PONTIANAK POST - Banyak orang menjalani diet dengan satu tujuan utama, yaitu melihat angka di timbangan terus menurun. Namun, keberhasilan diet sebenarnya tidak hanya ditentukan dari seberapa cepat berat badan berkurang.
Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSIA NUN Surabaya, dr Putu Anisya Purnamasari SpPD, program penurunan berat badan yang baik harus mempertimbangkan kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Sebab, penurunan berat badan yang terlalu cepat justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, salah satunya batu empedu.
Baca Juga: Kenali Proses Pembentukan Batu Empedu Akibat Penurunan Berat Badan Ekstrem
Karena itu, diet tidak seharusnya hanya berorientasi pada hasil instan, melainkan membangun pola makan yang aman dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Penurunan Berat Badan Perlu Dilakukan Bertahap
Anisya menyarankan masyarakat tidak terburu-buru ketika menjalani program diet. Menurutnya, penurunan berat badan yang aman umumnya berkisar 0,5–1 kilogram per minggu atau sekitar 2–4 kilogram per bulan.
Namun, angka tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu, termasuk komposisi massa otot dan lemak tubuh.
Baca Juga: Diet Ekstrem Turunkan Berat Badan Cepat, Risiko Batu Empedu Mengintai Kesehatan
"Ada juga panduan yang menargetkan penurunan sekitar 5–10 persen dari berat badan awal dalam enam bulan. Jadi, semakin cepat belum tentu semakin sehat. Yang lebih penting adalah pola makan yang aman, terukur, dan bisa dipertahankan menjadi gaya hidup," katanya, dikutip dari Jawapos.
Dengan proses yang bertahap, tubuh memiliki kesempatan untuk beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi.
Beragam Metode Diet Tidak Menjadi Penentu Utama
Saat ini berbagai metode diet semakin populer di masyarakat. Beberapa di antaranya adalah diet keto, intermittent fasting, hingga very low calorie diet (VLCD) yang membatasi asupan di bawah 800 kalori per hari.
Baca Juga: Ahli Gizi Ingatkan Risiko Diet Ekstrem bagi Tubuh Usia 40 Tahun Ke Atas
Namun, Anisya menegaskan bahwa belum ada bukti kuat yang menunjukkan jenis diet tertentu secara langsung menyebabkan batu empedu.
Menurutnya, faktor yang lebih menentukan adalah bagaimana proses penurunan berat badan tersebut berlangsung.
"Yang menentukan bukan jenis dietnya, melainkan seberapa besar penurunan berat badan yang terjadi, berapa lama prosesnya, berapa kalori yang dikonsumsi, serta apakah kebutuhan nutrisi seperti protein, serat, dan lemak esensial tetap terpenuhi," imbuhnya.
Nutrisi Tetap Harus Terpenuhi
Dalam menjalani diet, tubuh tetap membutuhkan berbagai zat gizi untuk menjalankan fungsi normal.
Baca Juga: Memasuki Usia 40 Tahun, Diet Sehat Kini Fokus Menjaga Fungsi Tubuh
Pembatasan makanan yang terlalu ketat tanpa memperhatikan kebutuhan nutrisi dapat membuat tubuh tidak mendapatkan asupan yang diperlukan.
Anisya menjelaskan, pola makan seimbang tetap menjadi dasar dalam program penurunan berat badan. Kebutuhan karbohidrat, protein, dan lemak perlu dipenuhi sesuai kondisi tubuh masing-masing.
Diet yang Baik Adalah Kebiasaan Seumur Hidup
Menurut Anisya, tujuan utama diet bukan hanya mendapatkan perubahan bentuk tubuh dalam waktu singkat. Lebih penting dari itu adalah membangun kebiasaan sehat yang dapat dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Perut Buncit Tak Kunjung Hilang? Dr Zaidul Akbar Ungkap Cara Alami Tanpa Olahraga dan Diet Ribet
Pola makan yang aman, terukur, dan konsisten menjadi kunci agar penurunan berat badan memberikan manfaat jangka panjang.
Dengan demikian, diet bukan sekadar program sementara, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara berkelanjutan. (*)
Editor : Chairunnisya