Asap Kiriman Karhutla Kalimantan Ancam Singapura dan Malaysia

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 23:17 WIB
Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. (ANTARA/Jessica Helena Wuysang)
Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. (ANTARA/Jessica Helena Wuysang)

 

PONTIANAK POST – Karhutla Kalimantan Barat kembali menjadi perhatian kawasan. Pemerintah Singapura meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi asap lintas batas dari Indonesia setelah kondisi cuaca semakin kering akibat pengaruh El Nino. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memperketat langkah pengendalian kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah perbatasan yang berpotensi menjadi jalur pergerakan asap menuju Malaysia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan asap dari sejumlah titik kebakaran di Kalimantan Barat berpotensi bergerak ke arah barat laut menuju Sarawak, Malaysia. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kabut asap lintas negara apabila kebakaran tidak segera terkendali.

BMKG menyatakan kondisi atmosfer pada awal Agustus masih mendukung peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Dalam Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan 4–10 Agustus 2026, BMKG menyebut arah pergerakan asap dari Kalimantan Barat didominasi menuju barat laut, sehingga berpotensi melintasi perbatasan menuju Sarawak, Malaysia apabila kebakaran terus berlangsung.

BMKG juga mencatat musim kemarau semakin meluas. Hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) Dasarian III Juli 2026 menunjukkan 1.657 titik pengamatan mengalami HTH kategori sangat panjang (31–60 hari), sedangkan 306 titik pengamatan telah memasuki kategori ekstrem panjang (lebih dari 60 hari). Kondisi tersebut terjadi antara lain di Kalimantan bagian selatan dan meningkatkan kerentanan vegetasi terhadap kebakaran. BMKG mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.

Singapura Rencana Darurat Kabut Asap

Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu, mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan kebakaran hutan di Indonesia. Berdasarkan pemantauan, asap dari Kalimantan dalam beberapa hari terakhir bergerak menuju Sarawak, namun belum mengarah ke Singapura.

"Pemerintah terus memantau situasi secara ketat. Satuan tugas kabut asap siap mengaktifkan rencana penanganan apabila kualitas udara mulai terdampak kabut asap lintas batas," ujar Grace Fu seperti dikutip The Straits Times.

Sebagai langkah antisipasi, Singapura memastikan stok masker nasional tersedia. Sekolah, pusat pendidikan anak usia dini, hingga panti lansia juga telah dilengkapi alat pemurni udara apabila kualitas udara memburuk.

Kewaspadaan tersebut meningkat setelah ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) pada 3 Agustus menaikkan status pemantauan kabut asap di Asia Tenggara. Lembaga itu memperkirakan El Nino yang semakin menguat akan memicu cuaca lebih panas dan kering hingga Oktober sehingga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan asap lintas batas.

Asap Berpotensi Lintasi Perbatasan

Peringatan serupa disampaikan BMKG melalui Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan periode 4–10 Agustus 2026.

BMKG menyebut asap dari Kalimantan Barat berpotensi melintasi perbatasan menuju Sarawak karena arah angin dominan bergerak ke barat laut.

"Berdasarkan arah pergerakannya, asap dari Kalimantan Barat berpotensi melintasi batas negara menuju Sarawak dengan pergerakan dominan ke arah barat laut," tulis BMKG.

Selain meningkatkan risiko kabut asap lintas negara, musim kemarau juga menyebabkan vegetasi semakin mudah terbakar. BMKG mencatat ribuan titik pengamatan di Indonesia mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori panjang hingga ekstrem, termasuk di sebagian wilayah Kalimantan.

Perkuat Pengendalian Karhutla Perbatasan

Menghadapi ancaman tersebut, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalimantan Barat bersama Pemerintah Kabupaten Sambas memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menekan potensi kebakaran selama puncak musim kemarau.

Langkah ini didasarkan pada tingginya luas kebakaran di Kalbar. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan Nasional (SIPONGI), hingga pertengahan 2026 luas lahan terbakar di Kalimantan Barat telah mencapai 28.680,47 hektare.

Kabupaten Sambas menjadi salah satu wilayah prioritas karena mencatat sekitar 2.228,20 hektare lahan terbakar serta 895 titik panas yang tersebar di 15 kecamatan dan 67 desa.

Wilayah yang menjadi fokus pengawasan meliputi Paloh, Jawai, Tangaran, Teluk Keramat, Selakau Timur, dan Sajingan Besar.

Perbatasan Jadi Prioritas

Kepala DLHK Kalimantan Barat, Adi Yani, mengatakan tren kebakaran di Kabupaten Sambas sebenarnya menunjukkan perbaikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Menurut dia, luas karhutla di Sambas turun dari 8.369,71 hektare pada 2023 menjadi 2.742,59 hektare pada 2024. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat seluruh pihak lengah.

"Meski demikian, kita patut bersyukur karena tren luas karhutla di Sambas berhasil ditekan. Namun kita tidak boleh lengah karena Sambas merupakan beranda depan negara yang harus steril dari ancaman asap lintas batas," ujarnya.

Minim Sumber Air

Kepala BPBD Kabupaten Sambas, Alwindo, mengatakan tantangan terbesar penanganan karhutla masih berasal dari pembukaan lahan dengan cara membakar serta minimnya sumber air di sejumlah lokasi rawan.

Desa Tanah Hitam, Selakau Tua, dan Temajuk menjadi beberapa wilayah yang mengalami kesulitan memperoleh air saat musim kemarau sehingga proses pemadaman sering terkendala.

Karena itu, BPBD mendorong pembangunan embung, sekat kanal di kawasan gambut, serta optimalisasi pemadaman udara pada titik api yang sulit dijangkau.

"BPBD Sambas berkomitmen memperkuat koordinasi lintas sektor, memperluas penyebaran informasi peringatan dini, serta meningkatkan kapasitas personel dan Masyarakat Peduli Api dalam penanggulangan karhutla," katanya.

Ancaman karhutla di Kalimantan Barat kini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat dan kerusakan lingkungan di dalam negeri. Pergerakan asap hingga melintasi perbatasan menjadikan pengendalian kebakaran sebagai isu regional yang turut memengaruhi kualitas udara negara tetangga.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
musim kemarau 2026 titik panas Kalbar ASEAN Specialised Meteorological Centre bmkg kabut asap