PONTIANAK POST - Ibu-ibu di Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kayong Utara mengambil peran penting dalam menggerakkan ekonomi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sambil tetap menjalankan peran domestik, saat ini mereka terlibat aktif dalam berbagai kegiatan produktif dan ekonomi kreatif yang dapat memaksimalkan potensi wilayah pesisir dan membantu menambah penghasilan rumah tangga.
“Dulu kalau musim paceklik ikan, kami hanya di rumah. Sekarang kami bisa tetap bekerja dan punya penghasilan,” ujar Suaibah, ketua kelompok pembuatan bakso ikan di Desa Pelapis. Pengakuan senada disampaikan Sundusiyah dan Misnah, ibu rumah tangga dari Dusun Kelawar, yang mengaku senang terlibat dalam pengolahan lele marinasi. “Usaha bagus harus dicoba. Kalau ada kegiatan seperti ini, kami jadi lebih semangat,” kata mereka.
Menyadari pentingnya perempuan sebagai penggerak UMKM dan peningkatan ekonomi keluarga, PT Dharma Inti Bersama (DIB) sebagai pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) melakukan beberapa kegiatan yang menyasar ibu-ibu untuk berpartisipasi sebagai pelaku utama.
Satu diantaranya adalah kegiatan pembuatan bakso dan nugget ikan yang diikuti 64 istri nelayan dari tiga dusun, termasuk Suaibah. Kegiatan ini dalam sekali produksi mampu menghasilkan sekitar 86 kilogram bakso dan 45 kilogram nugget ikan. Semua produk yang dihasilkan telah dibeli oleh perusahaan di Pulau Penebang sejak Desember 2025.
Kegiatan bagi perempuan lainnya adalah pengolahan hasil budidaya ikan lele. Panen perdana awal Januari lalu menghasilkan 700 kilogram ikan lele yang selanjutnya oleh ibu-ibu di Pelapis dimarinasi untuk memperpanjang masa simpan, dan dikemas dalam bentuk vakum untuk selanjutnya dijual ke Pulau Penebang.
Seribuan kemasan lele marinasi berhasil dijual ke KIPP. Saat panen perdana lele, Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kayong Utara, Hendra Budjang menyampaikan apresiasi kepada PT DIB dan tim CSR yang telah konsisten membina masyarakat Pelapis.
Menurutnya, Pelapis memiliki keunggulan yang belum tentu dimiliki peternak lele di wilayah lain, yakni kepastian pembeli.
“Mari kita jadikan ini momentum, karena kelebihan Pelapis adalah kalau kita bekerja, yang membeli sudah ada (DIB). Alhamdulillah, yang membeli sudah ada, tinggal kesiapan masyarakatnya.”
Government Relation Manager DIB, Seno Ario Wibowo, menjelaskan berbagai kegiatan yang dilakukan di Desa Pelapis merupakan upaya perusahaan untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Program-program yang dibuat memberikan kesempatan dan peluang bagi perempuan untuk meningkatkan kemampuan dan potensi yang ada di daerah pesisir sehingga bisa menggerakkan usaha kecil menengah dan menambah pemasukan bagi keluarga.
Untuk budidaya lele, Seno menjamin bahwa hasilnya akan dibeli perusahaan. “Tidak perlu khawatir ikan lele ini akan dikemanakan, kami menjamin pihak perusahaan akan membantu sepenuhnya terkait hasil panen. Ikan lele ini pasti akan kami serap.”
Seno mengatakan bahwa perusahaan menempatkan perempuan sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi masyarakat. “Sebagai perusahaan yang beroperasi dekat dengan komunitas nelayan, kami memahami bahwa keberlanjutan ekonomi keluarga sangat bergantung pada kondisi alam yang dinamis. Karena itu, kami ingin memastikan para istri nelayan tetap memiliki sumber pendapatan, bahkan di luar musim tangkap,” terang dia.
Lebih lanjut Seno menjelaskan bahwa peningkatan ekonomi masyarakat harus berbasis pada potensi lokal dan melibatkan seluruh anggota keluarga nelayan.
“Melalui keterlibatan dalam pengolahan hasil ikan air tawar dan pembuatan bakso dan nugget serta pengolahan budidaya lele, perempuan bisa menjadi pelaku utama dalam menambah penghasilan keluarga. Ini adalah bagian dari komitmen kami terhadap pemberdayaan masyarakat, dan prinsip keberlanjutan, " pungkasnya.
Keterlibatan perempuan Desa Pelapis dalam membangun desanya juga terlihat dalam bidang kesehatan. Ibu-ibu Kader Posyandu di empat lokasi, bersama dengan Puskesmas Pelapis dan DIB melakukan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi anak-anak. Pemeriksaan dan sosialisasi kesehatan juga dilakukan secara rutin. (*)
Editor : Miftahul Khair