Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Benarkah Makan Jengkol Bisa Bikin Gagal Ginjal? Simak Fakta dan Mitos Djenkolism di Sini!

Syeti Agria Ningrum • Sabtu, 20 September 2025 | 14:30 WIB
Ilustrasi keluhan nyeri perut dan gangguan buang air kecil yang dapat terjadi setelah mengkonsumsi jengkol secara berlebihan.
Ilustrasi keluhan nyeri perut dan gangguan buang air kecil yang dapat terjadi setelah mengkonsumsi jengkol secara berlebihan.

PONTIANAK POST - Jengkol atau Archidendron pauciflorum adalah bahan makanan yang sudah menjadi bagian dari kuliner tradisional Indonesia.

Aromanya yang khas sering menjadi alasan orang untuk menghindarinya, namun bagi banyak orang justru menjadi daya tarik tersendiri.

Di balik popularitasnya, Si “aroma khas” Nusantara ini menyimpan reputasi yang cukup kontroversial banyak cerita di masyarakat yang menyebut dapat menyebabkan “sakit kejengkolan” yang parah, bahkan memicu gagal ginjal. 

Sebagian orang percaya bahwa setiap kali mengkonsumsinya pasti akan muncul gejala seperti nyeri pinggang, sulit buang air kecil, atau urine berdarah. Padahal, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tidak semua mitos tentang biji dengan cita rasa unik benar adanya. 

Berdasarkan laporan dalam jurnal An Unusual Cause of Acute Renal Failure yang diterbitkan melalui ScienceDirect serta artikel kasus di Bali Medical Journal, kondisi yang dikenal dengan istilah djenkolism atau keracunan asam (djenkolic acid toxicity) memang nyata, tetapi hanya muncul dalam situasi tertentu. 

Apa Itu Djenkolism atau Kejengkolan?

Djenkolism adalah kondisi medis yang terjadi akibat akumulasi kristal asam (djenkolic acid) dalam saluran kemih.

Asam ini adalah senyawa alami yang terkandung dalam biji. Dalam jumlah tertentu, terutama jika Si “aroma khas” Nusantara ini dikonsumsi berlebihan atau dalam keadaan mentah, asamnya dapat mengendap di ginjal dan saluran kemih, membentuk kristal yang menyumbat aliran urine. 

Menurut rujukan dari ScienceDirect, sumbatan ini dapat menyebabkan nyeri hebat, infeksi, bahkan gagal ginjal akut bila tidak segera ditangani.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Berdasarkan data yang dilansir dari Bali Medical Journal mencatat berbagai gejala yang mungkin timbul akibat djenkolism, di antaranya:

Gejala biasanya muncul dalam beberapa jam hingga satu hari setelah mengkonsumsinya dalam jumlah banyak, terutama bila disertai kurangnya asupan cairan.

 

 

Mitos yang Sering Beredar

1. “Semua orang pasti sakit setelah makan jengkol”

Tidak benar. Menurut laporan di Bali Medical Journal, tidak semua orang akan mengalami gejala setelah memakannya.

Reaksi tubuh tergantung pada jumlah yang dimakan, cara pengolahan, kondisi kesehatan ginjal, serta tingkat hidrasi.

2. “Minum kopi atau ramuan tradisional bisa langsung menetralkan efek jengkol”

Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim ini. Penanganan utama yang dianjurkan dalam literatur medis adalah pemberian cairan yang cukup, pemantauan fungsi ginjal, dan tindakan medis bila diperlukan.

3. “Jengkol selalu berbahaya sehingga sebaiknya tidak dimakan sama sekali”

Tidak selalu berbahaya. Dalam jumlah wajar dan bila diolah dengan benar, Biji dengan cita rasa unik dapat dinikmati tanpa menimbulkan masalah serius.

Baca Juga: Rahasia Menyimpan Pete Tahan Berbulan-bulan, Anti Busuk

Faktor Risiko

Berdasarkan temuan dari ScienceDirect, beberapa faktor yang meningkatkan risiko djenkolism antara lain:

- Konsumsi dalam jumlah berlebihan.

- Makan secara mentah atau setengah matang, karena kandungan asam lebih tinggi.

- Dehidrasi atau kurang minum air setelah mengkonsumsi jengkol.

- Riwayat penyakit ginjal atau gangguan saluran kemih.

- Usia muda, terutama anak-anak, yang lebih sensitif terhadap kristalisasi asam jengkol.

Cara Aman Menikmati dengan cita rasa unik

Untuk mengurangi risiko, ada beberapa tips yang dapat diterapkan:

- Batasi porsi: Makan secukupnya, hindari konsumsi dalam jumlah besar sekaligus.

- Perhatikan cara pengolahan: Merebus jengkol dan buang air rebusannya beberapa kali untuk mengurangi kadar asam.

- Minum cukup air: Hidrasi membantu mencegah pembentukan kristal di saluran kemih.

- Kenali kondisi tubuh: Jika Anda memiliki riwayat batu ginjal atau gangguan ginjal, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum makan jengkol.

Penanganan Jika Terjadi Djenkolism

Jika gejala seperti nyeri hebat, sulit buang air kecil, atau urine berdarah muncul setelah makan jengkol, segera cari bantuan medis.

Menurut laporan di Bali Medical Journal, pasien yang mendapatkan diagnosis cepat serta terapi cairan intravena umumnya dapat pulih tanpa kerusakan ginjal jangka panjang.

Dalam kasus yang lebih serius, diperlukan prosedur medis tambahan untuk membersihkan sumbatan pada saluran kemih. (*)

Editor : Miftahul Khair
#djenkolism #cara aman #risiko #jengkol #gejala #kejengkolan