Dalam kehidupan sosial, baik di lingkungan kerja maupun pertemanan, kita kadang bertemu dengan orang yang terlihat ramah dan menyenangkan di depan, tapi ternyata bersikap sebaliknya saat di belakang kita. Istilah populernya: bermuka dua. Lantas bagaimana mengatasinya?
PONTIANAK POST - Hubungan sosial yang sehat dibangun atas dasar kejujuran. Sayang, tak semua orang mampu atau mau membangun relasi yang tulus. “Ada orang yang manis di depan tapi menusuk di belakang. Itu bukan strategi cerdas, tapi tanda bahwa ia belum siap membangun relasi yang dewasa,’’ ujar professional public speaker & trainer Hearty Service Dr (Cand.) A.S. Mayangsari.
Perempuan yang akrab disapa Agni itu mengutip pakar klasik Emily Post, yang mengatakan bahwa bersikap sopan bukan berarti boleh bertingkah palsu. “Kesopanan sejati tidak seharusnya menjadi topeng untuk manipulasi. Justru, saat sopan santun digunakan sebagai alat untuk menutupi niat buruk, di situlah esensi etika dilanggar,’’ paparnya.
Jangan Bereaksi hingga Emosi
Ketika kita menyadari bahwa seseorang bermuka dua kepada kita, langkah pertama yang bijak bukanlah konfrontasi.
“Jangan langsung bereaksi apalagi emosi. Tenangkan diri dulu, cernalah informasi dengan jernih,’’ saran Agni.
Menurut dia, penting untuk memastikan konteks dan konsistensi perilaku sebelum mengambil keputusan. Kalaupun ingin mengonfrontasi, lakukan dengan niat yang tepat.
“Kalau tujuannya klarifikasi, itu baik. Ajak bicara empat mata, sampaikan dengan kalimat netral. Jangan di depan orang lain, dan hindari nada menyerang,’’ lanjutnya.
Keterbukaan penting, tapi cara penyampaiannya harus menjaga martabat kedua belah pihak. Yang terpenting, menurut Agni, adalah menjaga diri agar tidak ikut hanyut dalam drama.
“Kalau dibalas dengan emosi, yang tercoreng justru kita sendiri. Tahan diri bukan berarti lemah, tapi bukti kita punya kendali atas diri,’’ tegasnya. Dalam banyak kasus, diam yang tenang jauh lebih kuat dari balasan yang heboh.
Jaga Jarak Pertemanan
Bagaimana jika kita memilih menjaga jarak? Agni menegaskan bahwa set boundaries itu sah-sah saja dan tetap etis. Di lingkungan kerja atau komunitas, menjaga batasan adalah bentuk menjaga kedamaian batin tanpa menyalahi norma.
“Kita bisa tetap sopan, menyapa, tapi tidak membuka ruang terlalu dekat. Itu bukan permusuhan, tapi perlindungan,” jelasnya.
Menjaga relasi sehat tak harus berarti selalu dekat. Agni menekankan pentingnya tahu harus berkata cukup.
“Kita bisa menolak dengan baik, membatasi tanpa menyakiti. Jangan terlalu sering memaksa diri menyenangkan semua orang. Sebab, akhirnya hal tersebut akan mengecewakan diri sendiri,” tambahnya.
Ketulusan Bikin Rasa Aman
Bagaimana mengenali teman yang tulus? Professional public speaker & trainer Hearty Service Dr (Cand.) A.S. Mayangsari atau akrab disapa Agni, menyarankan untuk melihat konsistensi. Teman yang tulus akan membuat kita merasa aman. ’’Yang pura-pura baik biasanya meninggalkan rasa tak nyaman, karena tindakannya sering tak sejalan dengan ucapannya,’’ ucapnya.
Dalam memilih teman, Agni mengingatkan bahwa kualitas hubungan ditentukan oleh rasa aman, bukan frekuensi per temuan.
“Teman yang tulus adalah kemewahan. Pilih yang membuat kita bisa jadi diri sendiri tanpa rasa curiga. Jangan ragu menjaga jarak dari yang meragukan,’’ ujarnya.
Bagi yang terjebak dalam lingkungan sosial penuh kepura-puraan, Agni memberikan tiga tips sederhana. Pertama, jaga jarak secara halus. Kedua, kurangi ekspektasi dan perkuat observasi. Ketiga, jangan balas drama dengan drama, tapi balas dengan kendali.
“Tingkah orang lain di luar kendali kita, tapi kita bisa memilih cara meresponsnya,’’ katanya.
Terakhir, Agni menekankan pentingnya menjaga integritas pribadi.
“Kita tak bisa memilih siapa yang ada di sekitar kita. Tapi kita bisa me milih siapa yang kita izinkan memengaruhi nilainilai kita,’’ jelasnya.
Di tengah lingkungan penuh basa-basi, menjaga keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan adalah bentuk etika tertinggi. (*/lai/ai/jp)
Editor : Hanif