Asap Karhutla Kalimantan Tembus Filipina

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 22:53 WIB
Kabut asap pekat di Kawasan Bangunan Dewan Undangan Negeri Sarawak, Kuching, Kamis (20/8).
Kabut asap pekat di Kawasan Bangunan Dewan Undangan Negeri Sarawak, Kuching, Kamis (20/8). (FOTO: BERNAMA)

 

PONTIANAK POST – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan terus meluas. Setelah menyelimuti Sarawak, Malaysia, sepanjang Agustus, asap lintas batas kini terdeteksi mencapai Palawan dan Panay di Filipina.

ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) mendeteksi asap berintensitas sedang hingga pekat di Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Sabah, Sarawak, Brunei, dan sebagian Filipina. Asap berasal dari klaster hotspot di Kalimantan dan bagian selatan Sumatera.

Dampaknya telah mengganggu kehidupan masyarakat di negara tetangga. Enam wilayah Sarawak mencatat kualitas udara berbahaya, kegiatan Hari Kebangsaan dibatalkan, dan kasus asma di Malaysia meningkat lebih dari delapan kali lipat.

Enam Wilayah Sarawak Berbahaya

Berdasarkan Air Pollutant Index Management System (APIMS), enam wilayah Sarawak mencatat indeks polusi udara di atas 300 pada Selasa (1/9/2026) pukul 08.00 waktu setempat. Angka di atas 300 dikategorikan berbahaya.

Serian mencatat angka tertinggi sebesar 408, disusul Kuching 407 dan Samarahan 372. Sri Aman mencapai 361, Sarikei 333, dan Sibu 309.

Tiga wilayah lain masuk kategori sangat tidak sehat, yakni Mukah dengan indeks 234, Bintulu 232, dan Samalaju 225. Pemerintah meminta masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan.

Kabut asap juga mengganggu peringatan Hari Kebangsaan Malaysia tingkat Sarawak yang semula dijadwalkan berlangsung pada 30–31 Agustus di Kapit. Pemerintah Sarawak membatalkan kegiatan tersebut karena asap telah memengaruhi sebagian besar wilayah dan membahayakan kesehatan masyarakat.

Bayi 10 Bulan Kembali Kesulitan Bernapas

Di Kuching, kabut asap menjadi ancaman nyata bagi keluarga Mia Emylia Hassan. Putrinya yang berusia 10 bulan baru pulang dari rumah sakit setelah mengalami infeksi paru-paru ketika asap mulai menyelimuti wilayah tersebut.

Mia mengatakan udara di sekitar rumahnya berbau asap dan seluruh lingkungan terlihat memutih. Jarak pandang turun menjadi sekitar satu kilometer, sementara langit biru tidak terlihat selama lebih dari sebulan.

Kondisi paru-paru putrinya belum pulih sepenuhnya. Bayi tersebut terus mengalami batuk dan muntah, bahkan dua kali harus dibawa kembali ke unit gawat darurat karena kesulitan bernapas.

Kasus Asma Melonjak Delapan Kali Lipat

Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat 1.811 kasus asma pada periode 23–29 Agustus. Jumlah itu melonjak lebih dari delapan kali lipat dibandingkan 219 kasus pada pekan sebelumnya.

Kasus konjungtivitis atau peradangan mata juga meningkat dari 146 menjadi 720 kasus. Sebaliknya, infeksi saluran pernapasan akut turun dari 3.674 menjadi 1.857 kasus.

Belum ada kematian yang dilaporkan akibat komplikasi kabut asap. Namun, pemantauan kesehatan diperketat melalui Pusat Kesiapsiagaan dan Tindak Balas Krisis Nasional Malaysia.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit paru-paru kronis diminta membatasi kegiatan luar ruangan. Warga juga disarankan menggunakan masker N95 apabila harus keluar rumah.

Asap Bergerak ke Utara

Kabut asap kini bergerak lebih jauh ke utara. ASMC melaporkan asap lintas batas berintensitas sedang telah mencapai sebagian wilayah Palawan dan Panay di Filipina.

Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam Filipina melalui Environmental Management Bureau (DENR-EMB) juga menghubungkan kabut asap di negara itu dengan kebakaran yang masih berlangsung di Kalimantan.

Kepala Divisi Pengelolaan Kualitas Lingkungan DENR-EMB Jundy Del Socorro mengatakan, asap dibawa angin muson barat daya atau habagat.

“Dari 1 hingga 3 September, kabut asap masih dapat memengaruhi sejumlah wilayah Filipina karena asap dari Kalimantan masih terbawa muson barat daya sementara kebakaran masih aktif,” kata Del Socorro.

