PONTIANAK POST - Tidak semua reaksi alergi berhenti pada rasa gatal atau biduran.
Dalam kondisi tertentu, alergi dapat berkembang menjadi anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang muncul secara tiba-tiba dan dapat mengancam jiwa.
Karena itu, masyarakat perlu mengenali tanda-tandanya agar pertolongan dapat segera diberikan.
Baca Juga: Biduran Setelah Makan atau Minum Obat, Ini Pertolongan Awal yang Tepat
Dilansir dari Jawapos, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Siloam Hospitals Yogyakarta, dr Rosandi Himawan SpPD, mengatakan tanda anafilaksis dapat muncul dalam beberapa bentuk.
Waspadai Lima Tanda Bahaya
Tanda pertama adalah pembengkakan pada bibir, lidah, atau kelopak mata yang disertai rasa tercekik di tenggorokan.
Baca Juga: Gatal Tak Kunjung Hilang? Ini 11 Obat Alami yang Ampuh dan Mudah Dicoba, Terbukti Secara Ilmiah
Kedua, gangguan pernapasan berupa sesak, mengi, batuk terus-menerus, atau napas berbunyi.
Ketiga, muncul rasa berputar berupa pusing hebat, pandangan gelap, lemas mendadak, hingga nyaris pingsan.
Keempat, gangguan saluran cerna seperti muntah, diare mendadak, atau kram perut hebat.
Kelima, penderita dapat merasakan kecemasan yang sangat kuat atau merasa akan mengalami sesuatu yang buruk.
Baca Juga: Terbukti Ampuh! Cara Alami Redakan Gatal Kulit Tanpa Obat Kimia, Cek Selengkapnya disini!
Yang perlu menjadi perhatian, reaksi anafilaksis tidak selalu disertai gejala pada kulit.
’’Yang sangat penting diketahui, 10–20 persen kasus anafilaksis terjadi tanpa ada gejala gatal atau biduran di kulit sama sekali,’’ tegas Rosandi.
Adrenalin Menjadi Obat Darurat
Pada kondisi anafilaksis, antihistamin seperti CTM atau cetirizine bukan merupakan obat penyelamat nyawa.
Obat tersebut membantu meredakan gejala kulit dan hidung, tetapi tidak mampu membuka saluran napas yang membengkak maupun mengatasi penurunan tekanan darah akibat reaksi berat.
Baca Juga: Tak Harus Dikucek, Ini 4 Cara Aman Redakan Gatal Menurut Dokter
Begitu pula deksametason atau metilprednisolon bukan obat pertama pada anafilaksis dan tidak dapat menggantikan adrenalin.
’’Suntikan deksametason atau metilprednisolon bukan obat pertama pada anafilaksis dan tidak dapat menggantikan adrenalin. Kerjanya lambat, butuh berjamjam, sementara pada anafilaksis nyawa ditentukan dalam hitungan menit,’’ tegasnya.
’’Pada reaksi alergi darurat, satu-satunya obat yang mampu menyelamatkan nyawa adalah suntikan adrenalin.’’
Baca Juga: 5 Penyebab Gatal Setelah Olahraga dan Cara Mengatasinya
Jika penderita mulai mengalami sesak napas, kondisi tersebut harus dianggap sebagai keadaan darurat dan tim medis perlu segera dihubungi.
Jangan Menunda Perjalanan ke Fasilitas Kesehatan
Bila memiliki suntikan adrenalin intramuskular yang memang diresepkan sebagai obat darurat, obat tersebut dapat segera digunakan pada paha bagian luar.
’’Bila dalam 5 sampai 15 menit kondisi belum membaik, adrenalin dapat diulang. Jangan berhenti di satu suntikan lalu merasa sudah aman sebab efeknya berlangsung singkat,’’ terang dosen FK Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.
Baca Juga: Cara Mudah Atasi Tenggorokan Gatal Secara Alami dengan Bahan yang Ada di Rumah
Meski kondisi tampak membaik setelah penyuntikan, perjalanan ke fasilitas kesehatan tetap tidak boleh ditunda.
Penderita yang tampak lemas perlu dibaringkan dengan tungkai ditinggikan. Jika sesak lebih dominan, pasien dapat diposisikan setengah duduk.
’’Jangan pernah meminta pasien tiba-tiba berdiri atau berjalan sendiri ke mobil. Hal itu dapat membuat darah menumpuk di kaki dan jan tung kehilangan pasokan darah sehingga memicu kematian mendadak,’’ tutur dokter yang kerap berbagi edukasi seputar medis lewat akun @dokter_rosandi itu. (*)
Editor : Chairunnisya