PONTIANAK POST - Masa menyusui menjadi bagian penting dalam perawatan ibu setelah melahirkan. Dalam tradisi jamu, terdapat ramuan yang digunakan sebagai pelancar ASI.
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, mengatakan sebaiknya tidak meninggalkan jamu pelancar ASI yang asli, yaitu dari bahan segar.
Riset sudah membuktikan khasiatnya, termasuk lalapan atau rebusan daun katuk.
Baca Juga: Daun Katuk Ternyata Mengandung Banyak Nutrisi Penting Pembentuk Sel Darah
Daun Katuk dalam Tradisi Jamu
Daun katuk menjadi salah satu bahan yang digunakan dalam bentuk lalapan maupun rebusan. Kandungan zat bioaktif membantu pengeluaran hormon yang berperan pada pembentukan sinus untuk pembentukan dan penyimpanan air susu di kelenjar susu.
Penggunaan bahan tersebut menjadi bagian dari tradisi pemanfaatan tanaman dalam perawatan ibu menyusui.
Mengenal Ramuan Uyup atau Gepyokan
Selain daun katuk, terdapat ramuan jamu uyup atau gepyokan yang populer. Ramuan tersebut berbahan utama rimpang temulawak, jahe, bangle, kunyit, temugiring, dan lempuyang.
Bahan-bahan tersebut diiris tipis, ditumbuk, diperas, dan disaring. Ramuan kemudian diminum setiap hari atau sesuai kebutuhan. Salah satu bahan yang digunakan adalah temulawak. Temulawak mengandung xanthorrhizol yang ditengarai berefek estrogenik.
Artinya, senyawa tersebut punya aktivitas yang menyerupai hormon wanita estrogen, yang berperan menjaga kesehatan organ reproduksi (2022).
Bagian dari Perawatan Ibu Menyusui
Ramuan pelancar ASI merupakan salah satu bagian dari perawatan pascamelahirkan. Penggunaannya hadir bersama berbagai bentuk perawatan lain yang dilakukan selama masa nifas.
Baca Juga: Penelitian Ungkap Daun Kelor Berpotensi Membantu Ibu Menyusui Produksi ASI Lebih Optimal
Dalam tradisi tersebut, bahan segar seperti daun katuk dan berbagai rimpang digunakan sebagai bagian dari ramuan yang berkaitan dengan masa menyusui. (*)
Editor : Chairunnisya