SUKADANA - Nelayan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat menjerit. Pasalnya dalam dalam dua tahun terakhir pendapatan nelayan lokal menurun, bahkan hampir nihil, lantaran diduga akibat dari bebasnya nelayan cantrang dan kapal penangkap cumi-cumi dari jawa beroperasi di laut Karimata.
Akhirnya, maraknya kapal luar beroperasi di luar zona yang telah ditentukan oleh pemerintah, bahkan hingga ke tepian pulau karimata, diduga karena adanya izin yang keluar dari pemerintah provinsi bagi kapal-kapal penangkap dari pulau jawa dalam dua tahun terakhir. Diceritakan jupri, salah seorang nelayan lokal kepulauan karimata, mengeluhkan hasil tangkap mereka yang kian menurun dalam dua tahun terakhir.
"Jaoh lah hasel nelayan lokal sekarang, tak bise macam duluk agik, pendapatan masyarakat dah hampir 0 sekarang, jaoh turon pendapatan masyarakat ni, kurang lebih 2 tahun dah, makin tahun 2024 ni makin parah, dulu tu, kalau kami lah, dengan motor 6 D, masih balik biaye untok beroperasi, tapi kalau sekarang dak bise dah, " ungkap Jupri (26/11).
Ia menceritakan para nelayan cantrang yang beroperasi di perairan karimata yang diketahui merupakan wilayah Cagar Alam Laut ( CAL ), yang seolah tak ada takut-takutnya menggunakan alat tangkap cantrang yang resmi dilarang oleh pemerintah yang tertera dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18 tahun 2021.
" Mereke operasi tu di laot padang tu lah, kalau siang, kurang lebeh 12 mil dari tepi, tapi kalau malam, kurang lebeh 7 mil lah dari tepi ( pulau karimata ), mereke nelayan dari jawe, die tu yang bekerje benar tu waktu musem angin selatan, itu dak peduli, karne masyarakat jarang ke laot kan, tepi tepi sikatnye semue, siang tu, ape lagik malam," lanjut jupri
"Dak peduli die, pokoknye masok ke area masyarakat ( nelayan lokal ) lah, itu yang meresahkan tu, die (nelayan cangkrang ) pendekar, kalau siang die belaboh di laot padang, duluk tu, kalau malam baru die masok ( ke dekat Pulau ), sambel narek pukat tu die,"sambungnya.
Ia mengakui saat ini nelayan lokal, telah banyak yang tak lagi memasang Bubu ( alat tangkap ikan tradisional ) dan Rompong ( sarang ikan Buatan ) dikarenakan sering hilang ditarik oleh nelayan Cantrang, meski diketahui, biaya pembuatan keduanya memakan biaya yang tidak sedikit.
"Masyarakat sekarang ni bikin rompong( sarang ikan buatan) pun udah malas dah, bubu ( alat penangkap ikan tradisional ) pun orang malas buat, malahan sampai banyak yang berenti, tak mampu, bubu misalnye dipasang 10, paling tinggal dua, rompong gituk gak, abes ditarek pukat cantrang, Sekali masok tu enam kapal biasenye tu, belaboh ke tepi, sekali die masok kan langsong narek pukat , sering mereke masok tu, biasenye sebulan dua kali, lamak dah mereke masok tu, betaon taon dah, " ungkap Jupri.
Jupri menambahkan keresahan masyarakat dengan semakin banyaknya kapal penangkap cumi-cumi atau yang biasa dikenal dengan Kapal Lampu, beroperasi menggunakan izin Pemerintah Provinsi dan juga beroperasi di luar zona yang telah ditentukan pemerintah.
"Kan kite tau tu, izin mereke ( kapal cumi dari jawa ) tu 20 mil dari pulau terluar, tapi mereke operasi tu di bawah itu, 6 mil 7 mil, bahkan ade yang di tepi karang, karne mereke pakai izin Provinsi Kalbar, yang berani mendekat itu pakai izin provinsi, 12 mil, padahal nelayan dari jawa, mereka bongkar hasil di pontianak, nanti di kirim pakai kontainer ke jawe " imbuhnya. (dan)
Editor : A'an