Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jangan Paksa Tarik Kulup Penis Anak, Inilah Risiko Bahaya Fimosis

Chairunnisya • Rabu, 8 April 2026 | 20:26 WIB
Ilustrasi AI: Ibu sedang memakaikan bayinya popok.
Ilustrasi AI: Ibu sedang memakaikan bayinya popok.

PONTIANAK POST—Fimosis merupakan kondisi ketika kulit kepala penis atau kulup melekat erat sehingga tidak dapat ditarik ke belakang.

Kondisi ini sebenarnya normal terjadi pada bayi dan anak laki-laki seiring dengan perkembangan organ reproduksi mereka. Namun, jika kondisi ini menetap hingga dewasa atau disertai nyeri, hal tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang serius.

Dilansir dari Alodokter, dalam tinjauan dokter Meva Nareza T, disebutkan bahwa pada anak-anak, kulup biasanya akan mengendur dan terpisah dari kepala penis secara alami saat memasuki usia 2 hingga 6 tahun.

"Fimosis pada bayi adalah hal normal karena perkembangan kulit kepala penis yang belum sempurna. Namun, pada pria dewasa, kondisi ini sering kali dipicu oleh faktor luar seperti infeksi atau peradangan," jelasnya.

Baca Juga: Medis vs Herbal, dr Cahyono Pilih Jalan Tengah Pengobatan Holistik Terintegrasi

Penyebab Fimosis: Dari Infeksi Hingga Luka

Bagi pria dewasa, fimosis bukan lagi sekadar kondisi bawaan lahir, melainkan bisa disebabkan oleh berbagai masalah kesehatan. Peradangan atau luka pada jaringan penis dapat menyebabkan munculnya nanah atau jaringan parut yang membuat kulup kembali menempel.

Menurut Meva, ada beberapa pemicu utamanya. Yakni balanitis (peradangan pada kepala penis akibat kebersihan yang buruk), infeksi menular seksual (IMS), penyakit kulit eperti eksim, psoriasis, atau Lichen sclerosus, dan cedera luka fisik yang meninggalkan jaringan parut pada area kelamin.

Waspadai Gejala yang Mengganggu

Penderita fimosis perlu waspada jika mulai merasakan ketidaknyamanan fisik. Ada beberapa gejala yang sering dikeluhkan. Diantaranya kulup menutupi seluruh kepala penis dan terasa sangat ketat.

Area kelamin terasa sakit, bengkak, atau kemerahan. Keluar kotoran putih berbau masam (smegma) dari balik kulup.

Perubahan warna kulit kulup menjadi ungu atau cokelat tua. Kulup menggembung saat buang air kecil atau aliran urine melemah. Nyeri saat mengalami ereksi atau berhubungan seksual.

Baca Juga: Obat Kimia Tak Selalu Sembuhkan Penyakit Kronis, Ini Penjelasan Dokter

Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis?

Meskipun fimosis pada anak sering kali sembuh sendiri, Meva mengingatkan para orang tua untuk segera membawa anak ke dokter jika muncul gejala infeksi seperti demam, menggigil, atau nyeri hebat pada kulup.

"Jangan pernah menarik kulup penis anak secara paksa. Hal ini justru dapat menyebabkan cedera dan memperburuk kondisi," tegasnya.

Bagi dewasa, diagnosis biasanya dilakukan melalui pemeriksaan fisik. Jika dicurigai adanya infeksi, dokter akan menyarankan tes urine atau kultur cairan untuk memastikan penyebabnya.

Tips Perawatan dan Pengobatan

Langkah pertama untuk mencegah fimosis adalah menjaga kebersihan. Orang tua disarankan membersihkan kemaluan anak dengan air hangat dan sabun tanpa pewangi secara rutin.

Jika fimosis telah menimbulkan gejala yang mengganggu, dokter akan memberikan terapi khusus, mulai dari pemberian salep hingga prosedur medis lainnya, tergantung pada tingkat keparahan dan usia pasien.

Baca Juga: Nyeri Dada Tak Selalu karena Jantung, Ternyata Bisa GERD! Begini Penjelasan dr Tirta

Jika mengalami kesulitan buang air kecil atau nyeri yang tidak tertahankan, segera hubungi layanan kesehatan atau fasilitas gawat darurat terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat. (uni)

Editor : Chairunnisya
#kulup #fimosis #medis #infeksi #kesehatan anak