Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Sinergi Pembangunan Smelter di Pulau Penebang: Meningkatkan Ekonomi dan Keberlanjutan Sosial Masyarakat

Arief Nugroho • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 11:26 WIB

 

KOLAM IKAN: Masyarakat Desa Pelapis mendapatkan bantuan kolam budidaya ikan air tawar sebagai pendapatan alternatif selama masa paceklik ikan.
KOLAM IKAN: Masyarakat Desa Pelapis mendapatkan bantuan kolam budidaya ikan air tawar sebagai pendapatan alternatif selama masa paceklik ikan.

Di tengah aktivitas pembangunan kawasan industri pengolahan dan pemurnian bijih bauksit di Pulau Penebang, ada harapan yang tertambat di sana. Proyek smelter alumina itu diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan ekonomi daerah, khususnya Kabupaten Kayong Utara. Berikut laporan wartawan Pontianak Post, Arief Nugroho, dari Sukadana.

-----

Proyek pembangunan pabrik pengolahan bijih bauksit menjadi alumina dan aluminium di Pulau Penebang, merupakan satu dari 77 Proyek Stategis Nasional (PSN) di Indonesia, sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

Proyek dengan nilai investasi lebih dari Rp 52 triliun itu, diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi baru, meskipun dalam perjalanannya ada tantangan besar yang harus dihadapi: menjaga harmoni antara industri, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kalimantan Barat, Adi Yani menegaskan bahwa setiap langkah pembangunan harus melalui prosedur sesuai ketentuan.

PELATIHAN: Istri-istri nelayan di Desa Pelapis saat mendapatkan pelatihan pengolahan ikan.
PELATIHAN: Istri-istri nelayan di Desa Pelapis saat mendapatkan pelatihan pengolahan ikan.

“Setiap tahapan pembangunan proyek wajib melalui kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), dan kami melakukan pengawasan untuk memastikan kepatuhan tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, setiap izin dan prosesnya harus melewati mekanisme berlapis hingga tingkat pemerintah pusat.

”Kehati-hatian sangat penting karena proyek ini memiliki skala besar dan potensi produksi tinggi,” tambahnya.

Wakil Bupati Kayong Utara, Amru Chanwari menilai, kehadiran proyek ini sebagai peluang besar bagi peningkatan ekonomi daerah. Ia optimistis, investasi tersebut akan memberikan dampak positif terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat. 

“Kami melihat ini sebagai bagian dari masa depan Kayong Utara. Selama dijalankan dengan bijak dan memperhatikan keseimbangan sosial serta lingkungan, proyek ini dapat menjadi momentum kemajuan bersama,” ujarnya.

PENGOBATAN GRATIS: Petugas kesehatan saat melakukan pengobatan gratis kepada warga Desa Pelapis. Pengobatan dan pemeriksaan gratis ini kolaborasi antara DIB Care dengan Puskesmas Pelapis.
PENGOBATAN GRATIS: Petugas kesehatan saat melakukan pengobatan gratis kepada warga Desa Pelapis. Pengobatan dan pemeriksaan gratis ini kolaborasi antara DIB Care dengan Puskesmas Pelapis.

Amru juga mendorong masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada. Ia mencontohkan, bagi nelayan tangkap yang tinggal di sekitar area Pulau Penebang, peluang di sektor budidaya bisa menjadi alternatif baru.

“Kita perlu mencari solusi yang berkelanjutan agar potensi perikanan tetap terjaga,” katanya. 

Desa Pelapis merupakan satu dari tiga desa di Kecamatan Kepulauan Karimata. Desa ini dihuni 349 kepala keluarga, yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan tangkap.

Ikan teri menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat nelayan di sana, terutama saat musim angin barat tiba. Saat itu pula masa panen ikan teri dimulai. Aktivitas laut menggeliat.

