Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Anak Anda Kesulitan Menulis dan Membaca, Bisa jadi Disleksia

Miftahul Khair • Selasa, 8 Oktober 2024 | 14:03 WIB
Ilustrasi Disleksia.
Ilustrasi Disleksia.

DISLEKSIA adalah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat.

Pada peringatan Hari Disleksia Sedunia (World Dyslexia Day) yang diperingati pada hari ini, 8 Oktober, pontianakpost.jawapos.com akan mengulas tentang gangguan kesehatan yang satu ini

Dilansir dari situs Alodokter, disleksia dijelaskan sebagai gangguan saraf pada bagian otak yang memproses bahasa. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak atau orang dewasa. Meskipun disleksia menyebabkan kesulitan dalam belajar, penyakit ini tidak memengaruhi tingkat kecerdasan penderitanya. Maka jangan langsung memvonis kesulitan membaca dan menulis anak sebagai sebuah kebodohan. Bisa jadi dia menderita disleksia.

Meskipun mirip, disleksia berbeda dengan auditory processing disorder (APD). APD adalah kondisi otak yang tidak dapat mengolah suara yang didengar dengan baik, sehingga penderitanya mendengar informasi yang salah, misalnya kotak menjadi katak. Sedangkan disleksia terjadi pada bagian otak yang mengolah bahasa.

Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan disleksia, tetapi kondisi ini diduga terkait dengan kelainan genetik yang memengaruhi kinerja otak dalam membaca dan berbahasa.

Sejumlah faktor yang diduga memicu kelainan genetik tersebut seperti riwayat disleksia gangguan belajar lain pada keluarga, kelahiran prematur atau terlahir dengan berat badan rendah, hingga paparan nikotin, alkohol, NAPZA, atau infeksi pada masa kehamilan.

Sementara disleksia sendiri dapat menimbulkan gejala yang bervariasi, tergantung pada usia dan tingkat keparahannya. Pada balita, gejala dapat sulit dikenali, tetapi setelah anak mencapai usia sekolah, gejalanya akan mulai terlihat, terutama saat anak belajar membaca.

Gejala disleksia pada anak dapat terlihat ketika bagaimana dia lamban dalam mempelajari nama dan bunyi abjad, perkembangan bicara yang lebih lamban dibandingkan anak seusianya, sering menulis terbalik semisal menulis ‘pit’ saat diminta menulis ‘tip’, serta sulit dalam membedakan huruf tertentu saat menulis, misalnya ‘d’ dengan ‘b’ atau ‘p’ dengan ‘q’.

Selain keluhan tersebut, anak dengan disleksia dapat mengalami kesulitan dalam sejumlah aktivitas seperti memproses dan memahami apa yang didengar, menemukan kata yang tepat untuk menjawab suatu pertanyaan, mengeja, membaca, menulis, dan berhitung; mengingat huruf, angka, dan warna; mengucapkan kata yang tidak umum, serta memahami tata bahasa dan memberi imbuhan pada kata.

Sementara pada kawula remaja dan orang dewasa, disleksia dapat menyebabkan penderitanya sering salah mengucapkan nama atau kata, dan kesulitan dalam membaca atau menulis.

Oleh sebab itu, penderita cenderung menghindari aktivitas membaca dan menulis. Disleksia juga dapat menyebabkan penderita kesulitan dalam mengeja, memahami lelucon atau ungkapan kata yang memiliki makna lain (idiom), seperti ‘kambing hitam’, menyimpulkan suatu cerita, mempelajari bahasa asing, mengingat sesuatu, serta menghitung. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#Hari disleksia Sedunia #Disleksia