Kabut Asap dan Harga Pertalite Rp18.000 Bikin Warga Kapuas Hulu Terhimpit dari Dua Arah Sekaligus

Taufik As • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 11:14 WIB

 

Suasana Kota Putussibau saat ini masih diselimuti kabut asap.(TAUFIK/PONTIANAK POST)
Suasana Kota Putussibau saat ini masih diselimuti kabut asap.(TAUFIK/PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST - Warga Kabupaten Kapuas Hulu saat ini sedang berada di titik terberat. Dari atas langit turun “hantu asap” akibat kebakaran hutan dan lahan. Dari bawah, harga BBM jenis Pertalite di eceran tembus Rp18.000 per liter mencekik daya beli.

Dua pukulan datang bersamaan. Napas sesak karena polusi, dompet pun ikut sesak karena harga kebutuhan pokok ikut merangkak naik.

Sejak sepekan terakhir kabut asap kembali menyelimuti Kapuas Hulu, terutama wilayah Putussibau, hingga Silat Hulu. Jarak pandang menipis. Mata perih. Anak-anak dan lansia mulai banyak yang batuk-batuk.

Baca Juga: 3 Anakan Buaya Sinyulong Ditemukan di Mempawah, Bukti Habitat Tak Hanya di Kapuas Hulu dan Ketapang

Aktivitas luar rumah terpaksa dikurangi. Sekolah terpaksa belajar di rumah. Para pedagang kaki lima dan ojek yang menggantungkan hidup di jalanan paling merasakan dampaknya.

"Jualan sepi beberapa hari ini mas, saya liat banyak masyarakat pada ngantri minyak Pertalite di SPBU. Ditambah lagi kabut asap tebal jadi orang ke pasar pada malas untuk belanja, “kata Yati pedagang kue Molen di Pasar Pagi Putussibau, Senin (31/8).

Tim gabungan TNI-Polri, BPBD dan Babinsa terus berjibaku memadamkan titik api di Pengkadan, Silat Hulu dan wilayah lainnya. Namun angin dan kemarau panjang membuat api mudah hidup kembali.

Ia mengatakan, belum selesai dengan asap, warga kembali dihantam persoalan baru harga Pertalite eceran tembus Rp18.000/liter.

Baca Juga: Kapolres Kapuas Hulu Minta Warga Aktif Cegah Karhutla, Laporkan Titik Api ke 110

Di SPBU resmi harga masih subsidi, tapi antrian panjang dan kuota terbatas. Warga yang butuh cepat terpaksa beli di pengecer. Harga Rp17.000 – Rp18.000 sudah jadi “harga pasaran”.

Dampaknya langsung terasa. Harga ojek naik. Ongkos angkutan sayur dari desa ke kota naik. Harga sembako ikut terdorong.

Sarno, tukang ojek online di Putussibau mengaku pendapatan per harinya anjlok efek dari kabut asap dan harga minyak mahal

“Dulu isi 1 liter Rp10 ribu bisa muter 3-4 jam. Sekarang isi Rp18 ribu, baru 2 jam sudah habis. Penumpang juga pada ngeluh karena tarif naik. Kami ini mau kerja susah, mau bernapas juga susah,” ujarnya.

Baca Juga: Cegah Tumpang Tindih Aturan, Kemenkum Kalbar Sempurnakan Raperbup Tim Ahli DPRD Kapuas Hulu

Sarno meminta di tengah kondisi ini, masyarakat berharap ada solusi cepat dari pemerintah daerah dan pusat maupun Kabupaten Kapuas Hulu.

“Soal BBM, saya meminta pengawasan ketat agar BBM subsidi tepat sasaran dan menambah pasokan ke SPBU harga eceran tidak liar, "harapnya. .

Lanjutnya, dirinya paham kemarau ini ujian. Tapi jangan sampai rakyat kecil yang paling sakit.

“Asap sudah bikin sakit, harga mahal bikin tambah sakit, " ucapnya.

Baca Juga: Pemkab Kapuas Hulu Siapkan Mall Pelayanan Publik, Urus Administrasi hingga BPJS di Satu Tempat

Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu mengaku sudah berkoordinasi dengan Pertamina dan aparat untuk memastikan distribusi BBM.

Namun di lapangan, warga berharap langkah itu dipercepat. Karena asap tidak bisa menunggu, dan perut juga tidak bisa ditunda.

Hingga berita ini ditulis, langit Kapuas Hulu masih diselimuti kabut dan antrean di SPBU masih panjang. Masyarakat hanya bisa berharap semoga hujan segera turun, api segera padam, dan harga-harga kembali normal. Karena saat ini, warga Kapuas Hulu benar-benar sedang dihantui asap dan dihimpit harga BBM. (fik)

Editor : Miftakhair
Polusi Kapuas Hulu bbm kabut asap BBM Naik