PONTIANAK POST - Di banyak rumah tangga Asia, air beras bukan sekadar sisa dari proses memasak.
Cairan berwarna putih ini telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi untuk berbagai keperluan, mulai dari kuliner hingga perawatan tubuh.
Kini, berbagai penelitian mulai mengungkap alasan mengapa kebiasaan tersebut mampu bertahan hingga sekarang.
Baca Juga: Air Beras Fermentasi Berpotensi Menjaga Keseimbangan Bakteri Baik di Usus
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, menjelaskan bahwa air beras maupun air cucian beras memiliki sejarah pemanfaatan yang panjang di berbagai negara Asia.
Menjadi Bagian Tradisi Kuliner
Menurut Prof Mangestuti Agil, masyarakat Korea memanfaatkan air beras sebagai salah satu bahan dalam masakan berkuah.
Baca Juga: Air Cucian Beras Berpotensi Menjadi Perawatan Kulit Alami, Ini Hasil Penelitiannya
Para juru masak meyakini air beras membantu membentuk aroma dan cita rasa khas pada masakan. Pengalaman mereka menunjukkan kuah sup tetap terasa lezat meski dimasak tanpa tambahan daging.
Air beras dinilai mampu memberikan rasa yang khas sehingga tetap menjadi bagian dari tradisi memasak hingga saat ini.
Sementara itu, di Filipina dan Korea, air cucian beras juga digunakan untuk membantu menghilangkan bau amis ikan sebelum diolah menjadi makanan.
Digunakan dalam Pengobatan Tradisional
Menurut Prof Mangestuti Agil, air beras telah lama dikenal dalam sistem pengobatan Ayurveda di India. Dalam tradisi tersebut, air beras dikenal dengan nama Tandulokada.
Baca Juga: Air Beras dan Air Cucian Beras, Apa Bedanya? Ternyata Sama-Sama Punya Beragam Manfaat
Seorang dokter Ayurveda meyakini manfaat air beras berkaitan dengan kandungan zat tepung dan berbagai senyawa yang memiliki khasiat antioksidan.
Masyarakat India biasanya membuat air beras dari berbagai jenis beras yang tidak dipoles maupun yang belum mengalami proses pengolahan.
Menjadi Bagian Perawatan Rambut
Tradisi menarik lainnya ditemukan di sebuah desa di Hangluo, Tiongkok.
Para perempuan di desa tersebut dikenal memiliki rambut panjang yang tidak cepat berubah warna hingga mencapai usia 80 tahun.
Baca Juga: Mengenal Daun Ungu, Tanaman Herbal Nusantara yang Terus Menarik Perhatian Peneliti
Menurut Prof Mangestuti Agil, kondisi tersebut dikaitkan dengan kebiasaan mencuci rambut menggunakan air beras yang telah difermentasi di dalam pot sebelum digunakan.
Tradisi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana air beras dimanfaatkan sebagai bagian dari perawatan tubuh secara turun-temurun.
Mulai Dijelaskan Secara Ilmiah
Prof Mangestuti Agil menjelaskan bahwa ketertarikan dunia penelitian terhadap air beras semakin meningkat setelah diketahui bahwa cairan tersebut mengandung berbagai mineral dan zat gizi.
Baca Juga: Momen Berbagi Kurban 2026, Komix Herbal Usung Tema Ikhlas Berkurban, Sehatkan Momen Kebersamaan
Berbagai penelitian kemudian dilakukan untuk memahami dasar ilmiah dari beragam pemanfaatan yang telah lama dipraktikkan masyarakat.
Meski demikian, kajian mengenai air beras masih terus berkembang. Hasil-hasil penelitian yang ada menjadi langkah awal untuk menjelaskan berbagai tradisi lama sekaligus membuka peluang pemanfaatan air beras secara lebih luas berdasarkan bukti ilmiah. (*)
Editor : Chairunnisya