Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Perbaikan Gizi Remaja untung Cegah Stunting

Siti • Kamis, 15 Juni 2023 | 07:06 WIB
Ilustrasi stunting. (IST)
Ilustrasi stunting. (IST)
Stunting merupakan masalah gizi kronis sebagai dampak lebih lanjut dari kekurangan gizi secara kumulatif, sehingga berakibat anak menjadi terlalu pendek tubuhnya yang tidak sesuai dengan usianya, diikuti dengan penurunan kemampuan kognitif dan berisiko tinggi di masa depan anak, yakni mengalami berbagai komplikasi penyakit.

Pencegahan stunting selayaknya dilakukan sedini mungkin. Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak, Dahliansyah, SKM, M.Gz mengatakan, intervensi yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya peningkatan prevalensi stunting dapat dilakukan pada siklus daur hidup di tahap remaja. 

“Remaja terutama remaja putri merupakan calon ibu, persiapan calon ibu sejak dini untuk mengetahui permasalahan stunting,” tuturnya.

Menurutnya, penting untuk mempersiapkan calon ibu yang memiliki pengetahuan cukup dalam upaya memenuhi gizi di 1000 Hari pertama Kehidupan (1000 HPK), yang mana hal ini merupakan bagian penting dalam mencegah stunting. 1000 HPK atau the first thousand days ini merupakan suatu periode di dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang di mulai sejak konsepsi (hamil) sampai anak berusia dua tahun. 

Pada rentang waktu ini, dia menilai asupan makanan memberi konsekuensi kesehatan untuk masa depan agar anak tumbuh sehat dan cerdas maka gizi sejak anak dini harus terpenuhi dengan tepat dan optimal. Sehingga, pengetahuan gizi ibu yang memadai terkait pemenuhan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan dapat dibekali sejak usia remaja sebagai persiapan memasuki masa prakonsepsi. 

“Status gizi prakonsepsi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kondisi kehamilan dan kesejahteraan bayi,” ucapnya.

Dia menilai, keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan jauh sebelumnya, yaitu pada masa remaja dan dewasa sebelum hamil atau selama menjadi Wanita Usia Subur (WUS).

Dahliansyah menegaskan bahwa stunting merupakan indikasi buruknya status gizi dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal.

“Sehingga yang lebih parah adalah akan menjadi beban negara, terkait besarnya cost yang harus dikeluarkan dalam menanggung biaya yang diakibatkan dampak stunting,” paparnya.

Karena itulah stunting mesti dicegah sedini mungkin. Dalam hal ini, dirinya menekankan pentingnya peran remaja agar menjadi perhatian khusus dalam penanganan stunting. Sebab, salah satu penyebab stunting adalah tingginya anak remaja yang mengalami anemia (kurang darah). 

“Diperkirakan dari 10 remaja sebanyak 3-4 orang remaja mengalami anemia. Masalah gizi pada remaja memiliki implikasi serius bagi kesehatan kaum muda yang berdampak pada kesejahteraan generasi saat ini dan masa depan, serta ekonomi dan kesehatan negara,” paparnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, status gizi remaja putri berhubungan erat dengan risiko kehamilan dan kesehatan serta kelangsungan hidup ibu dan anak, karena remaja terutama remaja putri merupakan calon ibu, yang akan melahirkan generasi penerus. Karena itulah, jika sejak remaja sudah mengalami masalah kesehatan, dapat dipastikan setelah memasuki usia menikah dan hamil, akan melahirkan bayi-bayi yang berisiko stunting. 

“Pada remaja putri, Anemia dapat memperbesar resiko kematian saat melahirkan, bayi lahir prematur, dan berat badan bayi yang cenderung rendah,” imbuhnya.  

Photo
Photo
Dahliansyah, SKM, M.Gz

Apa yang bisa dilakukan pada usia remaja dalam rangka mencegah stunting ini? Dia menyarankan untuk melakukan cek darah minimal enam bulan sekali atau jika mampu bisa tiga bulan sekali guna mengetahui kadar hemoglobin darah. Kalau angka hemoglobin dibawah 10 gram/dL maka harus minum tablet tambah darah sampai angkanya normal. 

Selain itu, lanjutnya, khusus pada remaja putri membutuhkan lebih banyak zat besi ketika masa pertumbuhan dan ketika terjadi kehilangan darah, seperti menstruasi. Jika kadar hemoglobin sudah diatas 10-15 gram/dL, jaga kesehatan dan konsumsi makanan dengan cukup dan bergizi seimbang. 

“Remaja putri harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang terutama makanan tinggi protein yang kaya akan zat besi serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur yang kaya akan vitamin C, E dan A,” tuturnya.

Makanan yang seimbang, tambahnya, juga harus diimbangi dengan rutin aktivitas fisik minimal 30 menit per hari, agar metabolisme tubuh menjadi baik.

Dia menjelaskan, status gizi yang baik bagi remaja dapat dicapai dengan memperhatikan asupan gizinya dengan tidak lupa mengkonsumsi tablet tambah darah satu tablet perminggu. Asupan gizi yang optimal dapat dilihat dari segi kuantitas dan kualitas yang sangat berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan remaja. 

Untuk itulah, lanjut dia, pola makan remaja perlu memperhatikan konsumsi makanan melalui prinsip konsumsi gizi seimbang yang berpedoman pada isi piringku. Konsep yang dimaksud adalah mengonsumsi sayur sebanyak tiga hingga empat porsi sayur dan dua hingga tiga porsi buah setiap hari, atau setengah bagian piring berisi buah dan sayur (lebih banyak sayuran) setiap kali makan.

“Gizi seimbang adalah susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh,” paparnya.

Dia memaparkan, prinsip gizi seimbang memiliki empat pilar utama yaitu pentingnya pola hidup aktif dan berolahraga, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan dengan beraneka ragam dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Dirinya juga menekankan pentingnya untuk menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan anemia pada remaja, diantaranya kurangnya asupan zat besi pada makanan sehari-hari, serta diet yang terlalu ketat tanpa memperhatikan kebutuhan nutrisi tubuh. Remaja juga bisa melakukan pencegahan anemia dengan cara membiasakan sarapan pagi, makanan yang beragam dan bergizi seimbang, serta hindari makanan junk food yaitu makanan yang miskin akan zat gizi, mengandung tinggi lemak, garam dan gula yang dapat membahayakan kesehatan.

“Hindari tidur terlalu larut malam karena istirahat yang kurang mengganggu metabolisme sel darah merah, kurangi makanan atau minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi seperti teh dan kopi, terutama saat mengkonsumsi makanan utama,” pungkasnya. (sti) Editor : Siti
#Stuning #cegah stunting