PONTIANAK POST - Kebiasaan makan sering kali dilakukan tanpa disadari, termasuk soal kecepatan mengunyah makanan.
Padahal, cara sederhana ini bisa berdampak besar terhadap kesehatan tubuh jika dilakukan secara terburu-buru.
Dokter spesialis gizi klinik RS Unair, dr Kurnia Sitompul SpGK, menjelaskan bahwa makan terlalu cepat dapat menimbulkan berbagai dampak bagi tubuh, terutama pada sistem pencernaan.
Baca Juga: Mindful Eating Jadi Solusi Atasi Kebiasaan Makan Sambil Bermain Ponsel
Kurnia mengatakan ada beberapa dampak dari mengunyah makanan dengan cepat.
1. Sebabkan aerofagia
Ini adalah kondisi tubuh menelan udara berlebihan dan terus-menerus.
"Saat tidak fokus, orang biasanya mengunyah terlalu cepat. Hal ini menyebabkan udara ikut banyak tertelan. Udara yang masuk berlebihan inilah yang kemudian memicu rasa kembung dan tidak nyaman," lanjutnya.
Baca Juga: Ternyata Makan Sambil Bermain Ponsel Bisa Sebabkan Mindless Eating Tanpa Disadari
2. Picu kembung
Kebiasaan makan cepat membuat tubuh tidak fokus saat mengunyah.Kondisi ini menyebabkan udara lebih banyak masuk ke dalam sistem pencernaan dan memicu gangguan seperti kembung.
3. Memunculkan gas berlebih di usus
Mengunyah makanan dengan cepat juga memaksa organ saluran cerna bekerja lebih keras. Ini yang memunculkan gas berlebih pada usus.
Selain itu, tubuh belum sempat menerima sinyal kenyang sehingga kita terus menambah porsi.
Baca Juga: Ahli Gizi Ingatkan Jaga Pola Makan Sehat, Cegah Risiko Serangan Stroke Berulang
Menurut Kurnia, kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, terutama mereka yang terbiasa makan terburu-buru atau tidak fokus saat makan.
Kebiasaan ini umumnya terjadi dalam aktivitas makan sehari-hari, baik di rumah, tempat kerja, maupun saat beraktivitas lain yang membuat perhatian terpecah.
Lebih lanjut, Kurnia menegaskan bahwa kebiasaan ini tidak boleh dianggap sepele.
Jika berlangsung terus-menerus, asupan kalori menjadi berlebihan dan berisiko memicu masalah kesehatan seperti obesitas dan sindrom metabolik.
"Beberapa studi memang menunjukkan kaitan makan terlalu cepat dengan peningkatan risiko obesitas meski penelitian lanjutan masih diperlukan," katanya. (*)