korban tewas dan terluka.
Kritik soal Transparansi Pemerintah
Pejabat Departemen Pertahanan AS menyatakan mereka diwajibkan melaporkan korban tewas, tetapi tidak memiliki kewajiban hukum untuk mengumumkan jumlah korban luka.
Namun, sejumlah pihak, termasuk senator dari Partai Demokrat, menilai pemerintahan Donald Trump tetap berkewajiban memberikan informasi yang memadai kepada publik mengenai jalannya konflik.
Mantan Letnan Jenderal Ben Hodges juga mengkritik dugaan upaya meremehkan jumlah korban dalam perang.
"Pemerintah sepertinya enggan bersikap jujur mengenai apa yang terjadi, tak cuma soal korban, tetapi juga soal perang Iran secara keseluruhan," katanya.
Menurut Hodges, meremehkan jumlah korban perang menunjukkan keengganan atau ketidakmampuan untuk belajar dari kesalahan.
Konflik AS-Iran Kembali Memanas
Sejak 8 Juli, militer AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata tidak lagi berlaku.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah dan menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata.(*)
Editor : Uray RonaldSumber : Antara, Anadolu