Namun, ketika musim angin barat berakhir, aktivitas tangkap kembali sepi dan roda ekonomi bagi nelayan pun ikut melambat. Kondisi inilah membuat nelayan di Desa Pelapis sangat bergantung pada ketersediaan ikan teri yang hanya melimpah pada periode Oktober hingga Desember setiap tahun.

Secara ilmiah, ketersediaan ikan di laut sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, arus, tingkat salinitas, serta kelimpahan klorofil yang mempengaruhi pertumbuhan plankton sebagai sumber makanan alami ikan. Dengan kondisi laut yang dinamis tersebut, upaya diversifikasi ekonomi pesisir menjadi semakin penting.

 Baca Juga: Satgas Korpasgat dan Avsec Gagalkan Penyelundupan Ganja di Bandara Sentani

 

Pendapatan Alternatif

PT Dharma Inti Bersama (DIB) selaku kontraktor dalam proyek pembangunan smelter itu menangkap fenomena yang terjadi. Anak perusahaan Harita Group itu menginisiasi berbagai program alternatif untuk menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya di saat paceklik ikan.

Salah satunya dengan menjalankan budidaya ikan air tawar dan pelatihan pengolahan hasil perikanan bagi para istri nelayan. Program budidaya ikan air tawar yang dikembangkan, agar potensi perikanan darat juga dapat dikembangkan di wilayah kepulauan.

Sejak dua bulan lalu, perusahaan tersebut mulai membangun empat unit kolam budidaya di Desa Pelapis yang tersebar di tiga dusun (Kelawar, Jaya, dan Raya). Setiap dusun akan memiliki dua unit kolam, dengan target total pembangunan mencapai enam unit kolam budidaya.

Sebanyak 38 nelayan dari ketiga dusun tersebut telah mengikuti pelatihan budidaya aquaponik, yaitu sistem yang menggabungkan pemeliharaan ikan dengan penanaman tanaman dalam satu siklus air. Para peserta diajari teknik dasar pembesaran ikan air tawar, pemeliharaan kualitas air, hingga manajemen pakan.

Tenaga ahli perikanan, Didin Komarudin yang juga merupakan Dosen Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan, sebelumnya para nelayan masih ragu karena budidaya membutuhkan waktu lebih lama dibanding menangkap ikan di laut. Namun, banyak juga yang mulai tertarik karena melihat potensi tambahan penghasilan.

Program pemberdayaan masyarakat tidak hanya menyasar para nelayan. Sebanyak 73 istri nelayan dari tiga dusun juga aktif mengikuti pelatihan pengolahan ikan. Mereka diajarkan cara membuat produk olahan seperti bakso dan nugget ikan. Produk ini dapat diproduksi dan dijual sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim tangkap.

Program yang dijalankan saat ini diharapkan menjadi contoh nyata antara adaptasi terhadap perubahan alam dengan pendekatan ilmiah dan memberdayakan potensi sosial lingkungan.

Dalam jangka pendek, budidaya ikan air tawar dan pengolahan hasil laut menjadi alternatif penambah penghasilan. Sementara dalam jangka panjang, ini dapat menumbuhkan kemandirian ekonomi masyarakat nelayan.

Selama periode Agustus – September 2025, penerima manfaat program pelatihan CSR DIB mencapai 258 peserta, terdiri dari 147 nelayan penerima pelatihan optimalisasi alat tangkap kelong dan diversifikasi alat (bubu dan gillnet), 73 istri nelayan penerima pelatihan pengolahan ikan, dan 38 peserta program budidaya aquaponik ikan air tawar.

Program ini tidak hanya menjawab kebutuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial masyarakat pesisir.

“Dulu kalau sedang tidak musim ikan teri, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang, setidaknya ada kegiatan lain yang bisa menghasilkan,” ujar seorang nelayan Desa Pelapis.

Berbagai program pemberdayaan masyarakat pesisir tersebut merupakan bentuk nyata upaya PT DIB dalam membuktikan komitmennya untuk tumbuh bersama masyarakat, mengedepankan prinsip keberlanjutan, dan mendukung peningkatan kesejahteraan nelayan di Desa Pelapis.

