Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menjemput Ilmu di Tiongkok, 89 Pemuda Membawa Harapan untuk Kalbar

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 17 Mei 2026 | 16:03 WIB
Suasana haru di Bandara Supadio Pontianak saat 89 pemuda Kalimantan Barat dilepas menuju Tiongkok untuk mengikuti pelatihan industri aluminium dalam program pengembangan SDM Kawasan Industri Pulau Penebang.
Suasana haru di Bandara Supadio Pontianak saat 89 pemuda tanah air dilepas menuju Tiongkok untuk mengikuti pelatihan industri aluminium dalam program pengembangan SDM Kawasan Industri Pulau Penebang.

 

PONTIANAK POST - Bandara Supadio pagi itu dipenuhi suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada senyum bangga, pelukan hangat, juga tatapan mata yang berusaha menyembunyikan rasa haru. Sejumlah orang tua berdiri dekat pintu keberangkatan, mengantar anak-anak mereka melangkah menuju perjalanan yang mungkin belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Di antara koper dan ransel yang tersusun rapi, 89 pemuda bersiap terbang menuju Tiongkok, tepatnya di Holingol. Empat belas diantaranya berasal dari Kabupaten Kayong Utara. Mereka adalah generasi muda yang dipersiapkan untuk belajar teknologi pengolahan aluminium demi masa depan industri di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP).

Di tengah ketatnya persaingan kerja dan terbatasnya peluang bagi anak muda daerah, program Operations Development Program yang diinisiasi PT Dharma Inti Bersama (DIB) membuka jalan yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauan.

Tiket menuju Tiongkok itu tidak datang begitu saja. Ada proses panjang yang harus dilalui. Mulai dari seleksi, pelatihan intensif, hingga adaptasi dengan Bahasa Mandarin yang sama sekali baru bagi sebagian peserta.

Yusril Damara masih mengingat bagaimana empat bulan terakhir menjadi masa yang menguras tenaga dan pikiran. Alumnus Politeknik Negeri Pontianak itu harus membiasakan diri dengan karakter-karakter Mandarin yang rumit melalui program pelatihan hasil kolaborasi Universitas Tanjungpura dan Sekolah Tinggi Bahasa Harapan Bersama.

"Saya tentu sangat senang sekali. Perjuangan dan usaha saya selama empat bulan ini akhirnya terbayarkan," ungkapnya.

Di balik rasa bahagia itu, Yusril menyimpan mimpi sederhana yang selama ini ia pegang erat: ingin melihat Kayong Utara berkembang dan mampu berdiri sejajar dengan daerah maju lainnya.

"Saya ingin membangun daerah asal saya, Kayong Utara. Saya berharap daerah kita bisa semakin maju dengan adanya keberadaan smelter ini," katanya.

Harapan serupa juga dibawa Zainir Oktaviani. Sebagai anak pertama di keluarganya, sarjana Fisika Murni Fakultas MIPA itu merasa keberangkatannya bukan hanya tentang dirinya sendiri.

Ia sadar, langkah kecil yang ia ambil hari ini akan menjadi contoh bagi adik-adiknya di rumah.

"Saya ingin menjadi inspirasi bagi adik-adik saya karena saya anak pertama. Dukungan penuh dari orang tua sejak kecil hingga sekarang adalah kekuatan terbesar saya," ujar Zainir.

Baginya, kesempatan belajar di luar negeri menjadi pembuktian bahwa anak daerah memiliki kemampuan bersaing di industri besar.

"Saya ingin menjadikan Kayong Utara lebih maju, berkembang pesat, hingga suatu saat nanti bisa menjadi kota yang maju seperti Pontianak ini."

Perwakilan manajemen PT Dharma Inti Bersama (DIB), Rasnius Pasaribu, dalam sambutannya menjelaskan bahwa program ini merupakan wujud investasi jangka panjang perusahaan untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal yang kompeten.

“Teknologi yang dipelajari para peserta di Tiongkok nantinya akan diterapkan secara langsung dalam operasional industri hilirisasi aluminium di KIPP. Kami berharap, sepulangnya nanti, seluruh peserta tidak hanya membawa pengalaman, tetapi juga ilmu, keterampilan, dan semangat baru yang dapat diterapkan untuk mendukung pengembangan industri dan kemajuan daerah, khususnya Kayong Utara,” katanya.

Keberangkatan puluhan pemuda itu memang tidak hanya dipandang sebagai program pelatihan biasa. Banyak pihak melihatnya sebagai investasi sumber daya manusia untuk masa depan Kalimantan Barat.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kayong Utara, A. Azahari, dalam sambutannya mengingatkan bahwa perjalanan mencari ilmu telah lama menjadi bagian dari sejarah peradaban manusia.

"Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Tiongkok. Mengapa harus Tiongkok? Secara historis, di sanalah peradaban Lembah Sungai Kuning menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan tertua di dunia," ujarnya.

Menurut Azahari, para peserta tidak hanya dituntut menguasai teknologi industri, tetapi juga menyerap karakter kerja yang disiplin dan tangguh.

"Tiongkok itu etos kerjanya tinggi, disiplinnya luar biasa, dan mereka tetap mengedepankan adab serta sopan santun. Hal-hal positif itulah yang harus anak-anak kita serap di sana."

Di tengah suasana pelepasan yang hangat, Anggota DPD RI perwakilan Kalimantan Barat, Daud Yordan, turut memberi semangat kepada para peserta. Ia menyebut kesempatan tersebut sebagai peluang emas yang tidak dimiliki semua orang.

"Hari ini, jujur saja, mencari pekerjaan secara itu sulit. Tapi adik-adik ini luar biasa, pulang dari sana informasinya akan langsung dipekerjakan sesuai keahlian masing-masing. Ini kesempatan yang tidak datang dua kali," tutur Daud.

Sebagai putra daerah, Daud mengaku bangga melihat anak-anak muda Kalbar mulai mengambil peran dalam pembangunan industri modern.

"Menuntut ilmu boleh setinggi-tingginya, ambil ilmunya sebanyak-banyaknya. Tugas kalian adalah kembali dan membangun daerah kita, Kalimantan Barat," tegasnya.

Menjelang keberangkatan, suasana di ruang tunggu semakin emosional. Ada ibu yang sibuk merapikan kerah baju anaknya untuk terakhir kali sebelum masuk boarding gate. Ada ayah yang menepuk bahu putranya tanpa banyak bicara. Ada pula peserta yang diam-diam menyeka air mata sambil menggenggam paspor di tangan.

Mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidup, mereka akan tinggal jauh dari rumah dan keluarga.

Karena itu, pesan terakhir dari A. Azahari terdengar begitu menyentuh.

"Pesan terakhir saya, walaupun nanti kalian berada di negeri orang, jangan pernah lupa untuk menelpon ibu kalian. Karena doa ibulah yang akan senantiasa mengantarkan dan mengiringi langkah kalian menuju kesuksesan," ucap Azhari.

Tak lama kemudian, panggilan keberangkatan terdengar dari pengeras suara bandara.

Satu per satu para pemuda itu melangkah masuk ke ruang keberangkatan. Mereka membawa koper, harapan keluarga, dan mimpi besar tentang masa depan daerahnya.

Tiga bulan lagi mereka akan kembali. Bukan hanya dengan pengalaman baru, tetapi juga dengan ilmu, disiplin, dan keyakinan bahwa anak-anak daerah pun mampu berdiri di garis depan pembangunan industri Indonesia. (*)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#pemuda Kalbar ke Tiongkok #89 pemuda Kalbar #pelatihan industri aluminium KIPP #SDM Kayong Utara #PT Dharma Inti Bersama