PONTIANAK POST - Campak sering dianggap sebagai penyakit yang dapat sembuh sendiri. Meski demikian, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena memiliki tingkat penularan tinggi dan dapat memicu komplikasi serius.
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, mengingatkan bahwa campak bukan sekadar penyakit yang ditandai munculnya bercak merah pada kulit.
Penularan Sangat Mudah Terjadi
Campak dapat menular melalui percikan air ludah dari orang yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi sejak empat hari sebelum muncul bercak merah hingga empat hari setelah bercak menyebar merata.
Baca Juga: Ternyata Jahe, Madu, dan Lemon Dapat Membantu Meredakan Gejala Campak
Virus bahkan masih dapat bertahan di udara selama beberapa jam.
Risiko Komplikasi Serius
Komplikasi yang perlu diantisipasi antara lain pneumonia yang berpotensi menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak. Selain itu, campak juga dapat menimbulkan ensefalitis yang dapat menyebabkan kerusakan saraf, kejang, hingga kematian.
Baca Juga: Ini Peran Vitamin A dalam Pemulihan Pasien Campak
Pada ibu hamil, infeksi campak berisiko menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, atau bayi lahir dengan berat badan rendah.
Perlu Istirahat dan Dukungan Imunitas
Seperti infeksi virus lainnya, campak umumnya dapat sembuh dalam waktu sekitar dua hingga tiga minggu.
Baca Juga: Ini Alasan Mengapa Daun Kelor Disebut Superfood Sumber Vitamin A
Karena belum ada obat spesifik untuk virus campak, pasien biasanya mendapatkan terapi untuk mengatasi gejala serta perlu beristirahat cukup dan menjaga asupan cairan guna membantu sistem imun melawan infeksi. (*)
Editor : Chairunnisya