PONTIANAK POST - Banyak pasangan muda sering merasa bingung saat memilih alat kontrasepsi.
Keputusan ini bukan sekadar soal menunda kehamilan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan ibu, rencana jumlah anak, hingga kenyamanan penggunaan dalam jangka panjang.
Menurut Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RSUA, Dr dr Budi Prasetyo SpOG(K), ada dua hal utama yang perlu diperhatikan sebelum menentukan metode KB, yakni tujuan penggunaan dan kondisi medis calon akseptor.
’’Apakah ingin menunda kehamilan sementara, menjarangkan, atau sudah tidak ingin menambah anak sama sekali? Itu harus jelas. Selain itu, kondisi medis juga penting diperhatikan. Kelayakan medis dari calon akseptor menjadi dasar pemilihan metode kontrasepsi,’’ jelasnya, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Memilih Alat Kontrasepsi Sesuai Usia, Kondisi, Risiko, hingga Program Hamil
Usia juga menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan kontrasepsi. Perempuan berusia di bawah 30 tahun bisa memiliki kebutuhan berbeda dibanding perempuan usia di atas 35 tahun.
Karena itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan dinilai penting agar pasangan mendapatkan metode yang sesuai kebutuhan. Menurut Budi, kontrasepsi tidak hanya berkaitan dengan pencegahan kehamilan.
’’Kontrasepsi bukan hanya soal mencegah kehamilan, tapi juga berkaitan dengan kondisi kesehatan, usia reproduksi, rencana kehamilan, dan kenyamanan. Tenaga medis dapat membantu memberikan pilihan sesuai kebutuhan masing-masing,’’ ucap Budi.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih! Inilah Cara Mengukur Kondom agar Hubungan Nyaman
Dia pun mengingatkan setiap pasangan memiliki kondisi berbeda sehingga pemilihan kontrasepsi tidak bisa disamakan.
’’Memilih kontrasepsi yang sesuai sangat penting. Sebab, setiap pasangan memiliki kondisi kesehatan, rencana jumlah anak, dan tingkat kenyamanan yang berbeda. Konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menentukan metode ber-KB,’’ ucapnya. (*)
Editor : Chairunnisya