PONTIANAK POST – Di tengah hutan perbatasan Kalimantan Barat yang kini tampak tenang, tersimpan kisah perjuangan yang nyaris terlupakan. Enam anggota Brigade Mobil (Brimob) gugur mempertahankan kedaulatan Indonesia dalam pertempuran di wilayah Merakai Panjang, Kecamatan Puring Kencana, Kabupaten Kapuas Hulu, pada 1965.
Enam dekade kemudian, jejak pengorbanan mereka kembali dihidupkan. Satbrimob Polda Kalbar memulai pembangunan Monumen Perjuangan Brimob di lokasi bersejarah tersebut melalui peletakan batu pertama yang dipimpin Dansatbrimob Polda Kalbar Kombes Pol Dede Rojudin, Minggu (31/5/2026).
Berdasarkan penuturan para saksi sejarah, Desa Merakai Panjang merupakan salah satu titik penting dalam konflik perbatasan Indonesia-Malaysia pada era Konfrontasi.
Di kawasan inilah pasukan Brimob yang bertugas menjaga wilayah perbatasan terlibat kontak senjata dengan pasukan Malaysia yang didukung SAS Inggris dan Gurkha, satuan tempur yang menjadi bagian dari kekuatan kolonial Inggris saat itu.
Pertempuran tersebut menelan korban jiwa dari pihak Brimob. Enam personel gugur saat menjalankan tugas mempertahankan wilayah negara dan kedaulatan bangsa.
Mereka adalah Aipda Jinawa, Dulmuin, Raharusun, Sumarnak, Kasmari, dan Saksudin.
Pengorbanan keenam anggota Brimob tersebut kemudian diabadikan melalui pemakaman mereka di Taman Makam Pahlawan Maralo Marajuang, Kabupaten Kapuas Hulu.
Namun bagi masyarakat Merakai Panjang, kisah perjuangan itu tidak pernah benar-benar hilang. Cerita tentang pertempuran di perbatasan terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari sejarah lokal yang membentuk identitas daerah.
Saat peletakan batu pertama, tokoh masyarakat sekaligus saksi sejarah setempat, Kadi, kembali menceritakan peristiwa yang pernah terjadi di wilayah tersebut.
Kesaksian itu menjadi pengingat bahwa kawasan yang kini menjadi desa perbatasan yang damai pernah menjadi medan tempur dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dansatbrimob Polda Kalbar Kombes Pol Dede Rojudin mengatakan pembangunan monumen bukan sekadar proyek fisik, melainkan bentuk penghormatan terhadap para pendahulu yang telah mengorbankan jiwa demi bangsa dan negara.
Menurutnya, monumen tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sejarah bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar memahami peran Brimob dalam menjaga kedaulatan Indonesia.
"Pembangunan monumen ini merupakan bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah berjuang dan mengorbankan jiwanya demi mempertahankan kedaulatan NKRI," ujarnya.
Ia berharap keberadaan monumen dapat menjadi kebanggaan masyarakat Merakai Panjang sekaligus pengingat bahwa sejarah perjuangan tidak boleh dilupakan.
Kepala Desa Merakai Panjang, Emiliana Elin, menyambut baik pembangunan monumen tersebut. Ia berharap keberadaannya dapat memperkuat identitas sejarah desa sekaligus menjadi daya tarik edukasi bagi generasi muda.
Monumen itu nantinya tidak hanya mengenang enam anggota Brimob yang gugur, tetapi juga menjadi simbol keberanian para penjaga perbatasan yang rela mempertaruhkan nyawa demi merah putih tetap berkibar di wilayah terdepan Indonesia.
Enam puluh satu tahun setelah dentuman senjata terdengar di hutan Merakai Panjang, perjuangan mereka akhirnya mendapatkan ruang yang lebih layak dalam ingatan publik. Dari medan tempur yang sunyi, kisah mereka kini berdiri dalam bentuk monumen agar tidak terkubur oleh waktu. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro