PONTIANAK POST — Mengalami peristiwa traumatis di masa lalu, terutama pada masa kanak-kanak, sering kali meninggalkan luka batin yang mendalam. Dampaknya bisa membuat seseorang mati rasa secara emosional, sulit berempati, hingga tanpa sadar terjebak dalam pola hubungan yang destruktif dan manipulatif saat dewasa.
Melansir esai reflektif dari jurnalis senior Maria Cassano di YourTango, ia secara terbuka mengakui masa lalunya yang kelam akibat trauma yang tak terselesaikan. Keadaan itu membuatnya terbiasa memanfaatkan orang lain dan bergonta-ganti pasangan tanpa memedulikan perasaan mereka. Namun, titik balik hidupnya terjadi di usia pertengahan 20-an ketika ia menyadari bahwa dirinyalah yang menjadi sumber masalah.
Melalui metode terapi EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) selama empat tahun, ia akhirnya berhasil memproses ulang memori buruknya. Sayangnya, Cassano mengamati banyak orang justru menjadikan trauma masa lalu sebagai tameng atau alasan abadi untuk membenarkan perilaku kasar, kecanduan, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang mereka lakukan kepada pasangan maupun anak.
Menurut Cassano, penting untuk menanamkan pola pikir bahwa trauma yang Anda alami memang bukan kesalahan Anda, namun menyembuhkannya adalah tanggung jawab mutlak Anda sendiri sebelum luka tersebut melukai orang lain.
Bagi Anda yang saat ini terkendala biaya asuransi atau tidak mampu membayar sesi psikolog profesional, terdapat empat teknik regulasi somatik dan pemulihan mandiri (grounding) yang telah teruji secara ilmiah dan bisa dipraktikkan secara gratis di rumah:
1. Menulis Ekspresif (Expressive Writing)
Metode yang dipopulerkan oleh psikolog Dr. James Pennebaker pada dekade 1980-an ini terbukti secara klinis mampu meredakan kecemasan dan gejala trauma. Hasil riset menunjukkan bahwa menuangkan memori traumatis ke dalam bentuk kata-kata membantu otak memproses peristiwa tersebut secara kognitif dan emosional, sehingga mampu menenangkan sistem saraf yang tegang. Menulis juga menjadi ruang aman untuk melepas rahasia dan rasa malu yang selama ini dipendam.
-
Cara mempraktikkannya:
-
Pilih satu peristiwa masa lalu yang paling emosional atau memicu stres.
-
Tuliskan secara terus-menerus selama minimal 20 menit tanpa perlu memedulikan ejaan, tata bahasa, atau tanda baca. Fokuslah pada apa yang Anda rasakan.
-
Lakukan ritual ini selama empat hari berturut-turut.
-
Demi menjaga privasi, Anda diperbolehkan menghancurkan atau membakar kertas tulisan tersebut setelah selesai.
-
Baca Juga: Sering Mimpi Aneh? Ini 10 Cara Unik Otak Mengirimkan Pesan Rahasia Lewat Alam Bawah Sadar Anda
2. Metode Ketukan EFT (EFT Tapping)
Emotional Freedom Technique (EFT) merupakan metode penyembuhan somatik berbasis bukti yang memadukan prinsip akupresur dan terapi paparan (exposure therapy). Psikiater Dr. Lisa MacLean menjelaskan bahwa EFT menstimulasi titik-titik energi utama tubuh menggunakan ketukan ujung jari, bukan jarum. Riset membuktikan ketukan ini mampu menenangkan respons ancaman di bagian otak amigdala dan mengurai pikiran yang kalut.
-
Cara mempraktikkannya:
-
Tentukan satu masalah spesifik yang ingin diselesaikan, lalu susun kalimat afirmasi: "Even though I [specific issue here], I deeply love and accept myself." (Contoh: "Meskipun aku merasakan kemarahan besar ini di dalam diriku, aku sangat mencintai dan menerima diriku apa adanya.")
-
Ucapkan kalimat tersebut sebanyak tiga kali sambil mengetuk bagian luar telapak tangan Anda (titik karate chop).
-
Gunakan dua ujung jari untuk mengetuk dengan lembut beberapa kali pada titik-titik tubuh secara berurutan: puncak kepala, pangkal alis mata, pelipis samping mata, bawah mata, bawah hidung, dagu, tulang selangka, dan bagian samping badan di bawah ketiak. Ulangi hingga dada terasa lebih lapang.
-
Baca Juga: Nostalgia Generasi 90-an: 10 Kebiasaan Klasik Sebelum Era HP yang Terbukti Melindungi Kesehatan Jiwa
3. Pernapasan Kotak (Box Breathing)
Teknik olah napas ini sangat sederhana namun terbukti efektif meminimalkan respons panik saat menghadapi situasi dengan tingkat stres tinggi. Saking ampuhnya dalam menjaga fokus dan ketenangan mental, taktik pernapasan ini bahkan diadopsi oleh pasukan khusus Navy SEALs saat menjalankan misi berbahaya. Mengatur napas secara sadar berfungsi layaknya kendali jarak jauh untuk menenangkan sistem saraf otonom Anda.
-
Cara mempraktikkannya:
-
Duduk tegak dengan santai. Tempatkan satu tangan di dada dan tangan lainnya di perut.
-
Tarik napas secara perlahan melalui hidung dalam hitungan 4 detik.
-
Tahan napas Anda di posisi puncak selama 4 detik.
-
Hembuskan napas secara perlahan hingga rongga dada kosong dalam waktu 4 detik.
-
Tahan kondisi paru-paru kosong tersebut selama 4 detik sebelum memulai siklus baru. Ulangi minimal empat kali.
-
Baca Juga: Rahasia Simbol Berpasangan Menurut Feng Shui: Trik Tata Ruang untuk Menarik Energi Jodoh dan Asmara
4. Pelukan Kupu-Kupu (The Butterfly Hug)
Teknik ini memanfaatkan metode stimulasi bilateral (stimulasi dua sisi kanan-kiri secara bergantian) yang diadopsi dari basis terapi EMDR. Sebuah studi ilmiah baru-baru ini menemukan bahwa melakukan gerakan pelukan kupu-kupu mampu menurunkan aktivitas di area amigdala (pusat rasa takut di otak) dan meningkatkan kinerja frontal lobe yang bertanggung jawab atas regulasi emosi. Sentuhan fisik menyilangkan tangan di dada juga meniru kehangatan pelukan yang mengirimkan sinyal aman ke tubuh.
-
Cara mempraktikkannya:
-
Duduklah dengan nyaman, lalu silangkan kedua tangan Anda di atas dada.
-
Letakkan telapak tangan Anda di pundak yang berlawanan, posisikan jari-jemari Anda terbuka lebar menyerupai sayap kupu-kupu.
-
Fokuskan pikiran pada emosi atau memori tidak nyaman yang sedang bergejolak.
-
Secara ritmis dan konstan, tepuk pundak Anda menggunakan telapak tangan bergantian antara kanan dan kiri secara perlahan, dibarengi dengan tarikan napas yang dalam. Lakukan selama beberapa menit hingga tubuh terasa rileks.
-