 

Pemberdayaan Masyarakat dan Penyerapan Tenaga Kerja Lokal

External Relation Manager PT Dharma Inti Bersama (DIB), Seno Ario Wibowo mengatakan bahwa sebagai perusahaan yang beroperasi dekat dengan komunitas nelayan, pihaknya memahami bahwa keberlanjutan ekonomi masyarakat sangat bergantung pada kondisi alam yang dinamis.

Karena itu, PT. DIB berkomitmen untuk hadir tidak hanya sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai mitra pembangunan masyarakat. Melalui program budidaya ikan air tawar dan pelatihan pengolahan hasil perikanan, pihaknya ingin memastikan bahwa para nelayan dan keluarganya tetap memiliki sumber pendapatan, bahkan di luar musim tangkap ikan teri.

Ia menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata dari komitmen perusahaan terhadap pemberdayaan masyarakat dan prinsip keberlanjutan lingkungan. 

“Kami percaya, adaptasi terhadap perubahan alam harus dilakukan dengan pendekatan ilmiah dan partisipatif. Karena itu, kami menggandeng akademisi serta pemerintah daerah agar program ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat pesisir,” katanya.

Dalam jangka pendek, program budidaya dan pelatihan pengolahan ikan diharapkan menjadi alternatif penghasilan tambahan. Dalam jangka panjang, inisiatif ini ditujukan untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi masyarakat nelayan.

Sejak proyek KIPP berjalan, ratusan warga Kayong Utara telah terserap sebagai tenaga kerja di Penebang, perusahaan suplier, serta vendor yang terlibat. Hal ini merangsang multiplier effect ekonomi yang dalam jangka panjang akan memberikan kontribusi pada pendapatan daerah.

Berbagai kegiatan Tanggung Jawab Sosial lingkungan (TJSL) telah dilakukan pula oleh PT DIB. Di bidang pendidikan, perusahaan telah memberikan beasiswa kepada 15 mahasiswa dan mahasiswi asal Desa Pelapis.

Harapannya program ini akan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Kayong Utara, khususnya di Desa Pelapis. Di bidang kesehatan, melalui program DIB Care, PT DIB melakukan kolaborasi dengan Puskesmas Pelapis untuk memberikan pemeriksaan dan pengobatan gratis sebulan sekali yang memungkinkan warga mendapatkan pemeriksaan dan obat gratis, serta konsultasi kesehatan dari dokter perusahan.

Kegiatan ini juga menjangkau pulau Meledang yang lokasinya relatif sulit dijangkau. Bagi anak dan balita, perusahaan juga melakukan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di tiga dusun yang ada di Desa Pelapis.

Program PMT ini melibatkan ibu-ibu kader posyandu, dan sejalan dengan program pemerintah Ayo ke Posyandu. Kegiatan ini mampu meningkatkan kunjungan ibu dan anak untuk melakukan pemeriksaan dan menyimak sosialisasi kesehatan dari tenaga medis Puskesmas Pelapis.

Dalam satu kesempatan, tenaga kesehatan Puskesmas Desa Pelapis, Agung Prasetyo, S.Kep. mengatakan, dengan adanya program PMT di semua dusun di Desa Pelapis, terbukti jumlah kunjungan ibu dan anak ke Posyandu semakin meningkat. Karena itu, program ini dinilai turut mendukung pencapaian program-program pemerintah lainnya seperti sosialisasi dan penyuluhan kesehatan, pemantauan kesehatan, dan vaksinasi.

Perusahaan juga memberikan insentif untuk guru mengaji di tujuh TPA di tiga dusun di Desa Pelapis dan sejumlah perangkat pendukung pendidikan agama; buku Iqra, Alquran, Juz Amma, meja belajar, serta papan tulis. (*)

Editor : Hanif
#pulau penebang #kayong utara #Smelter #proyek