PONTIANAK POST - Menurunkan berat badan menjadi tujuan banyak orang yang ingin mendapatkan tubuh lebih sehat. Namun, proses yang terlalu cepat justru dapat membawa perubahan pada sistem tubuh, termasuk kerja organ pencernaan.
Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah terbentuknya batu empedu. Kondisi ini dapat terjadi ketika komposisi cairan empedu mengalami perubahan sehingga membentuk endapan yang berkembang menjadi batu.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSIA NUN Surabaya, dr Putu Anisya Purnamasari SpPD, menjelaskan bahwa penurunan berat badan terlalu cepat menjadi salah satu kondisi yang dapat meningkatkan risiko pembentukan batu empedu.
Baca Juga: Diet Ekstrem Turunkan Berat Badan Cepat, Risiko Batu Empedu Mengintai Kesehatan
Penurunan Berat Badan Cepat Mengubah Komposisi Empedu
Menurut Anisya, saat berat badan turun secara drastis, tubuh mengalami perubahan dalam proses metabolisme. Penurunan berat badan yang terlalu cepat membuat hati melepaskan lebih banyak kolesterol ke dalam empedu.
Pada saat yang sama, kantong empedu menjadi lebih jarang berkontraksi sehingga cairan empedu lebih mudah mengalami pengendapan.
"Kolesterol yang mengendap lama-kelamaan membentuk kristal, kemudian berkembang menjadi batu empedu," ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Ahli Gizi Ingatkan Risiko Diet Ekstrem bagi Tubuh Usia 40 Tahun Ke Atas
Proses tersebut terjadi secara bertahap. Awalnya, kolesterol membentuk endapan kecil yang dikenal sebagai gallbladder sludge atau endapan kristal di kantong empedu.
Pada tahap ini, kondisi masih memiliki peluang untuk kembali normal apabila penyebabnya segera ditangani.
Endapan Awal Perlu Diwaspadai
Anisya menjelaskan, gallbladder sludge merupakan fase awal sebelum terbentuknya inti batu empedu. Jika kondisi tersebut tidak mendapatkan perhatian, endapan dapat berkembang menjadi batu yang lebih sulit ditangani.
Baca Juga: Memasuki Usia 40 Tahun, Diet Sehat Kini Fokus Menjaga Fungsi Tubuh
"Kalau inti batu sudah terbentuk, pengobatan lebih terbatas dan tidak semua pasien bisa diobati dengan obat pelarut batu," jelasnya.
Karena itu, perubahan berat badan yang terjadi secara cepat perlu menjadi perhatian, terutama apabila disertai keluhan pada area perut. Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap perubahan komposisi berat badan dan metabolisme.
Tidak Hanya Berat Badan, Faktor Metabolisme Berpengaruh
Risiko batu empedu tidak hanya dipengaruhi oleh angka penurunan berat badan. Menurut Anisya, terdapat faktor lain yang juga dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya batu empedu.
Baca Juga: Perut Buncit Tak Kunjung Hilang? Dr Zaidul Akbar Ungkap Cara Alami Tanpa Olahraga dan Diet Ribet
Beberapa kondisi tersebut antara lain obesitas, khususnya obesitas sentral dengan penumpukan lemak di perut, riwayat operasi bariatrik, penggunaan kontrasepsi hormonal pada perempuan, diabetes, sindrom metabolik, serta kadar trigliserida yang tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kesehatan seseorang perlu dilihat secara menyeluruh ketika menjalani program penurunan berat badan.
Diet tidak hanya berkaitan dengan jumlah kilogram yang berhasil dikurangi, tetapi juga bagaimana tubuh tetap mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.
Mengenali Sinyal dari Tubuh
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah munculnya nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut kanan atas. Keluhan tersebut terutama perlu diwaspadai apabila muncul setelah mengonsumsi makanan berlemak.
"Itu bisa menjadi rambu-rambu adanya endapan di kantong empedu. Sebaiknya segera diperiksa ke dokter," ujarnya.
Untuk mengetahui kondisi empedu, pemeriksaan dapat dilakukan melalui USG abdomen. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan fungsi hati seperti SGOT, SGPT, dan bilirubin untuk membantu memastikan kondisi kesehatan pasien.
Diet Sehat Tidak Berarti Penurunan Berat Badan Instan
Menurut Anisya, keberhasilan diet seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa cepat berat badan turun.
Baca Juga: 10 Cara Ampuh Redam "Food Noise" Tanpa Obat Diet
Perubahan pola makan dan kebiasaan sehari-hari yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang menjadi bagian penting dari program kesehatan.
"Jangan tergiur dengan penurunan berat badan ekstrem dalam waktu singkat. Tujuan kita bukan hanya mengejar angka di timbangan, tetapi membangun gaya hidup yang lebih sehat melalui pilihan makanan dan kebiasaan sehari-hari jangka panjang," ucapnya.
Dengan memahami proses yang terjadi di dalam tubuh, masyarakat dapat lebih bijak memilih cara menurunkan berat badan tanpa mengorbankan kesehatan organ lainnya. (*)
Editor : Chairunnisya