Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Deteksi Dini Jadi Kunci Penanganan Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi

Idil Aqsa Akbary • Rabu, 13 Mei 2026 | 08:19 WIB
ilustrasi penyakit jantung. (IST)
ilustrasi penyakit jantung. (IST)

PONTIANAK POST - Penyakit jantung bawaan masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang cukup serius. Selain banyak kasus yang tidak diketahui penyebabnya, deteksi dini juga menjadi kunci penting untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien, khususnya bayi.

Hal itu disampaikan dokter spesialis jantung dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Radityo Prakoso, saat kegiatan proctorship bersama RSUD Soedarso belum lama ini.

Radityo menjelaskan, sekitar 80 persen kasus penyakit jantung bawaan tidak diketahui penyebab pastinya. Sementara 20 persen lainnya berkaitan dengan faktor tertentu, seperti sindrom genetik, paparan bahan kimia, bahan tambang, hingga konsumsi antibiotik.

“Terutama pada trimester pertama kehamilan. Dalam 30 hari pertama setelah konsepsi, saat ibu belum menyadari kehamilan, pembentukan jantung janin sebenarnya sudah selesai,” ujarnya.

Baca Juga: Dinkes Pontianak Instruksikan Fasyankes Siaga Kasus Hantavirus

Ia menambahkan, faktor risiko pada masa awal kehamilan tersebut sangat berpengaruh terhadap pembentukan organ jantung. Hal ini pula yang membuat sebagian besar kasus sulit ditelusuri penyebabnya. 

“Jadi susah sekali men-trace dari penyakit jantung bawaan, sehingga 80 persen kita tidak ketahui sebabnya,” katanya.

Sementara itu, dokter spesialis jantung RSUD Soedarso, Anindia Wardani menambahkan, deteksi penyakit jantung bawaan dapat dilakukan sejak dalam kandungan. Yakni melalui pemeriksaan USG jantung janin atau fetal echocardiography.

Namun, keterbatasan alat menjadi salah satu kendala. Saat ini pemeriksaan lebih lanjut biasanya dilakukan berdasarkan rujukan dari dokter spesialis kandungan. 

“Kami pernah menemukan satu kasus yang dicurigai sebagai ebstein anomaly. Diagnosis sudah bisa ditegakkan sejak usia kehamilan 28 minggu melalui pemeriksaan echocardiography,” jelasnya.

Baca Juga: WHO Identifikasi 11 Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, Tiga Penumpang Dilaporkan Meninggal Dunia

Menurutnya, deteksi dini sangat penting terutama untuk kasus jantung bawaan kritis. Bayi dengan kondisi tersebut bisa lahir dalam keadaan membiru, dan membutuhkan penanganan cepat untuk mencegah risiko kematian. “Minimal sebelum persalinan kita sudah tahu harus melahirkan di mana, dan apa yang perlu dipersiapkan. Jadi tidak kaget saat bayi lahir,” tambahnya.

Di sisi lain, Direktur RSUD Soedarso, Hary Agung Tjahyadi mengungkapkan, kasus jantung bawaan di Kalimantan Barat (Kalbar) tergolong cukup tinggi. Dalam kurun Agustus 2025 hingga Mei 2026 atau sekitar 10 bulan terakhir, tercatat sekitar 800 kasus rujukan. 

“Rata-rata setiap minggu ada enam sampai tujuh pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit vertikal di luar Kalbar,” ungkapnya.

Dengan tingginya angka tersebut, RSUD Soedarso kini sudah mulai bisa melakukan tindakan penanganan penyakit jantung bawaan untuk kasus-kasus ringan. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan rujukan ke luar daerah. 

“Dengan layanan yang lebih dekat, masyarakat tidak perlu lagi menanggung biaya tambahan untuk berobat ke luar Kalbar,” katanya.

Baca Juga: Sekda Kalbar Apresiasi Dedikasi Nuryamin Pimpin BKKBN Sebelum Pindah Tugas

Ia juga menambahkan bahwa penanganan penyakit jantung bawaan di rumah sakit pemerintah telah ditanggung oleh BPJS Kesehatan, sehingga diharapkan akses layanan kesehatan menjadi lebih mudah, dan terjangkau bagi masyarakat.

“Mudah-mudahan dengan mendekatkan akses layanan ini di RSUD Soedarso masyarakat Kalbar lebih mudah, dan mengurangi pembiayaan-pembiayaan dalam pengobatan ini. Apalagi tindakan-tindakan ini di seluruh rumah sakit pemerintah, sudah ditanggung oleh BPJS Kesehatan,” terangnya.(bar)

Editor : Hanif
#risiko kematian #penyakit jantung #keselamatan #deteksi dini #RSUD Soedarso