PONTIANAK POST — PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian budaya lokal melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Tahun ini, WHW mendukung dua kegiatan adat masyarakat di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang: tradisi "Sedekah Bumi" di Dusun Sungai Gantang dan ritual "Turun Sandam" di Dusun Kelukup Belantak dan Dusun Silingan.
Manager CSR PT WHW, Ari Djanuar Prasetyo, menjelaskan bahwa perusahaan secara konsisten memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan adat di Kendawangan sebagai bentuk tanggung jawab sosial kepada masyarakat sekitar. “Dukungan kami diberikan secara berkelanjutan, baik dalam bentuk pendanaan maupun penyediaan kebutuhan adat, demi kelancaran kegiatan budaya dan menjaga kelestariannya,” ujarnya.
WHW menegaskan bahwa dukungan ini juga bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) nomor 11 tentang kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Kegiatan pertama yang didukung adalah tradisi Sedekah Bumi di Dusun Sungai Gantang, sebuah ritual tahunan masyarakat etnis Jawa yang telah lama bermukim di wilayah tersebut. Tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan rezeki yang diterima, sekaligus untuk memohon keberkahan dan keselamatan.
Puncak acara ditandai dengan pembuatan gunungan setinggi 1,5 meter yang diisi hasil bumi lokal, yang kemudian diperebutkan oleh warga sebagai simbol berbagi rezeki. Kegiatan ini juga diramaikan dengan pertunjukan seni dari berbagai etnis seperti Jawa, Batak, NTT, Dayak, dan Melayu. Acara dilaksanakan pada 17 Mei 2025 di Lapangan Bola Dusun Sungai Gantang dan dihadiri oleh unsur Forkopimcam Kendawangan, kepala desa, tokoh adat, tokoh agama, serta perwakilan manajemen WHW.
Dukungan berikutnya diberikan pada kegiatan adat "Turun Sandam" atau "Menebas Lakau", sebuah tradisi masyarakat Dayak dalam menyambut musim bercocok tanam. Prosesi ini dipimpin oleh dukun adat (demong) dan diyakini mampu membersihkan lingkungan dari energi negatif serta menjaga keharmonisan dengan alam.
Rangkaian ritual diawali pembacaan mantra dan doa kepada Jubata, sebagai penghormatan kepada leluhur serta permohonan perlindungan dari gangguan roh jahat. Acara Turun Sandam berlangsung pada 15 April 2025 di Dusun Kelukup Belantak (Rumah Demong Adat Bapak Pilintius Loket) dan 4 Mei 2025 di Dusun Silingan (Rumah Demong Adat Bapak Kunik).
WHW menilai pentingnya kegiatan adat sebagai ruang komunikasi dan pelestarian nilai-nilai lokal. Partisipasi perusahaan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari program CSR/PPM 2025 di bidang sosial, budaya, keagamaan, dan kepemudaan. “Melalui kolaborasi erat dengan masyarakat Kendawangan, kami ingin menciptakan sinergi positif yang memperkuat hubungan sosial dan mendukung pembangunan yang berwawasan budaya,” tutur Ari.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab masyarakat adat, melainkan juga bagian integral dari pendekatan WHW dalam menjalankan tanggung jawab sosial secara konsisten dan berkelanjutan. (afi)
Editor : Hanif