PONTIANAK POST - Teh sudah lama menjadi salah satu minuman favorit di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Rasanya yang khas, ditambah berbagai manfaat kesehatan, membuat banyak orang menganggapnya sebagai pilihan minuman sehat yang bisa dinikmati kapan saja.
Kehadiran segelas es teh manis dingin di meja makan, baik di rumah maupun di warung, mampu memberikan sensasi segar yang bisa membuat makan terasa lebih lengkap.
Fakta di Balik Kebiasaan Minum Teh Setelah Makan
Di Indonesia, segelas kesegaran ini sering menjadi teman setia saat menyambut hidangan makanan.
Rasa manis dan kesegarannya membuat banyak orang merasa lebih puas setelah makan.
Kebiasaan menikmatinya yang belum tepat yakni setelah makan, dapat memberikan dampak kurang baik bagi kesehatan.
Hal ini disebabkan oleh kandungan tanin di dalamnya, yaitu senyawa alami yang dapat mengikat zat besi serta mineral penting lain, seperti seng, magnesium dan saluran pencernaan.
Akibatnya, tubuh kesulitan menyerap nutrisi dari makanan secara optimal.
Zat besi yang banyak terdapat pada sayuran hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian berisiko tidak terserap dengan baik.
Jika hal ini berlangsung terus-menerus, risiko anemia dapat meningkat.
Gejalanya berupa tubuh mudah lelah, lesu, dan penurunan stamina.
Baca Juga: Cara Merawat Pakaian Berwarna agar Tetap Awet dan Tidak Cepat Pudar
Selain itu, mengkonsumsi minuman dingin juga bisa memperlambat kerja sistem pencernaan karena pembuluh darah di area tersebut menyempit, sehingga penyerapan nutrisi tidak maksimal.
Menurut penelitian American Journal of Clinical Nutrition mengungkapkan bahwa minum teh bersamaan dengan makanan bisa menurunkan penyerapan zat besi hingga 62%, namun bila dikonsumsi dengan jeda sekitar satu jam setelah makan, dampaknya jauh berkurang, yakni hanya sekitar 18%.
Penelitian tersebut membuktikan bahwa jarak yang terlalu dekat dengan waktu makan bisa mengurangi manfaat gizi dari makanan yang kita konsumsi.
Meski begitu, bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Minuman ini tetap kaya manfaat bila dikonsumsi dengan cara yang tepat.
Kandungan antioksidan didalamnya mampu melawan radikal bebas, mendukung kesehatan jantung, menjaga berat badan, bahkan menurunkan risiko penyakit kronis seperti kanker.
Rahasia Aman cara minum Tanpa Mengurangi Nilai Gizi Makanan
Setelah mengetahui dampaknya terhadap penyerapan nutrisi, penting untuk lebih bijak dalam menikmatinya.
Karena selain memang penuh manfaat, seperti meningkatkan energi, membantu relaksasi, hingga melindungi tubuh dari penyakit tertentu.
Jadi bukan berarti kebiasaan tersebut harus benar-benar ditinggalkan melainkan kuncinya terletak pada cara dan waktu penggunaannya.
Dengan langkah sederhana, akan tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan gizi dari makanan.
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:
1. Atur Waktu Konsumsi
Minum teh sebaiknya tidak dilakukan tepat pada setelah makan.
Memberi jeda sekitar 1-2 jam menjadi pilihan baik dalam memberikan kesempatan bagi tubuh untuk menyerap zat gizi secara maksimal.
Baca Juga: Cuma Modal Dapur, Rebusan Daun Salam Efektif Jadi Obat Alami Tekanan Darah Tinggi
2. Mengkombinasikan dengan Sumber Vitamin C
Mengonsumsi buah atau sayuran kaya vitamin C, seperti jeruk, stroberi, atau tomat, dapat membantu tubuh menyerap zat besi lebih baik.
Kehadiran vitamin ini mampu menekan efek penghambatan tanin yang terkandung dalam teh.
3. Selektif Memilih Jenis teh
Menggunakan teh hijau (yang rasanya ringan) cocok dengan hidangan seafood atau salad.
Sedangkan teh hitam (rasanya kuat) lebih pas dengan makanan yang berat seperti daging merah atau makanan pedas.
Bisa juga menggunakan teh herbal seperti chamomile, peppermint, atau rooibos yang memiliki kandungan tanin lebih rendah dibandingkan teh hitam atau hijau.
4. Batasi Gula Tambahan
Menambahkan terlalu banyak gula, terutama pada es teh manis, bisa membawa risiko lain bagi kesehatan.
Konsumsi gula berlebih dapat memicu peningkatan berat badan dan meningkatkan kemungkinan diabetes.
Penutup
Walaupun segelas minuman berantioksidan ini terasa nikmat, terutama setelah makan.
Cara menikmatinya juga perlu ditentukan apakah akan memberi manfaat atau justru mengurangi penyerapan gizi.
Dengan sedikit penyesuaian sederhana dalam mengonsumsi tetap bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat.
Pada akhirnya, menikmati sajian ini bukan sekadar soal rasa, tetapi juga tentang menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang. (*)
Editor : Miftahul Khair