PONTIANAK POST - Di balik melimpahnya panen durian di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, tersimpan peluang besar bagi pengembangan produk unggulan daerah.
Alih-alih bergantung pada penjualan buah segar yang harganya terus berfluktuasi, sebagian petani mulai mengembangkan lempok durian sebagai produk bernilai tambah yang diyakini mampu memperkuat ekonomi lokal sekaligus memperluas pasar khas daerah.
Lempok Berpotensi Menjadi Produk Andalan
Lempok durian bukan sekadar makanan tradisional bagi masyarakat Sukadana. Produk olahan berbahan dasar durian tersebut dinilai memiliki potensi menjadi identitas kuliner sekaligus komoditas unggulan Kabupaten Kayong Utara.
Baca Juga: Ini Dia 10 Varietas Durian Terbaik Kalimantan Barat: Potensi Mendunia, Siap Bidik Pasar Ekspor
Potensi itu terlihat dari upaya yang dilakukan Andi, petani durian sekaligus pelaku UMKM di Sukadana. Seluruh hasil produksi lempok yang dibuatnya berasal dari buah durian hasil panen kebun sendiri.
Hingga saat ini, Andi telah memproduksi sekitar 750 kilogram lempok durian, sebagai bentuk pengolahan hasil panen agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dijual dalam bentuk buah segar.
Bidik Pasar Nasional untuk Produk Khas Sukadana
Menurut Andi, lempok durian asal Sukadana sebenarnya telah dikenal masyarakat Kalimantan Barat, terutama di Kota Pontianak. Namun, ia ingin produk khas tersebut memiliki jangkauan pasar yang jauh lebih luas.
“Saya ingin memperkenalkan lempok durian asli Sukadana sebagai produk khas Kabupaten Kayong Utara. Harapannya, produk ini bisa semakin dikenal masyarakat di berbagai daerah, bahkan sampai ke luar Kalimantan,” kata Andi, Selasa (7/7).
Baca Juga: Mengapa Durian Dijuluki Raja Buah? Ini Alasan Ilmiah dan Manfaatnya bagi Tubuh
Ia menilai, apabila dipasarkan secara lebih luas, lempok durian berpeluang menjadi salah satu oleh-oleh khas yang mampu mengangkat nama Kabupaten Kayong Utara di tingkat nasional.
Dukungan Pemerintah Jadi Kunci Pengembangan
Andi berharap pengembangan produk lokal tidak hanya bergantung pada inisiatif pelaku UMKM.
Menurutnya, dukungan pemerintah melalui promosi, pelatihan, hingga pembukaan akses pemasaran menjadi faktor penting agar produk khas daerah mampu bersaing di pasar yang lebih besar.
Selain memperluas pasar, pengembangan industri olahan durian juga diyakini mampu meningkatkan pendapatan petani ketika harga buah segar mengalami penurunan saat panen raya.
Sebelumnya, harga durian di tingkat petani sempat turun hingga hanya berkisar Rp5.000 - Rp8.000 per buah. Kondisi itu mendorong sebagian petani memilih mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah agar usaha perkebunan tetap memberikan keuntungan.
Dengan dukungan promosi dan pemasaran yang berkelanjutan, lempok durian dinilai tidak hanya menjadi solusi bagi petani saat harga buah anjlok, tetapi juga berpotensi tumbuh sebagai produk unggulan yang memperkuat sektor UMKM dan perekonomian Kabupaten Kayong Utara. (*)
Editor : Miftahul Khair