PONTIANAK POST - Popularitas jagung ungu ikut memunculkan pertanyaan mengenai jenis benih yang digunakan.
Banyak orang mengira benih hibrida sama dengan genetically modified organism (GMO), padahal keduanya berbeda.
Penghobi tanaman Lia Wiji Rahayu menjelaskan bahwa benih hibrida berasal dari penyerbukan silang alami antar dua galur murni.
Hasilnya adalah tanaman yang lebih unggul dan tahan terhadap hama maupun penyakit.
Baca Juga: Cara Menanam Jagung Ungu di Polybag agar Tumbuh Subur
’’Benih hibrida itu hasil penyilangan dua galur murni. Jadi menghasilkan tanaman yang unggul dan kuat,’’ tutur Lia, dikutip dari Jawapos.
Dia menegaskan bahwa benih hibrida bukanlah GMO. Benih GMO merupakan benih yang telah mengalami perubahan materi genetik melalui rekayasa genetika di laboratorium.
’’Benih hibrida berasal dari penyerbukan silang alami. Sedangkan GMO hasil rekayasa genetika di la bora torium,’’ tegasnya.
Baca Juga: Simsalabim, Polisi Sulap Kawasan Tambang Emas Ilegal Jadi Kebun Jagung
Meski demikian, terdapat perbedaan dalam penggunaan ulang benih. Benih hibrida umumnya hanya digunakan untuk satu kali tanam karena karakter turunannya tidak sama dengan induk.
Sementara itu, benih galur murni masih dapat ditanam kembali untuk generasi berikutnya.
Bagi pemula yang ingin mencoba menanam jagung ungu, Lia tetap merekomendasikan benih hibrida karena lebih praktis dan memiliki daya tahan lebih baik terhadap serangan hama. (*)
Editor : Chairunnisya