GANGGUAN kesehatan jiwa adalah sindrom atau sekelompok gejala yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang sehingga menyebabkan disfungsi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (World Mental Health Day) yang diperingati pada hari ini, 10 Oktober, perlu kiranya untuk mencari tahu penyebab serta upaya pencegahan gangguan kejiwaan sebelum terlambat.
Dilansir dari situs Halodoc, istilah depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, gangguan makan, dan perilaku adiktif, merupakan bagian dari gangguan kesehatan jiwa.
Kondisi ini bisa membuat pengidapnya sengsara dan menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, seperti di sekolah, tempat kerja, atau dalam hubungan.
Namun, pada kebanyakan kasus, gabungan antara obat-obatan dan terapi bicara (psikoterapi) dapat membantu mengurangi tingkat keparahan gejala yang muncul.
Gangguan kesehatan jiwa dapat terjadi karena banyak faktor, terutama faktor genetik dan lingkungan.
Dijelaskan bahwa gangguan jiwa lebih rentan terjadi pada individu dengan riwayat keluarga yang memiliki kondisi serupa.
Melansir dari Mayo Clinic, gen tertentu nyatanya dapat meningkatkan risiko gangguan jiwa dan gejalanya bisa muncul dari situasi tertentu.
Namun paparan lingkungan, peradangan, racun, alkohol, atau obat-obatan saat berada dalam rahim juga memiliki kaitan dengan penyakit mental.
Sementara faktor lain disebutkan seperti kimia otak. Ketika jaringan saraf terganggu, fungsi reseptor saraf dan sistem saraf dapat berubah yang menyebabkan depresi maupun gangguan emosional lainnya.
Kerap kali, sebagian orang masih bingung membedakan antara gangguan mental dan kesehatan jiwa.
Meski bisa terjadi pada siapa saja, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan kesehatan jiwa, antara lain seperti riwayat keluarga yang mengidap gangguan jiwa, seperti orang tua atau saudara kandung.
Kemudian situasi kehidupan yang penuh tekanan, seperti masalah keuangan, kematian orang tersayang, atau perceraian; kondisi medis (kronis) yang sedang berlangsung, seperti diabetes, kanker, penyakit autoimun, dan lain-lain; kerusakan otak akibat cedera serius (cedera otak traumatis), seperti pukulan keras pada kepala; pengalaman traumatis, seperti pertempuran militer, pelecehan seksual, atau penelantaran masa kecil; penggunaan alkohol atau obat-obatan, tidak memiliki teman atau hubungan yang sehat, serta pernah mengidap gangguan kesehatan jiwa sebelumnya.
Efek dari gangguan kesehatan mental bisa bersifat sementara atau justru bertahan lebih lama. Seseorang juga dapat memiliki lebih dari satu gangguan kesehatan jiwa pada waktu yang bersamaan.
Masalah kesehatan jiwa menjadi salah satu gangguan kesehatan yang masih sering mendapat pandangan buruk dari banyak orang.
Tak sedikit yang beranggapan bahwa masalah ini hanya muncul karena seseorang mengalami halusinasi atau perilaku yang buruk.
Bahkan, tak sedikit pula orang yang mengira bahwa seseorang dengan kelainan jiwa harus dikucilkan. Padahal, masalah ini ada banyak jenis dan setiap jenisnya memiliki gejala yang tidak sama.
Tanda dan gejala gangguan kesehatan jiwa dapat bervariasi bergantung pada jenisnya, kondisi, dan faktor lainnya.
Gejala biasanya memengaruhi emosi, pikiran, dan perilaku. Namun, umumnya masalah kesehatan mental ini dapat menyebabkan gejala seperti merasa sedih sepanjang waktu, bingung atau tidak mampu berkonsentrasi, ketakutan, kekhawatiran yang berlebihan, atau perasaan bersalah yang ekstrem; perubahan suasana hati yang ekstrem, menarik diri untuk berhubungan dengan teman atau melakukan aktivitas, kelelahan yang signifikan, seperti kekurangan energi atau masalah tidur, mengalami delusi, paranoia atau halusinasi; tidak mampu mengatasi masalah sehari-hari atau stress, kesulitan memahami situasi dan berhubungan dengan orang-orang, masalah dengan alkohol atau penggunaan narkoba, perubahan besar dalam kebiasaan makan.
Perubahan gairah seks, kemarahan, permusuhan, atau kekerasan yang berlebihan; serta punya pikiran untuk bunuh diri.
Tidak ada cara pasti untuk mencegah gangguan jiwa. Bagi seseorang yang berisiko mengalami kondisi ini, penting bagi mereka untuk mampu mengelola sekaligus mengendalikan stres.
Baca Juga: Redakan Sakit Kepala dalam 5 Menit dengan Pijatan Sederhana
Adapun sejumlah tips yang bisa dicoba yaitu perhatikan tanda-tanda peringatan. Dalam hal ini bisa menanyakan dengan dokter atau terapis terkait hal apa saja yang bisa memicu timbulnya gejala. Buat rencana sehingga bisa mengetahui tindakan antisipasi jika gejala kembali.
Di sisi lain, bisa juga menghubungi dokter atau terapis apabila merasa adanya perubahan gejala atau perasaan. Yang terpenting bagaimana mempertimbangkan untuk melibatkan anggota keluarga atau teman untuk melihat tanda-tanda peringatan.
Situs ini juga menyarankan agar menapatkan perawatan medis rutin, mendapatkan bantuan saat membutuhkannya, menerapkan gaya hidup sehat dengan tidur yang cukup, makan sehat dan aktivitas fisik yang teratur amat penting. Bahkan segera hubungi dokter jika mengalami kesulitan tidur atau memiliki pertanyaan tentang diet dan aktivitas fisik. (ote)
Editor : Miftahul Khair