PONTIANAK POST - Kepala Divisi Pediatrik Oftalmologi dan Strabismus Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK Unair, dr Rozalina Loebis SpM(K) menegaskan bahwa akar utama strabismus atau mata juling jarang berasal dari kebiasaan menatap layar saja.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan gangguan yang kompleks.
Mata juling dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, gangguan perkembangan penglihatan di otak, kelumpuhan saraf mata, hingga faktor genetik.
Baca Juga: Kebiasaan Main HP Sambil Rebahan Bisa Memicu Mata Juling Tersembunyi
’’Dalam konteks ini, HP lebih tepat disebut faktor pencetus, bukan satu-satunya sumber masalah,’’ jelasnya, dilansir dari Jawapos.
Rozalina juga mengingatkan bahwa anak yang sejak awal memiliki gangguan keseimbangan otot mata atau kelainan refraksi lebih rentan mengalami perburukan kondisi akibat kebiasaan buruk menggunakan gawai.
’’Pada anak yang sudah memiliki masalah keseimbangan otot mata atau kelainan refraksi, kebiasaan buruk ini bisa memperburuk kekompakan kerja kedua mata dan memperparah ambliopia (mata malas),’’ paparnya.
Karena itu, penggunaan gawai sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan dan tetap memperhatikan posisi tubuh yang benar agar mata tidak bekerja terlalu berat. (*)
Editor : Chairunnisya