Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Trauma, Bagaimana Penyebabnya dan Pencegahannya?

Miftahul Khair • Kamis, 17 Oktober 2024 | 12:21 WIB
Ilustrasi trauma.
Ilustrasi trauma.

KAMUS Besar Bahasa Indonesia mengartikan trauma sebagai keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani atau luka pada tubuh atau fisik. Namun apakah arti istilah trauma yang sebenarnya, jika ditinjau dari ilmu kesehatan.

Dilansir dari situa Halodoc, trauma dijelaskan sebagai respons emosional tubuh terhadap peristiwa mengerikan seperti kecelakaan, pemerkosaan, atau bencana alam. Ini juga bisa terjadi sebagai respons terhadap peristiwa yang membahayakan fisik atau emosional.

Kondisi ini bisa muncul setelah kejadian maupun dalam jangka panjang. Ini tergantung dari jenis yang dialami. Adapun jenisnya yaitu akut, kronis, dan kompleks. Untuk yang akut, bisa terjadi setelah peristiwa yang membahayakan keselamatan.

Sementara untuk jenis kronis bisa terjadi setelah paparan peristiwa berulang dan berkepanjangan. Sedangkan jenis kompleks terjadi setelah paparan peristiwa traumatis.

Trauma emosional dan psikologis merupakan gangguan yang muncul setelah peristiwa menegangkan.

Ada berbagai penyebab yang bisa memengaruhi individu dengan beragam cara. Beberapa hal yang bisa menyebabkannya yaitu kecelakaan lalu lintas, kecelakaan industriBaca Juga: FKUB Mempawah: Rumah Ibadah Bukan Tempat Aktivitas Politik, atau kecelakaan lainnya dapat menyebabkan trauma fisik dan psikologis.

Kemudian pengalaman kekerasan fisik, pelecehan seksual, pelecehan verbal, atau kekerasan rumah tangga, sehingga dapat menyebabkan trauma psikologis yang serius.

Di samping itu, bencana alam seperti gempa bumi, banjir, badai, atau kebakaran besar dapat menyebabkan kondisi ini akibat kehilangan harta benda, kehancuran, atau bahkan cedera fisik. Individu yang terlibat dalam konflik bersenjata atau perang, baik sebagai korban atau pelaku, juga berisiko mengalami trauma perang.

Kematian seseorang yang dicintai secara mendadak atau tragis juga bisa menjadi penyebab kondisi ini.

Kecelakaan atau cedera serius di tempat kerja dapat menyebabkan trauma fisik dan emosional. Kemudian pengalaman seperti kegagalan dalam hubungan, karier, atau kehidupan pribadi.

Di sisi lain, ketidakamanan finansial yang ekstrem, seperti kebangkrutan atau kehilangan pekerjaan, dapat memicu stres yang berujung pada kondisi ini. Bahkan tingkat kekerasan yang tinggi di lingkungan masyarakat, termasuk terorisme dan konflik bersenjata di wilayah tertentu, juga dapat menyebabkan trauma kolektif.

Yang paling umum adalah pengalaman ketidakamanan, diskriminasi, atau pelecehan rasial, gender, atau seksual. Terakhir, mereka yang mengalami hal yang mengancam rasa aman, seperti perampokan atau pelecehan di tempat umum, juga akan mengalaminya.

Tidak semua situasi traumatis dapat dihindari. Sebab, pengalaman trauma mungkin terjadi secara tidak terduga.

Meskipun begitu, beberapa langkah yang dapat membantu dalam mencegah atau mengurangi risikonya seperti memprioritaskan keamanan, dengan selalu memprioritaskan keamanan pribadi maupun orang terdekat.

Kemudian memperhatikan kesehatan mental, dengan berbicara bersama terapis atau konselor, bermeditasi, berolahraga, dan mengelola stres.

Di sisi lain, bisa juga dilakukan dengan mematuhi panduan keamanan lalu lintas, mengikuti prosedur keamanan di tempat kerja, menjaga kesehatan fisik, serta berlatih untuk melindungi diri. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#trauma #penyebab trauma #pencegahan trauma