Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Lagi, Siswa Keluhkan MBG Berulat di Kayong Utara, Sebelumnya SPPG Pernah Di-suspend

Danang Prasetyo • Minggu, 3 Mei 2026 | 22:53 WIB
Foto ilustrasi contoh menu MBG - viral di medsos siswa SMA di Tuban mendapati belatung di makanannya.
Foto ilustrasi contoh menu MBG 

 

PONTIANAK POST — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali bermasalah di Kabupaten Kayong Utara. Di SDN 13 Desa Kamboja Tengah, Kecamatan Pulau Maya Karimata, para siswa menemukan ulat dalam makanan yang disajikan untuk mereka santap.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (2/5), ketika sejumlah siswa menerima paket makanan berupa nasi putih, tahu, serta oseng kacang panjang dan wortel dalam kemasan omprengan.

Namun, saat hendak dimakan, beberapa anak mendapati ulat di dalam nasi dan sayur.

Temuan tersebut langsung menyebar dan memicu kepanikan serta kemarahan orang tua. Mereka menilai kejadian ini bukan sekadar kelalaian, melainkan ancaman nyata terhadap kesehatan anak-anak.

“Ini makanan untuk anak-anak. Tidak bisa dianggap sepele. Harus ada tanggung jawab,” tegas salah satu orang tua murid.

Seorang guru di sekolah itu membenarkan adanya temuan ulat. Bahkan, menurutnya, ulat tidak hanya ditemukan di sayuran, tetapi juga di nasi yang menjadi makanan pokok siswa.

Pihak sekolah memastikan bahwa makanan tersebut berasal dari dapur yang dikelola Yayasan Surya Gizi Lestari.

Kepala SPPG MBG SDN 13 Pulau Maya, Awaludin, mengakui adanya ulat pada sebagian porsi, meskipun ia menyebut tidak semua makanan terdampak.

 

Pernah Dihentikan Sementara

Namun, fakta yang terungkap justru lebih mengkhawatirkan. Dapur yang sama sebelumnya pernah disanksi oleh Badan Gizi Nasional (BGN) karena tidak memenuhi standar pengelolaan limbah dan higienitas.

Operasional dapur sempat dibekukan setelah melanggar ketentuan Instalasi Pengelolaan Limbah (IPAL) dan Standar Laik Higienis Sanitasi (SLHS).

Meski kemudian diizinkan beroperasi kembali setelah mengirimkan laporan perbaikan, kejadian terbaru ini memunculkan dugaan adanya persoalan sistemik dalam pengawasan.

 

Tidak Ada Toleransi

Kepala Regional BGN Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, menegaskan pihaknya tidak akan mentoleransi pelanggaran berulang.

“Kasus ini sudah kami laporkan. Operasional dipastikan akan dihentikan kembali,” ujarnya.

BGN juga tengah mendalami kemungkinan adanya manipulasi laporan perbaikan yang sebelumnya diajukan pihak pengelola. Jika terbukti, sanksi tegas hingga pencabutan izin permanen dapat dijatuhkan.

 

Limbah Dikeluhkan Warga

Persoalan dapur MBG ini ternyata tidak hanya terkait kualitas makanan.

Warga sekitar juga mengeluhkan bau limbah menyengat dari lokasi dapur, yang mengindikasikan pengelolaan limbah belum berjalan optimal.

Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Kayong Utara, Adi Afrianto, menyatakan pihaknya masih melakukan pengecekan lebih lanjut.

Ia menyebut dapur tersebut memproduksi ribuan porsi makanan setiap hari, bahkan hingga hari Sabtu, mengingat tingginya angka stunting di wilayah tersebut.

danDi tengah situasi ini, orang tua siswa mendesak pemerintah segera mengambil langkah tegas, termasuk mengevaluasi bahkan mengganti pengelola dapur demi menjamin keamanan pangan anak-anak. (dan)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#berulat #Yayasan Surya Gizi Lestari #Mbg #SPPG #kayong utara