Nyaman Duduk Berjam-jam? Psikolog Ungkap Peran Dopamin hingga Cara Membentuk Kebiasaan Aktif

Siti Sulbiyah • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:04 WIB
Ilustrasi bekerja duduk berjam-jam di kantor tanpa rasa bosan. (MAGNIFIC)
Ilustrasi bekerja duduk berjam-jam di kantor tanpa rasa bosan. (MAGNIFIC)

PONTIANAK POST – Duduk berjam-jam sambil menatap layar ponsel atau komputer sering kali terasa begitu nyaman hingga membuat seseorang lupa waktu. Di balik kebiasaan tersebut, ternyata ada faktor psikologis dan biologis yang memengaruhi seseorang untuk terus mempertahankan perilaku sedentari atau minim aktivitas fisik.

Psikolog Klinis, Maria Nofaola, M.Psi., Psikolog, menjelaskan alasan seseorang betah duduk dalam waktu lama tidak bisa disamaratakan karena dipengaruhi berbagai faktor. Menurutnya, sebagian orang memang sengaja memilih duduk untuk beristirahat sambil bermain gawai, membaca buku, atau menonton film. Namun, ada pula yang terpaksa melakukannya karena tuntutan pekerjaan.

"Misalnya sopir, pekerja pabrik yang harus fokus di depan mesin, atau pekerja kantoran yang harus menyelesaikan pekerjaannya dengan duduk. Mereka tidak berpikir lagi soal kenyamanan, hal itu sudah terbentuk dan dilakukan tanpa sadar,"ujar psikolog yang kerap disapa Olla itu. 

Baca Juga: Sering Duduk Berjam-jam? Pakar Untan Ungkap Cara Melawannya Cukup dengan 20 Menit Aktivitas Fisik

Selain itu, kondisi kesehatan mental juga dapat membuat seseorang lebih memilih aktivitas yang minim gerak. Orang dengan rasa percaya diri rendah, harga diri rendah, depresi, atau gangguan kecemasan cenderung menghindari situasi yang memicu kecemasan maupun emosi negatif.

Alasan lainnya, duduk diam tidak membutuhkan energi besar sehingga seseorang tidak perlu berkeringat atau merasa lelah.

Olla menjelaskan penggunaan gadget memiliki kaitan erat dengan meningkatnya perilaku sedentari. Saat seseorang menikmati video lucu, media sosial, podcast, atau film, otak melepaskan hormon dopamin yang memunculkan rasa senang dan nyaman.

“Dopamin yang menimbulkan rasa nyaman dan senang, ketika hormon ini bekerja, kita menikmatinya tanpa sadar sehingga terus menerus duduk hingga muncul perilaku sedentari,” jelasnya.

Baca Juga: Duduk Lama Tingkatkan Risiko Saraf Terjepit, Ini Cara Mencegahnya

Karena rasa nyaman tersebut, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka telah menghabiskan waktu berjam-jam tanpa bergerak.

Mengapa Sulit Membiasakan Diri Aktif? Menurut Olla, ada beberapa faktor yang membuat seseorang sulit membangun kebiasaan bergerak. Pertama, rasa nyaman akibat pelepasan dopamin membuat seseorang ketagihan terhadap aktivitas seperti menonton atau bermain gadget sehingga enggan beranjak.

Kedua, kurangnya pengetahuan mengenai manfaat aktivitas fisik dan dampak buruk duduk terlalu lama. Banyak orang belum memahami bahwa perilaku sedentari tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental.

Ketiga, kondisi psikologis tertentu membuat seseorang cenderung menghindari aktivitas yang memicu kecemasan atau emosi negatif sehingga memilih tetap berada dalam zona nyaman.

Bangun Kesadaran untuk Bergerak

Olla menilai perubahan kebiasaan harus dimulai dari meningkatnya kesadaran atau awareness. Ketika seseorang memahami bahwa tubuh perlu digerakkan agar otot tetap kuat dan tidak kaku, maka dorongan untuk lebih aktif akan tumbuh.

"Meningkatkan awareness seseorang atau masyarakat adalah dengan menyampaikan edukasi kesehatan tentang kebaikan bergerak aktif atau dampak negatif jika duduk lama," ujarnya.

Baca Juga: Work From Cafe Nyaman, Tetapi Duduk Lama Bisa Ganggu Tulang Belakang

Berbagai penelitian menunjukkan aktivitas fisik memberikan manfaat tidak hanya bagi kesehatan tubuh, tetapi juga kesehatan mental. Saat berolahraga atau bergerak aktif, tubuh menghasilkan hormon endorfin dan serotonin. Endorfin dikenal sebagai pereda nyeri alami yang diproduksi ketika tubuh mengalami stres, sedangkan serotonin berperan dalam mengatur suasana hati.

Lebih jauh ia mengatakan, secara umum penelitian menunjukkan olahraga dapat meningkatkan suasana hati, memperbaiki harga diri, serta membantu menurunkan tingkat stres yang menjadi faktor risiko berbagai gangguan fisik maupun mental.

"Studi menunjukkan bahwa orang yang berolahraga secara teratur memiliki kondisi mental yang lebih baik," katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa hubungan yang konsisten antara olahraga dan peningkatan suasana hati pada setiap individu sehat masih terus diteliti.

Baca Juga: Work From Cafe Nyaman, Tetapi Duduk Lama Bisa Ganggu Tulang Belakang

Di samping itu, lanjutnya, aktivitas sederhana seperti berjalan kaki beberapa menit pun dapat membantu memperbaiki suasana hati. Hal itu terjadi karena berjalan dapat menurunkan kadar hormon kortisol atau hormon stres, sekaligus merangsang produksi endorfin dan serotonin.

"Kondisi ini yang membuat perasaan dan suasana hati kita jadi lebih tenang bahkan gembira," pungkasnya. (sti)

Editor : Miftahul Khair
sedentary lifestyle duduk berjam-jam psikolog kesehatan mental