PONTIANAK POST – Tren penyakit diabetes melitus di Kalimantan Barat (Kalbar) menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang tahun 2025. Kondisi ini menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalbar di tengah semakin banyaknya masyarakat yang menjalani gaya hidup sedentari atau kurang aktivitas fisik akibat terlalu lama duduk.
Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Erna Yulianti mengungkapkan, berdasarkan hasil skrining Penyakit Tidak Menular (PTM) yang dihimpun melalui Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK), prevalensi diabetes melitus pada 2025 mencapai 7,48 persen. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan 2024 yang sebesar 3,24 persen.
"Terjadi tren peningkatan yang sangat signifikan dari tahun 2024 ke 2025, yaitu sebesar 4,24 persen. Sementara dari tahun 2023 ke 2024 sempat mengalami penurunan tipis sebesar 0,15 persen," jelas Erna.
Sementara itu, dua penyakit tidak menular lainnya justru menunjukkan tren penurunan. Kasus hipertensi turun dari 33,62 persen pada 2023 menjadi 29,65 persen pada 2024, dan kembali turun menjadi 26,27 persen pada 2025. Begitu pula obesitas yang ikut mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir.
Namun demikian, berdasarkan data ASIK tahun 2025, hipertensi masih menjadi penyakit tidak menular terbanyak di Kalbar. Yakni dengan 92.273 orang atau 26,95 persen dari total masyarakat yang menjalani pemeriksaan.
Posisi berikutnya ditempati obesitas sebanyak 35.822 orang atau 19,84 persen dari hasil skrining Indeks Massa Tubuh (IMT). Sedangkan untuk diabetes melitus sendiri tercatat sebanyak 12.643 orang atau 7,48 persen dari total yang melakukan pemeriksaan gula darah.
Erna menjelaskan, kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor risiko utama PTM. Gaya hidup sedentari, yakni kebiasaan duduk terlalu lama dengan aktivitas fisik yang minim, juga meningkatkan risiko obesitas maupun diabetes melitus.
Baca Juga: BRIN Uji Potensi Kratom Kalimantan sebagai Kandidat Obat Diabetes
Menurutnya, kelompok pekerja kantoran menjadi salah satu kelompok yang rentan karena sebagian besar waktu kerja dihabiskan dalam posisi duduk.
"Kurangnya aktivitas fisik atau sedentary sudah menjadi perhatian Dinkes Kalbar. Hal ini banyak terjadi pada para pekerja kantoran yang memang sebagian waktu bekerjanya dihabiskan dengan duduk," ujarnya.
Sebagai upaya pencegahan, Dinkes Kalbar terus menggalakkan kebiasaan melakukan peregangan ringan di sela-sela aktivitas kerja. Pegawai dianjurkan meregangkan kaki, lengan, leher, dan punggung tanpa harus meninggalkan tempat kerja.
“Peregangan tersebut dianjurkan dilakukan secara rutin dua kali sehari, yakni pukul 10.00, dan pukul 14.30, dengan cukup berdiri sejenak, dan menggerakkan tubuh,” ungkapnya.
Selain itu, Dinkes Kalbar juga mendorong pelaksanaan olahraga bersama setiap Jumat, serta kegiatan membersihkan ruangan, dan lingkungan kerja.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan aktivitas fisik pegawai sekaligus menekan risiko PTM akibat kebiasaan kurang bergerak. “Sehingga ada kegiatan aktivitas fisik yang rutin dilakukan oleh setiap pegawai,” tutupnya. (bar)
Editor : Miftahul Khair