PONTIANAK POST - Nyeri sendi kerap muncul seiring bertambahnya usia, terutama pada bagian lutut yang sangat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berdiri dan berjalan.
Kondisi ini dikenal sebagai osteoartritis (OA), yaitu gangguan pada sendi akibat menipis dan rusaknya tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan antar tulang.
Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Apt. Mangestuti Agil, MS, menjelaskan bahwa proses penuaan membuat kemampuan tubuh memperbaiki tulang rawan semakin menurun.
Struktur kolagen berubah, massa otot berkurang, dan peradangan ringan meningkat.
“Pada wanita, risiko osteoartritis meningkat signifikan saat menopause. Penurunan hormon estrogen berpengaruh pada metabolisme tulang rawan, peningkatan peradangan, serta menurunnya kepadatan tulang,” jelasnya, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Boswellia dan Devil’s Claw Bantu Redakan Gejala Osteoartritis Secara Alami
Kerusakan tulang rawan menyebabkan pergerakan antar tulang menjadi tidak mulus. Gejalanya dapat berupa bunyi “krek” saat sendi digerakkan, disertai nyeri dan kekakuan.
Selain faktor usia, osteoartritis juga dipicu oleh penggunaan sendi dalam jangka panjang, obesitas, serta riwayat cedera. Sendi yang paling sering terdampak adalah lutut, pinggul, jari tangan, dan tulang belakang.
Perubahan Gaya Hidup Jadi Kunci
Penanganan osteoartritis jangka panjang tidak hanya bergantung pada obat, tetapi juga perubahan gaya hidup.
Olahraga teratur dengan gerakan yang tepat sangat penting untuk meningkatkan sirkulasi cairan sendi, memperkuat otot pelindung, serta mengurangi peradangan.
Baca Juga: Lidah Buaya hingga Kamomila, Herbal Efektif Redakan Gejala GERD Ringan
Selain itu, menjaga berat badan ideal dan memperbaiki postur tubuh menjadi langkah penting dalam melindungi sendi dari kerusakan lebih lanjut.
Obat Hanya Redakan Gejala
Penggunaan obat pada OA umumnya hanya bertujuan meredakan nyeri dan peradangan, bukan menyembuhkan atau memperbaiki tulang rawan.
Konsumsi obat jangka panjang juga berpotensi menimbulkan efek samping, seperti gangguan fungsi hati dan ginjal.
Karena itu, banyak masyarakat mulai melirik pengobatan herbal sebagai pendamping terapi.
Peran Herbal dalam Mengatasi Nyeri Sendi
Sejumlah tanaman herbal seperti kunyit, jahe, temulawak, dan pegagan telah lama digunakan secara tradisional untuk membantu meredakan gejala osteoartritis.
Baca Juga: Daftar Bahan Herbal Alami Pencegah Kerusakan Kulit Akibat Sinar Matahari
Menurut Prof. Mangestuti, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa herbal dapat membantu mengurangi kekambuhan, meredakan kekakuan sendi, serta menurunkan kebutuhan obat antinyeri.
Namun, herbal tidak mampu memperbaiki kerusakan tulang rawan dan efeknya cenderung bekerja lebih lambat.
Kunyit, misalnya, mengandung kurkumin yang memiliki efek antiinflamasi dan pereda nyeri. Studi menunjukkan bahwa manfaatnya dapat sebanding dengan obat antinyeri, tetapi dengan efek samping yang lebih ringan.
“Penggunaan kunyit dapat membantu menurunkan dosis obat antiradang. Rekomendasi dosis kurkumin untuk osteoartritis adalah 500 mg dua kali sehari,” ujarnya.
Baca Juga: 4 Resep Minuman Herbal Ampuh Tingkatkan Imunitas Tubuh Alami Saat Musim Hujan
Sementara itu, jahe juga dikenal luas dalam pengobatan tradisional Asia. Selain memberikan efek hangat, jahe terbukti membantu mengurangi nyeri, kekakuan, dan peradangan ringan pada sendi.
Analisis ilmiah menunjukkan bahwa jahe memiliki efek yang lebih baik dibandingkan kontrol dalam mengurangi nyeri dan disabilitas akibat osteoartritis.
Dosis yang dianjurkan berkisar 250 mg, tiga hingga empat kali sehari, dengan batas maksimal 4.000 mg per hari.
Terapi Pendamping, Bukan Pengganti
Meski menjanjikan, penggunaan herbal tetap harus diposisikan sebagai terapi pendamping, bukan pengganti pengobatan utama.
Pengelolaan osteoartritis yang optimal tetap memerlukan kombinasi antara perubahan gaya hidup, terapi medis, dan pendekatan alami yang tepat. (*)
Editor : Chairunnisya