PONTIANAK POST - Dalam pengendalian Ebola, deteksi dini menjadi faktor yang sangat penting.
Semakin cepat kasus dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan perawatan yang tepat sekaligus mencegah penyebaran virus.
Dosen Epidemiologi FKM Unair, Laura Navika Yamani SSi MSi PhD, menegaskan bahwa pengalaman berbagai wabah menunjukkan pentingnya identifikasi kasus sejak awal.
Baca Juga: Ini Penjelasan Ahli Epidemiologi tentang Cara Penyebaran Virus Ebola pada Manusia
"Pengalaman dari berbagai wabah menunjukkan bahwa identifikasi kasus secara cepat, isolasi pasien, dan pelacakan kontak yang efektif mampu memutus rantai penularan," katanya, dikutip dari Jawapos.
Kelompok yang Paling Berisiko
Menurut Laura, kelompok yang paling berisiko tertular Ebola adalah mereka yang memiliki kontak langsung dengan pasien.
Baca Juga: Demam Tak Selalu Flu, Waspadai Gejala yang Menyerupai Ebola
Kelompok tersebut meliputi tenaga kesehatan, anggota keluarga yang merawat penderita, petugas laboratorium, hingga petugas yang menangani pemulasaraan jenazah.
"Karena itu, penggunaan alat pelindung diri dan penerapan prosedur pengendalian infeksi menjadi sangat penting," paparnya.
Kewaspadaan Tetap Perlu Dijaga
Laura juga menjelaskan bahwa sebagian besar wabah Ebola terjadi di negara-negara Afrika.
Baca Juga: Ini Alasan Ebola Memiliki Risiko Kematian Jauh Lebih Tinggi
Beberapa spesies virus Ebola secara alami beredar pada satwa liar di kawasan tersebut, terutama kelelawar buah yang diduga menjadi reservoir alami virus.
"Interaksi manusia dengan satwa liar, perubahan lingkungan, aktivitas perburuan, serta konsumsi satwa liar dapat meningkatkan risiko penularan dari hewan ke manusia. Selain itu, keterbatasan akses layanan kesehatan dan sistem surveilans di beberapa wilayah juga dapat memperlambat deteksi kasus sehingga wabah lebih mudah berkembang," terangnya.
Meski hingga kini belum ditemukan kasus Ebola di Indonesia, kewaspadaan tetap diperlukan.
"Ebola mengingatkan bahwa ancaman penyakit tidak hanya ditentukan oleh jumlah kasus, tetapi juga oleh tingkat keparahan dan dampaknya. Karena itu, deteksi dini, penguatan sistem kesehatan, dan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, serta lingkungan menjadi kunci menghadapi penyakit emerging di masa depan," ucapnya. (*)
Editor : Chairunnisya