PONTIANAK POST - Kondisi Terminal Kota semakin hari kian parah dan kumuh. Pemerintah Daerah dianggap gagal dan tidak mampu melakukan penataan baru terhadap terminal kota. Dini Ardianto Sekretaris Dinas Perhubungan Kapuas Hulu menyampaikan, bukannya Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu tidak ingin membangun baru terminal kota tersebut. Namun status tanah yang tidak jelas ini menjadi penyebab Pemkab Kapuas Hulu melalui Dishub Kapuas Hulu kesulitan untuk membangun terminal yang baru.
"Kesulitan untuk membangun baru terminal kota ini karena status tanah tidak jelas, tanah ini masih milik Badan Pusat Statistik (BPS) dan sampai hari ini BPS belum mau menyerahkan tanahnya ke Pemda Kapuas Hulu, " kata Dini Ardianto Sekretaris Dinas Perhubungan Kapuas Hulu, kemarin.
Dini mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali menyampaikan surat ke BPS untuk melakukan tukar guling tanah, namun tidak direspon oleh BPS.
"Ada 3 lokasi tanah Pemda Kapuas Hulu yang kita tawarkan ke BPS diantaranya lokasi tanah yang ada di Kedamin dan Danau Kayan, " ujarnya.
Dini menegaskan, Pemerintah Pusat sebenarnya sudah siap untuk membangun terminal kota, tetapi terkendala dengan status tanah tersebut.
"Kita mohon maaf kepada masyarakat bukan kita tak mau membangun terminal kota tetapi inilah kendalanya, " ucapnya.
Sementara itu Askiman warga Putussibau merasa malu melihat terminal Kota Putussibau yang kumuh dan tak terurus.
"Ini menunjukkan bahwa Pemkab Kapuas Hulu tak mampu melakukan penataan terhadap terminal kota ini. Bertahun-tahun dibiarkan kumuh dan tak terurus, " ujarnya.
Maka dari itu Askiman meminta agar terminal tersebut dapat dilakukan penataan baru agar lebih rapi dan bersih.
"Terminal bus Putussibau ini kurang diperhatikan pemerintah daerah, padahal lokasinya berada dalam kota," tuturnya.
Askiman mengatakan, kondisi terminal Putussibau terlihat makin kumuh jika sudah memasuki musim penghujan, dimana air akan tergenang karena selokan di terminal sangat buruk.
"Belum lagi adanya bangunan di sekitar terminal yang membuat kondisi terminal makin kumuh," pungkasnya. (fik)
Editor : Hanif