PONTIANAK POST - Santan kelapa sudah lama jadi andalan dalam berbagai masakan Nusantara. Rasanya gurih, teksturnya creamy, dan bikin hidangan jadi makin menggugah selera.
Namun belakangan, santan kerap dihindari karena dianggap kurang sehat. Benarkah demikian?
Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, menjelaskan bahwa persepsi tersebut perlu dilihat lebih bijak.
Ia mengulas bagaimana santan justru mulai dilirik sebagai alternatif pengganti susu hewani, meski masih membutuhkan kajian lebih lanjut.
Baca Juga: Tips Membuat Stok Santan Tahan Lama dan Tidak Mudah Basi, Awet Hingga Lebaran!
Menurut hasil ulasan peneliti Malaysia (2025), santan memiliki kandungan lemak sekitar 70 persen yang tersusun atas medium chain saturated fat atau asam lemak jenuh rantai sedang.
Jenis lemak ini dinilai memiliki manfaat bagi tubuh, termasuk untuk kesehatan pembuluh darah vaskuler.
Namun, seperti bahan alami lainnya, konsumsi santan tetap harus dalam batas wajar dan tidak melalui proses pengolahan berlebihan.
Selain itu, santan memiliki keunggulan sebagai alternatif susu hewani. Salah satunya, tidak mengandung laktosa yang dapat menyebabkan lactose intolerance.
Baca Juga: Rahasia Memasak Santan Sehat Tanpa Harus Khawatir dengan Risiko Kolesterol Jahat
Kandungan gulanya pun relatif rendah, sehingga menjadi pilihan bagi sebagian orang yang sensitif terhadap gula dalam susu.
Tak hanya itu, santan juga mengandung serat, baik yang larut maupun tidak larut dalam air.
Kandungan ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan bakteri baik di usus sekaligus membantu kelancaran sistem pencernaan, termasuk proses buang air besar.
Meski begitu, santan tidak sepenuhnya bisa menggantikan peran susu hewani. Susu dikenal sebagai sumber asam amino yang penting bagi tubuh. (*)
Baca Juga: Solusi Mudah Kendala Masakan: Santan Pecah, Terlalu Asin, hingga Cepat Basi
Santan memang mengandung asam amino esensial, tetapi jumlahnya tidak setinggi yang terdapat pada susu hewani.
Karena itu, kunci utama dalam mengonsumsi santan adalah bijak dalam pengolahan dan porsinya. Dengan cara yang tepat, santan tetap bisa menjadi bagian dari pola makan sehat tanpa perlu khawatir berlebihan.
Editor : Chairunnisya