Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Atrial Fibrilasi Jadi Pemicu Utama Stroke Iskemik, Dokter Ingatkan Penanganan Cepat Kurangi Risiko Kecacatan Fatal

Basilius Andreas Gas • Kamis, 14 Mei 2026 | 12:35 WIB
Dokter spesialis neurologi lulusan Universitas Indonesia dr. Andre Sp.N dalam diskusi mengenai stroke di Jakarta, Selasa (12/5) (ANTARA/Fitra Ashari)
Dokter spesialis neurologi lulusan Universitas Indonesia dr. Andre Sp.N dalam diskusi mengenai stroke di Jakarta, Selasa (12/5) (ANTARA/Fitra Ashari)

PONTIANAK POST- Dokter spesialis neurologi lulusan Universitas Indonesia, dr Andre Sp.N, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai atrial fibrilasi (AF) atau gangguan irama jantung tidak teratur yang menjadi salah satu pemicu utama stroke iskemik akibat penyumbatan pembuluh darah di otak.

“Atrial fibrilasi denyut jantungnya gak teratur sehingga terbentuk bekuan darah, turbulen terperangkap di jantung sehingga suatu saat dia bisa lepas masuk ke otak jadilah stroke,” kata Andre dalam diskusi mengenai stroke di Jakarta, Selasa.

Menurut Andre, stroke dapat muncul secara mendadak dan berpotensi menyebabkan kecacatan permanen hingga kematian, terutama jika tidak segera mendapatkan penanganan medis. Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah yang membawa nutrisi dan oksigen menuju otak terhambat akibat adanya sumbatan.

Ia menjelaskan, gangguan irama jantung pada penderita atrial fibrilasi dapat memicu terbentuknya gumpalan darah di jantung. Gumpalan tersebut sewaktu-waktu dapat terlepas dan mengalir menuju pembuluh darah otak sehingga memicu stroke akut.

Andre menuturkan stroke yang dipicu atrial fibrilasi umumnya memiliki dampak lebih berat dibandingkan jenis stroke lain karena dapat menimbulkan gejala sisa berupa kecacatan serius bahkan berujung kematian.

Ia menambahkan, penanganan stroke sumbatan harus dilakukan secepat mungkin, idealnya kurang dari 4,5 jam sejak gejala muncul. Dalam periode tersebut pasien masih berpeluang mendapatkan terapi trombolisis untuk menghancurkan sumbatan pembuluh darah dan mengurangi risiko kecacatan.

“Jadi tidak ada lagi istilahnya kalau stroke, dibiarin aja dulu mungkin itu kemasukan, mungkin itu kena angin duduk, dibiarin aja dulu sembuh sendiri, jangan! Segera ke rumah sakit,” kata Andre menegaskan.

Selain penanganan cepat, pencegahan stroke juga perlu dilakukan dengan mengendalikan faktor risiko melalui pola hidup sehat. Andre menyarankan masyarakat rutin mengontrol tekanan darah dan kadar kolesterol, menjaga berat badan ideal, berolahraga ringan sedikitnya lima kali dalam sepekan selama 30 menit, serta mengonsumsi makanan sehat.

Dokter RS Pondok Indah itu juga mengimbau masyarakat menghentikan kebiasaan merokok dan melakukan deteksi dini terhadap risiko atrial fibrilasi maupun penyakit jantung.

Sementara itu, sejumlah faktor risiko stroke yang tidak dapat diubah antara lain usia di atas 55 tahun, ras tertentu, jenis kelamin, serta riwayat stroke dalam keluarga. Perempuan disebut memiliki risiko lebih rendah sebelum menopause, sedangkan pria cenderung lebih rentan akibat riwayat hipertensi. (ant)

 

Editor : Basilius Andreas Gas
#atrial fibrilasi #stroke iskemik #kecacatan #jantung