Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Makan Banyak tapi Jarang atau makan Sedikit tapi Sering, Mana yang Lebih Sehat? Ini Penjelasan Para Ahli

Miftahul Khair • Senin, 23 Juni 2025 | 14:13 WIB
Ilustrasi makan dengan porsi besar.
Ilustrasi makan dengan porsi besar.

PONTIANAK POST - Menjaga kesehatan serta berat badan ideal menjadi keinginan banyak orang.

Namun, pertanyaan klasik soal seberapa sering sebaiknya makan dalam sehari sering kali memunculkan kebingungan.

Sebagian menyarankan makan sering dalam porsi kecil, sementara yang lain memilih makan besar dengan frekuensi terbatas.

Informasi yang saling bertentangan kerap membuat orang sulit menentukan pola makan yang paling tepat.

Dikutip dari Medical News Today, sejumlah penelitian terbaru mengulas hubungan antara frekuensi makan, metabolisme, berat badan, dan kesehatan secara keseluruhan.

Hubungan Frekuensi Makan dan Risiko Penyakit

Beberapa riset awal menunjukkan bahwa makan lebih sering dalam sehari bisa berdampak positif terhadap kadar lemak darah.

Orang yang makan lebih dari empat kali sehari cenderung memiliki HDL (kolesterol baik) lebih tinggi dan kadar trigliserida lebih rendah.

Namun, tidak ada perbedaan berarti terhadap kolesterol total atau LDL (kolesterol jahat).

Studi-studi ini bersifat observasional, sehingga belum membuktikan hubungan sebab-akibat.

Tinjauan dalam jurnal Circulation menyebutkan bahwa makan lebih sering dapat berkaitan dengan risiko diabetes dan penyakit jantung yang lebih rendah, meskipun hubungan ini masih bersifat korelatif.

 

Pengaruh Terhadap Berat Badan

Ada anggapan bahwa makan lebih sering bisa mempercepat penurunan berat badan. Namun, bukti ilmiah belum sepenuhnya mendukung hal ini.

Dalam salah satu studi, peserta yang makan tiga kali sehari dibandingkan dengan mereka yang makan enam kali dalam porsi kecil atau dengan jumlah kalori yang sama, tidak menunjukkan perbedaan signifikan dalam pembakaran energi atau penurunan lemak.

Bahkan, kelompok yang makan lebih sering justru merasa lebih lapar. Penelitian lain merekomendasikan makan lebih jarang, dengan jeda waktu sekitar 5–6 jam antara waktu makan dan menghindari camilan.

Sebagian orang bahkan menjalani puasa hingga 18–19 jam sehari. Namun, laporan USDA tahun 2020 menyatakan bahwa bukti yang ada saat ini belum cukup kuat untuk menarik kesimpulan pasti tentang hubungan frekuensi makan dan kelebihan berat badan.

Apakah Makan Sering Meningkatkan Metabolisme?

Banyak yang percaya bahwa makan lebih sering bisa meningkatkan metabolisme.

Namun faktanya, energi yang dibutuhkan untuk mencerna makanan, yang dikenal sebagai efek termik makanan (TEF), tidak terlalu dipengaruhi oleh frekuensi makan.

Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa makan lebih sedikit tapi dalam porsi lebih besar bisa menghasilkan TEF yang lebih tinggi dibandingkan dengan makan lebih sering dalam porsi kecil.

Frekuensi Makan bagi Atlet

Untuk atlet atau individu dengan aktivitas fisik tinggi, makan lebih sering dapat memberikan manfaat tertentu.

Menurut International Society of Sports Nutrition, atlet yang menjalani diet rendah kalori disarankan mengonsumsi makanan dalam porsi kecil dan frekuensi tinggi, terutama dengan asupan protein cukup, guna menjaga massa otot.

Bukti ilmiah mendukung bahwa frekuensi makan tinggi dapat meningkatkan performa, mempercepat penurunan lemak, dan memperbaiki komposisi tubuh.

Meski begitu, temuan ini tidak dapat digeneralisasikan ke masyarakat umum.

Frekuensi Makan dan Kualitas Gizi

Orang yang makan lebih sering biasanya menunjukkan pola makan yang lebih seimbang, termasuk lebih banyak konsumsi buah, sayur, produk susu rendah lemak, dan biji-bijian.

Mereka juga cenderung menghindari kelebihan gula dan garam.

Penelitian tahun 2020 menyimpulkan bahwa frekuensi makan sekitar tiga kali sehari dikaitkan dengan kualitas diet yang lebih tinggi.

Namun, ketidakkonsistenan definisi antara "makan utama" dan "camilan" bisa memengaruhi hasil studi.

Kesimpulan

Tidak ada pola makan yang cocok untuk semua orang. Pilihan frekuensi makan ideal harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan, gaya hidup, serta tujuan pribadi masing-masing individu.

Meski makan lebih sering bisa bermanfaat dalam kondisi tertentu, kualitas makanan dan keseimbangan asupan nutrisi tetap menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan dan berat badan. (mif)

Editor : Miftahul Khair
#penelitian #porsi #ahli #kesehatan #makan #frekuensi