PONTIANAK POST - Stroke bukan hanya soal penanganan saat serangan pertama terjadi. Setelah melewati fase pemulihan, tantangan berikutnya yang tak kalah penting adalah mencegah stroke datang kembali.
Banyak penyintas merasa kondisi sudah membaik lalu mulai longgar dalam menjaga pola hidup. Padahal, tanpa pengendalian yang tepat, risiko berulang tetap tinggi dan bisa berdampak lebih serius.
Karena itu, menjaga pola makan sehat menjadi salah satu langkah utama yang perlu dilakukan setiap hari.
Baca Juga: Deteksi Dini Jadi Kunci: Kenali Gejala Stroke, Jangan Tunggu Sampai Terlambat
Pola Makan Sehat Jadi Kunci Pencegahan
Ahli gizi dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof Dr dr Mahar Mardjono (RSPON), Anggita Marlida Septiani S Gz, mengingatkan bahwa penyintas stroke harus menjaga pola makan agar tidak mengalami serangan berulang.
"Orang yang sebelumnya sudah stroke, bisa berulang. Makanya kita menjaga untuk mengontrol tensi tetap normal, gula darah terkontrol, profil lipid tetap terkontrol jadi itu yang terpenting," kata Anggita dilansir dari Antara.
Menurutnya, salah satu cara paling efektif untuk mencegah stroke berulang adalah dengan mengendalikan faktor risiko, termasuk melalui pengaturan asupan makanan sehari-hari.
Baca Juga: Jangan Tunggu Lumpuh! Ingat 3T, Penanganan Pertama Saat Serangan Stroke Menurut Dokter
Kontrol Gula dan Lemak
Anggita menjelaskan, pola makan sehat bukan berarti seseorang harus berhenti total mengonsumsi gula, garam, atau lemak.
Yang lebih penting adalah menjaga jumlahnya tetap dalam batas normal dan tidak berlebihan.
"Bukan berarti tidak boleh pakai garam, tidak boleh pakai gula, tapi dalam batas normal," ujarnya.
Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan lebih mudah dijalani dalam jangka panjang dibanding pola makan yang terlalu ketat.
Hindari Fast Food dan Makanan Tinggi Pengawet
Selain mengontrol gula dan lemak, penyintas stroke juga disarankan mengurangi konsumsi makanan cepat saji, makanan berpengawet, serta minuman kekinian yang umumnya tinggi gula dan lemak.
Sebagai gantinya, Anggita menyarankan masyarakat memilih makanan yang minim proses atau real food, seperti daging yang dimasak tanpa bahan pengawet maupun tambahan penyedap buatan.
Pola makan seperti ini dinilai lebih aman untuk menjaga kesehatan pembuluh darah dan menurunkan risiko serangan ulang.
"Kita harus punya mindset bahwa makan itu bukan hanya untuk kenikmatan dalam mulut tapi juga kebutuhan untuk tubuh kita," imbuhnya.
Sebagian Besar Kasus Stroke Sebenarnya Bisa Dicegah
Masih dilansir dari Antara, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Yudhi Pramono, menyebut bahwa sebagian besar kasus stroke sebenarnya dapat dicegah.
Menurutnya, sekitar 90 persen kasus stroke bisa dihindari jika faktor risiko berhasil dikendalikan dengan baik.
"Sebenarnya 90 persen kejadian stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risikonya seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dislipidemia, gangguan jantung, merokok, kurang aktivitas fisik, diet tidak sehat, stres, dan konsumsi alkohol," kata Yudhi.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup memiliki peran besar dalam menurunkan angka kejadian stroke di Indonesia.
Baca Juga: Waspada Sering Overthinking dan Kurang Tidur Ternyata Bisa Picu Risiko Stroke
Skrining Kesehatan Rutin Perlu Dilakukan
Sebagai langkah pencegahan, Kementerian Kesehatan juga mendorong masyarakat untuk rutin melakukan skrining kesehatan, termasuk saat hari ulang tahun masing-masing penduduk.
Pemeriksaan ini mencakup pengecekan kolesterol dan profil lipid yang penting untuk mendeteksi risiko stroke lebih awal.
"Di dalamnya ada skrining baik kolesterol kemudian profil lipid yang nanti juga untuk mengantisipasi terjadinya stroke," katanya.
Dengan pola makan sehat, kontrol rutin, dan gaya hidup yang lebih seimbang, risiko stroke berulang bisa ditekan secara signifikan. (*)
Editor : Miftahul Khair