Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

KIPP Pulau Penebang Perluas Akses Pendidikan di Kepulauan Karimata

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 9 Juni 2026 | 09:52 WIB
BELAJAR BAHASA INGGRIS – Seorang relawan program DIB Mengajar memberikan materi Bahasa Inggris kepada siswa SMP Negeri 3 Kepulauan Karimata di Desa Pelapis, Kabupaten Kayong Utara. Program CSR Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) ini bertujuan memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kemampuan bahasa asing generasi muda di wilayah kepulauan. (IST)
BELAJAR BAHASA INGGRIS – Seorang relawan program DIB Mengajar memberikan materi Bahasa Inggris kepada siswa SMP Negeri 3 Kepulauan Karimata di Desa Pelapis, Kabupaten Kayong Utara. Program CSR Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) ini bertujuan memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kemampuan bahasa asing generasi muda di wilayah kepulauan. (IST)

PONTIANAK POST – Di tengah hamparan laut Kepulauan Karimata, anak-anak Desa Pelapis tumbuh dengan mimpi yang sama besarnya dengan pelajar di perkotaan. Namun, keterbatasan akses pendidikan membuat perjalanan mereka meraih cita-cita tidak selalu mudah.

Melihat kondisi tersebut, Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) melalui PT Dharma Inti Bersama (DIB) memperluas kontribusi sosialnya di bidang pendidikan. Salah satunya melalui program “DIB Mengajar”, kelas tambahan Bahasa Inggris yang ditujukan bagi siswa SMP Negeri 3 Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Selasa (9/6/2026).

Program ini menjadi bagian dari upaya perusahaan mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah sekitar operasional, sekaligus membuka kesempatan belajar yang lebih luas bagi generasi muda kepulauan.

Desa Pelapis merupakan salah satu desa pesisir di gugusan Kepulauan Karimata yang letaknya cukup jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Kayong Utara. Sebagian warga menggantungkan hidup sebagai nelayan, sementara akses terhadap fasilitas pendidikan tambahan masih sangat terbatas.

Tidak tersedia lembaga kursus, bimbingan belajar, maupun pelatihan bahasa asing seperti yang lazim ditemukan di kota-kota besar. Bagi banyak siswa, sekolah menjadi satu-satunya tempat memperoleh pendidikan formal.

Pemandangan anak-anak yang harus menyeberangi laut menuju sekolah sudah menjadi hal biasa. Ketika cuaca buruk datang, sebagian siswa bahkan terpaksa tidak masuk kelas karena transportasi laut tidak memungkinkan.

Di SMP Negeri 3 Kepulauan Karimata, jumlah siswa dari kelas VII hingga IX hanya sekitar 37 orang. Meski Bahasa Inggris telah menjadi bagian dari kurikulum sekolah, proses pembelajaran masih menghadapi berbagai tantangan.

“Kalau menurut saya, kemampuan bahasa asing siswa di sini memang agak kurang. Kami berharap dengan adanya program dari perusahaan ini bisa membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa asing,” ujar Doni, guru SMP Negeri 3 Kepulauan Karimata.

Bagi siswa di wilayah kepulauan, Bahasa Inggris kini tidak lagi sekadar mata pelajaran sekolah. Seiring berkembangnya aktivitas ekonomi dan industri di kawasan sekitar, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing mulai menjadi kebutuhan penting.

Namun keterbatasan tenaga pendukung, minimnya ruang praktik, dan kurangnya kepercayaan diri membuat banyak siswa kesulitan mengembangkan kemampuan tersebut.

Menurut Doni, materi Bahasa Inggris di tingkat SMP sudah menuntut kemampuan memahami percakapan dan bacaan yang lebih kompleks. Sementara sebagian siswa masih berjuang memahami dasar-dasar komunikasi sederhana.

Meski demikian, para guru menilai anak-anak Pelapis memiliki potensi besar. Mereka cepat memahami materi dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

“Persoalannya bukan pada kemampuan mereka, tetapi kesempatan belajar yang masih terbatas,” katanya.

Berangkat dari kondisi tersebut, PT Dharma Inti Bersama melalui program CSR menghadirkan DIB Mengajar sebagai ruang belajar tambahan yang lebih interaktif dan menyenangkan.

Kelas ini tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga mendorong siswa berani menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari.

Para relawan berasal dari internal perusahaan, mulai dari tim CSR hingga karyawan lintas departemen yang memiliki kemampuan dan minat dalam bidang pendidikan.

INTERAKTIF – Guru dan siswa berdiskusi dalam kegiatan DIB Mengajar di SMP Negeri 3 Kepulauan Karimata, Desa Pelapis. Melalui pendekatan belajar yang interaktif, siswa didorong lebih percaya diri berkomunikasi dalam Bahasa Inggris sebagai bekal menghadapi peluang di masa depan. (IST)
INTERAKTIF – Guru dan siswa berdiskusi dalam kegiatan DIB Mengajar di SMP Negeri 3 Kepulauan Karimata, Desa Pelapis. Melalui pendekatan belajar yang interaktif, siswa didorong lebih percaya diri berkomunikasi dalam Bahasa Inggris sebagai bekal menghadapi peluang di masa depan. (IST)

Setiap pekan, siswa diajak belajar melalui permainan kosakata, praktik percakapan sederhana, hingga latihan memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Inggris.

Pada sesi awal, materi difokuskan pada greetings dan introductions agar siswa terbiasa menyapa dan membangun komunikasi dasar.

Suasana kelas yang lebih santai membuat siswa perlahan merasa nyaman. Anak-anak yang awalnya ragu mulai berani mengangkat tangan dan mencoba menjawab pertanyaan.

Beberapa siswa bahkan mulai percaya diri tampil di depan kelas untuk mempraktikkan percakapan sederhana bersama teman-temannya.

Kawasan Industri Pulau Penebang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikelola PT Dharma Inti Bersama dan diproyeksikan sebagai pusat hilirisasi serta industrialisasi bauksit terintegrasi.

Bagi perusahaan, pembangunan kawasan industri harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas masyarakat sekitar.

Karena itu, dukungan terhadap sektor pendidikan tidak berhenti pada program mengajar semata.

External Relations Manager Kawasan Industri Pulau Penebang, Sugeng Sulistiyo, menjelaskan perusahaan juga menjalankan sejumlah program pendidikan lainnya di Desa Pelapis.

Program tersebut meliputi pemberian beasiswa penuh bagi siswa SMA dan mahasiswa asal Desa Pelapis, serta dukungan insentif bagi para guru Taman Pendidikan Alquran (TPA).

“Melalui program-program CSR ini, perusahaan berharap dapat berkontribusi dalam menciptakan sumber daya manusia Kayong Utara yang lebih kompetitif sekaligus membuka peluang pendidikan yang lebih baik bagi generasi muda di wilayah kepulauan,” ujarnya.

Di tengah berkembangnya kawasan industri di Pulau Penebang, pendidikan menjadi salah satu kunci agar masyarakat lokal dapat ikut menikmati manfaat pembangunan.

Anak-anak Desa Pelapis mungkin tumbuh jauh dari pusat kota dan berbagai fasilitas modern. Namun mereka memiliki mimpi, semangat belajar, dan potensi yang sama besarnya dengan anak-anak di daerah lain.

Melalui akses pendidikan yang lebih baik, generasi muda kepulauan diharapkan tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi mampu mengambil peran sebagai bagian dari masa depan pembangunan daerahnya sendiri. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Pulai Penebang #karimata #kipp #DIB #Desa Pelapis