PONTIANAK POST - Banyak yang meyakini bahwa pola makan sehat dan olahraga rutin sudah cukup untuk menjauhkan diri dari stroke. Namun, fakta medis menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kualitas istirahat memegang peranan yang tak kalah krusial.
Dilansir dari Jawapos, Dokter Spesialis Neurologi Saraf dan Otak Konsultan Neurorestorasi dari Mayapada Hospital Surabaya, dr. Deby Wahyuning Hadi, SpN, Subsp NRE(K), menjelaskan bahwa faktor psikologis sering kali menjadi pintu masuk tersembunyi bagi penyakit mematikan ini.
Berikut adalah poin-poin penting yang perlu dipahami mengenai kaitan stres, gangguan tidur, dan risiko stroke:
1. Hubungan Stres dengan Peradangan Pembuluh Darah
Stres dan gangguan tidur berkontribusi pada peningkatan tekanan darah dan proses inflamasi (peradangan) sistemik. Kondisi ini memicu aterosklerosis atau penumpukan plak yang menghambat aliran darah menuju otak. Gangguan fungsi endotel (dinding pembuluh darah) membuat pembuluh darah lebih rentan pecah atau tersumbat.
2. Bahaya Fenomena "Otak Burnout"
Sama seperti otot, otak bisa mengalami kelelahan ekstrem jika dipaksa bekerja tanpa jeda akibat stres dan overthinking. Waktu pemulihan yang kurang menyebabkan keseimbangan kerja otak terganggu dan menurunkan daya tahan sistem saraf.
3. Faktor Risiko yang Dapat Dikontrol
dr. Deby membagi faktor risiko stroke menjadi dua kategori. Pertama, tidak dapat dikontrol yakni usia, jenis kelamin, dan faktor genetik. Kedua, dapat dikontrol seperti tekanan darah, kolesterol, gula darah, termasuk stres dan gangguan tidur.
Baca Juga: Burnout Bisa Terjadi Tanpa Disadari, Ini Cara Efektif Mengatasinya Agar Hidup Kembali Seimbang
4. Stres sebagai Pemicu Dua Jenis Stroke
Paparan stres emosional yang berat dapat memicu stroke iskemik, yakni terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah. Selain itu juga memicu stroke hemoragik, yakni terjadi karena pecahnya pembuluh darah akibat tekanan mental yang memengaruhi respon tubuh.
5. Bukan Gejala Awal, Melainkan Faktor Risiko
Perlu digarisbawahi bahwa insomnia dan stres bukanlah gejala langsung stroke, melainkan faktor yang memperbesar peluang terjadinya serangan jika dibiarkan dalam jangka panjang tanpa penanganan.
Baca Juga: Mengatasi Stres dan Kecemasan dalam Olahraga
6. Langkah Pencegahan dan Deteksi Dini
Bagi masyarakat yang merasa sehat fisik namun sering mengalami tekanan mental, dr. Deby menyarankan agar melakukan pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, gula darah, kekentalan darah, serta fungsi jantung secara rutin. Jangan lupa mengelola emosi dengan menjadikan manajemen stres sebagai prioritas setara dengan olahraga.
Selain itu, menjaga pola hidup seimbang. Bisa dilakukan dengan menjaga harmoni antara aktivitas fisik, kesehatan mental, dan waktu tidur yang cukup agar otak memiliki waktu untuk pulih.
Baca Juga: Bertahan meski Minim Penghargaan: Kelola Stres, Hindari Burnout di Tempat Kerja
"Yang kita kerjakan adalah menjaga keseimbangan. Hindari berpikir berlebihan hingga stres berkepanjangan, karena otak dan tubuh juga butuh waktu untuk pulih," pungkas dr. Deby. (*)
Editor : Chairunnisya