PONTIANAK POST - Banyak orang menganggap kurang tidur hanya membuat tubuh terasa lelah keesokan harinya.
Tanpa disadari, dampaknya bisa lebih jauh dari sekadar rasa mengantuk. Salah satunya adalah meningkatnya nafsu makan yang dapat memicu kenaikan berat badan hingga risiko obesitas.
Bagaimana kurang tidur bisa memengaruhi tubuh? Jawabannya berkaitan erat dengan hormon dan kualitas pemulihan tubuh saat beristirahat.
Baca Juga: Manfaat Teh Kamomila dan Rooibos sebagai Solusi Alami Mengatasi Gangguan Tidur
Dokter spesialis neurologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI RSCM), Astri Budikayanti, menjelaskan bahwa kurang tidur dapat mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar.
Kurang Tidur Bikin Nafsu Makan Naik
Menurut Astri, saat tubuh tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup, kebutuhan energi meningkat. Kondisi ini memicu hormon pemicu rasa lapar menjadi lebih aktif, sehingga seseorang cenderung ingin makan lebih sering.
“Ketika kita kurang tidur, tubuh membutuhkan energi lebih. Akibatnya hormon yang memicu rasa lapar meningkat, sehingga kita jadi ingin makan terus,” katanya dilansir dari Antara.
Baca Juga: Bukan Sekadar Salah Tidur, Nyeri Leher Menjalar Bisa Berujung Kelumpuhan!
Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, berat badan bisa meningkat dan risiko obesitas pun menjadi lebih besar.
Karena itu, menjaga durasi tidur yang cukup tidak kalah penting dibanding mengatur pola makan dan rutin berolahraga. Tidur yang berkualitas membantu tubuh tetap seimbang, termasuk dalam mengontrol berat badan.
Menurut Astri, orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur minimal enam jam setiap malam. Namun, durasi ideal yang dianjurkan berada pada kisaran tujuh hingga delapan jam.
Fase Tidur Pengaruhi Kualitas Hidup
Astri juga menjelaskan bahwa kualitas tidur tidak hanya ditentukan oleh lamanya tidur, tetapi juga oleh fase-fase tidur yang berlangsung sepanjang malam.
Pada paruh pertama malam, tubuh biasanya memasuki fase tidur dalam atau deep sleep. Fase ini berfungsi untuk memulihkan otak setelah menjalani aktivitas sepanjang hari.
Sementara itu, pada paruh kedua malam, tubuh lebih banyak masuk ke fase Rapid Eye Movement (REM), yang berperan penting dalam pemulihan memori dan fungsi kognitif.
Baca Juga: Kenapa Overthinking Muncul Saat Mau Tidur? Psikolog Jelaskan Penyebab dan Cara Mengatasinya
Gangguan pada fase tidur dapat membuat seseorang bangun dalam kondisi tidak segar, meski merasa sudah tidur cukup lama.
“Kalau fase tidur ini terganggu, seseorang bisa bangun dalam keadaan tidak segar atau bahkan merasa seperti belum tidur,” ujarnya.
Tak hanya itu, kualitas tidur yang buruk juga dapat memengaruhi kemampuan berpikir, konsentrasi, dan daya ingat sehari-hari.
Baca Juga: Benarkah Perempuan Tidur Lebih Lama dari Laki-laki? Ini Fakta Ilmiahnya Menurut Penelitian
Hindari Kebiasaan yang Merusak Pola Tidur
Untuk menjaga kualitas tidur tetap baik, Astri mengimbau masyarakat agar memiliki jadwal tidur yang konsisten. Kebiasaan begadang sebaiknya dihindari, begitu pula penggunaan perangkat elektronik secara berlebihan sebelum tidur.
Paparan layar gadget yang terlalu lama pada malam hari dapat mengganggu proses tubuh untuk beristirahat secara optimal.
Tidur Bukan Sekadar Istirahat
Tidur yang cukup bukan hanya soal menghilangkan rasa lelah, tetapi juga bagian penting dari menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Dari mengontrol nafsu makan hingga menjaga fungsi otak, kualitas tidur memiliki peran besar dalam kehidupan sehari-hari. (*)
Editor : Miftahul Khair