PONTIANAK POST - Banyak orang baru mulai peduli kesehatan jantung setelah muncul keluhan.
Padahal, risiko penyakit jantung dan hipertensi bisa “diam-diam” diwariskan dalam keluarga. Lalu, seberapa besar pengaruh riwayat keluarga terhadap kondisi ini?
Jawabannya cukup signifikan, tetapi bukan berarti tak bisa dicegah. Dengan langkah yang tepat, risiko tersebut tetap dapat ditekan sejak dini.
Baca Juga: 80 Persen Serangan Jantung Bisa Dicegah, dr Adam Prabata Bagikan Cara Sederhana Ini
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FASCC, dilansir dari Antara mengungkapkan bahwa faktor keturunan berperan penting dalam meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit jantung maupun hipertensi.
Individu yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan riwayat penyakit tersebut cenderung memiliki risiko lebih tinggi di masa mendatang.
“Risiko akan meningkat secara signifikan apabila anggota keluarga dekat seperti ayah, ibu, atau saudara kandung mengalami penyakit jantung pada usia dini, yaitu sebelum 55 tahun pada pria atau 65 tahun pada wanita,” kata dr. Febtusia.
Menurutnya, faktor genetik dapat memengaruhi berbagai aspek dalam tubuh, mulai dari kadar kolesterol, tekanan darah, hingga kecenderungan terbentuknya plak lemak di pembuluh darah atau aterosklerosis.
Selain itu, fungsi jantung dan pembuluh darah juga bisa dipengaruhi oleh faktor keturunan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa genetik bukan satu-satunya penentu. Pola hidup sehat tetap memiliki peran besar dalam menekan risiko penyakit tersebut.
Beberapa jenis penyakit jantung yang diketahui memiliki kaitan genetik antara lain penyakit jantung koroner akibat penumpukan kolesterol, kardiomiopati seperti hipertrofik dan dilatasi, serta aritmia yang berhubungan dengan gangguan sistem listrik jantung.
Kondisi lain yang juga berkaitan dengan faktor keturunan adalah hiperkolesterolemia familial, yakni gangguan yang menyebabkan kadar kolesterol LDL sangat tinggi sejak lahir. Kondisi ini dapat memicu penyakit jantung koroner bahkan pada usia muda.
Baca Juga: Hipertensi Mengintai Tanpa Gejala, Rutin Periksa Tekanan Darah Tekan Risiko Komplikasi
Tak hanya penyakit jantung, hipertensi atau tekanan darah tinggi juga sering ditemukan dalam riwayat keluarga. Risiko akan semakin besar jika salah satu atau kedua orang tua mengalaminya.
Faktor genetik pada hipertensi, jelasnya, dapat berkaitan dengan fungsi ginjal dalam mengatur keseimbangan natrium dan cairan, kekakuan pembuluh darah, hingga respons tubuh terhadap hormon stres.
Yang perlu diwaspadai, penyakit jantung dan hipertensi kerap berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Namun, beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain nyeri dada, sesak napas saat beraktivitas, detak jantung tidak teratur, mudah lelah, pusing, hingga pembengkakan pada area kaki atau pergelangan.
Baca Juga: Waspada Hipertensi! 3 Tips Sederhana untuk Jaga Tekanan Darah Normal
Untuk itu, individu dengan riwayat keluarga penyakit jantung disarankan menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin, setidaknya satu hingga dua kali dalam setahun. Langkah ini penting untuk mendeteksi risiko sejak dini.
Selain pemeriksaan, penerapan gaya hidup sehat juga menjadi kunci utama pencegahan. Hal ini mencakup pembatasan konsumsi garam, lemak jenuh, dan gula berlebih, serta memperbanyak asupan sayur, buah, ikan, dan biji-bijian. Aktivitas fisik juga perlu dijaga, minimal 30 menit per hari sebanyak lima kali dalam seminggu.
Kebiasaan lain yang tak kalah penting adalah menghindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan, menjaga berat badan ideal, serta mengelola stres dengan baik.
Pemeriksaan penunjang seperti pengukuran tekanan darah, tes kolesterol, gula darah, EKG, ekokardiografi, hingga CT calcium score atau MSCT jantung juga dianjurkan, terutama bagi kelompok berisiko.
“Konsultasi dengan dokter spesialis jantung diperlukan untuk menentukan jenis pemeriksaan yang paling sesuai dengan kondisi pasien,” ujarnya.
Pada akhirnya, mengenali riwayat kesehatan keluarga sejak awal menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan.
Dengan kesadaran dan tindakan yang tepat, risiko komplikasi serius seperti serangan jantung dan stroke dapat diminimalkan. (*)
Editor : Miftahul Khair