Sebelas dari 15 stasiun pemantauan di Metro Manila mencatat kualitas udara sangat tidak sehat berdasarkan konsentrasi PM2.5 pada Selasa pagi. Hujan secara luas diharapkan dapat membersihkan partikulat dari atmosfer dan memperbaiki kualitas udara.

ASEAN Aktifkan Peringatan Tertinggi

ASMC telah mengaktifkan Peringatan Level 3 untuk wilayah selatan ASEAN sejak 26 Agustus. Level tersebut merupakan peringatan tertinggi dalam sistem kabut asap lintas batas regional.

Peringatan diaktifkan setelah kondisi hotspot dan kabut asap memburuk akibat kemarau berkepanjangan. Pantauan satelit menunjukkan asap berintensitas sedang hingga pekat bergerak ke utara dari klaster hotspot di Kalimantan Barat.

Kondisi kering diperkirakan bertahan di sebagian besar wilayah selatan ASEAN. Apabila kebakaran berlanjut dan arah angin tidak berubah, risiko kabut asap lintas negara yang parah masih tinggi.

Prabowo Perintahkan Izin Korporasi Dicabut

Meluasnya asap ke negara tetangga terjadi ketika pemerintah Indonesia meningkatkan penegakan hukum. Presiden Prabowo Subianto meminta kepolisian, kejaksaan, dan aparat intelijen menyelidiki dugaan keterlibatan perusahaan dalam pembakaran lahan.

“Saya minta polisi, kejaksaan selidiki, intelijen selidiki. Kalau ada indikasi segera laporan, kita segera cabut,” kata Prabowo saat memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla di Pekanbaru, Riau.

Prabowo menegaskan kebijakan tersebut berlaku bagi seluruh perusahaan tanpa pengecualian. Seluruh izin korporasi dapat dicabut apabila hasil penyelidikan menemukan keterlibatan dalam memerintahkan pembakaran.

“Siapa pun, korporasi apa pun, ada sedikit indikasi mereka menyuruh bakar-bakar, kita cabut izinnya. Seluruh izin korporasi itu kita cabut. Saya tidak main-main,” tegasnya.

Perintah tersebut disampaikan ketika KLH/BPLH memeriksa 42 perusahaan di Sumatera dan Kalimantan. Di Kalbar, Polda mendalami keterkaitan delapan korporasi, sedangkan lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka dari 56 laporan karhutla.

Keberadaan hotspot dalam konsesi tidak otomatis membuktikan kesalahan perusahaan. Tanggung jawab hukum tetap harus ditentukan melalui pemeriksaan lapangan, pengumpulan alat bukti, dan proses hukum.

Jangan Terus Mengulang Pola Lama

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar meminta pemerintah tidak mengulang pola penanganan karhutla yang sama setiap tahun. Menurut dia, penanganan selama ini belum menyelesaikan persoalan dari hulu.

Muhaimin mendorong pemerintah memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan masyarakat adat serta komunitas lokal dalam menjaga hutan. Mereka harus ditempatkan sebagai pelaku utama, bukan sekadar objek kebijakan konservasi.

“Kita tidak sadar bahwa sumber pengetahuan, bahkan ilmu pengetahuan, ada di masyarakat adat dan para pengelola lokal yang punya pengalaman dan kearifan. Itu mestinya menjadi sumber kebijakan,” katanya dalam People’s Conservation Summit 2026 di Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, Selasa (1/9/2026).

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga mengingatkan seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan. September diperkirakan menjadi fase krusial karena fenomena El Nino mencapai puncaknya.

“Tim di lapangan perlu meningkatkan kewaspadaan penuh serta memperkuat koordinasi pemadaman,” katanya.

Infografis: Kabut Asap Lintas Negara

Indikator Kondisi
Wilayah Sarawak berstatus berbahaya 6 wilayah
API tertinggi Serian: 408
Kasus asma Malaysia 1.811 kasus
Kasus asma pekan sebelumnya 219 kasus
Kasus konjungtivitis 720 kasus
Wilayah Filipina terdeteksi asap Palawan dan Panay
Status peringatan ASEAN Level 3—tertinggi
Perusahaan diperiksa KLH/BPLH 42 perusahaan
Korporasi didalami Polda Kalbar 8 korporasi

Indeks Polusi Udara Sarawak

Selasa, 1 September 2026, pukul 08.00

Wilayah Indeks API Kategori
Serian 408 Berbahaya
Kuching 407 Berbahaya
Samarahan 372 Berbahaya
Sri Aman 361 Berbahaya
Sarikei 333 Berbahaya
Sibu 309 Berbahaya

Sumber: APIMS, ASMC, Kementerian Kesehatan Malaysia, DENR-EMB Filipina, dan Pemerintah Sarawak

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
asap karhutla Kalimantan tembus Filipina udara Sarawak berbahaya peringatan Level 3 ASEAN kebakaran Kalimantan polusi PM2.5