PONTIANAK POST - Nata de coco menjadi salah satu bahan yang ditambahkan di berbagai minuman segar untuk berbuka puasa. Seperti es campur, es teler, bubbled tea, es krim, puding, salad, dan es nata de coco.
Dari segi kesehatan, nata de coco yang terbuat dari air kelapa itu baik untuk saluran cerna dan sudah menjadi kajian luas secara internasional.
Nata de coco dalam Bahasa Spanyol berarti ”cream of coconut” atau krim kelapa. Menurut catatan sejarah, penemu nata de coco adalah ilmuwan Filipina pada sekitar 1949. Selanjutnya menjadi produk
komersial pada 1954. Berbagai negara penghasil kelapa mulai membuatnya. Termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam.
Indonesia bahkan sudah memproduk sinya untuk memenuhi kebutuhan pasokan dalam dan luar negeri. Pembuatan nata de coco sangat sederhana. Yaitu fermentasi air kelapa dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum.
Hasilnya adalah produk seperti gel yang tersusun atas serat selulose, yang disebut bacterial cellulose. Kumpulan serat itu menghasilkan produk seperti spons, berpori, bening, sedikit keras, tapi tidak mudah terpecah bila ditekan.
Secara ringkas, tahapan proses pembuatannya meliputi penyarian air kelapa, fermentasi dengan kultur bakteri, pemisahan lapisan nata de coco yang terbentuk di permukaan, pencucian asam asetat yang ditambahkan pada proses, pemotongan dan pengemasan.
Pertanyaannya, apakah nata de coco produk sintetik atau alamiah? Berbagai artikel meyakini gel ini termasuk produk alamiah karena menggunakan air kelapa yang asli. Produk hasil fermentasi air kelapa itu lebih awet dan mudah digunakan dibanding air kelapa.
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS dalam Kanal Kesehatan Prof Mangestuti di YouTube menyebutkan meski pembuatannya sederhana, namun profil kandungan nata de coco layak mendapat perhatian.
Yang pasti produk ini higienis dan bebas bahan kimiawi. Terutama karena tersusun atas selulose, yaitu serat tidak larut. Kandungan lain meliputi air yang memang terbanyak, lemak, sedikit mineral kalsium, fosfor, natrium, kalium, vitamin C, vitamin B3, berbagai macam asam lemak.
Unsur pembentuk serat adalah selulose, hemiselulose, lignin dan serat larut lain. Variasi kandungan inilah yang memberikan potensi nata de coco sebagai pangan fungsional. Yaitu yang bermanfaat untuk mencegah penyakit agar kesejahteraan masyarakat tercapai.
Bagaimana nata de coco berperan bagi kesehatan? Ini erat berkaitan dengan kalori, keberadaan serat, dan kemampuan menghidrasi. Kalorinya rendah, terutama bila di konsumsi dalam bentuk asli tanpa
tambahan apa pun. Karena itulah nata de coco cocok sebagai bahan camilan dan minuman rendah kalori.
“Keberadaan serat pada nata de coco sangat baik untuk memelihara kesehatan saluran cerna walau jumlahnya relative tidak terlalu tinggi dibanding makanan yang kaya serat,” ujarnya.
Sifat menguntungkan lain meliputi kemampuan membasahi atau ”menghidrasi”, walau pasti tidak sekuat air kelapa aslinya. Faktor penting lain yang membuat nata de coco sehat adalah rendahnya kadar gula. Tapi, penambahan gula pada produk komersial nata de coco perlu diwaspadai, terutama bagi penderita diabetes.
Kesehatan Saluran Cerna
Berbagai potensi nata de coco diulas secara lengkap peneliti Indonesia (2022). Keunggulan nata de coco adalah kandungan seratnya, yaitu serat pangan yang memegang peran sangat krusial dalam mendapatkan dan mempertahankan ke sehatan saluran cerna. Serat meningkatkan volume feses di
dalam usus sehingga gerakan peristaltik berlangsung teratur. Gerakan itu memudahkan pr ses buang air besar, yang artinya membantu proses pembersihan usus. Khasiat ini ditengarai memberikan andil
pada peran serat nata de coco sebagai pencegah kanker kolon. Khasiat ini juga terkait dengan kemampuannya dalam menyerap dan mendistribusikan obat yang digunakan.
Serat tidak larut pada nata de coco mempercepat aliran makanan sepanjang saluran cerna yang menyebabkan gerakan usus menjadi lebih mulus. Kebutuhannya makin diperlukan dalam kondisi di mana masyarakat modern tidak mengonsumsi makanan cukup serat. Ini berkait erat dengan gaya hidup modern, yang berpotensi memicu penyakit, termasuk kanker usus. Serat memberikan nutrisi dan lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhan mikroorganisme usus yang perlu untuk aktivitas metabolisme dan kesehatan usus. (*/jp)
Editor : Miftahul Khair