Jamu Pahitan dan Cekokan Punya Filosofi Berbeda untuk Masalah Nafsu Makan

Chairunnisya • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:57 WIB
Ilustrasi anak tak mau makan sayuran.(FREEPIK)
Ilustrasi anak tak mau makan.(FREEPIK)

PONTIANAK POST -  Rasa pahit mungkin bukan pilihan pertama ketika seseorang ingin meningkatkan nafsu makan. Namun, dalam tradisi jamu, rasa tersebut justru telah lama dimanfaatkan untuk membantu tubuh mempersiapkan sistem pencernaan.

Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, menjelaskan penggunaan tanaman pahit telah dikenal dalam berbagai budaya sebagai digestive bitters, yakni ramuan yang membantu mempersiapkan dan memperbaiki fungsi sistem pencernaan.

Di Indonesia, konsep tersebut dikenal melalui dua bentuk yang cukup familiar, yakni jamu cekokan untuk anak-anak dan jamu pahitan bagi orang dewasa.

Baca Juga: Tips Aturan Aman Menggunakan Gawai untuk Anak dan Dewasa

Jamu Cekokan untuk Anak

Hilangnya nafsu makan dapat berdampak pada status nutrisi dan kualitas hidup. Dalam tradisi masyarakat dahulu, salah satu cara yang digunakan untuk menghadapi kondisi tersebut adalah memberikan jamu cekokan kepada anak.

Selama ini, jamu cekokan kerap dipahami sebagai jamu penambah nafsu makan. Namun, pemahaman tersebut dinilai terlalu sederhana.

Anak yang tidak mau makan belum tentu membutuhkan obat penambah nafsu makan. Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan saluran pencernaan yang kurang nyaman, perut kembung, baru sembuh dari sakit, atau proses pencernaan yang belum berjalan dengan baik.

Baca Juga: Berikut Penjelasan Psikolog Tanda Kepercayaan Diri Anak Mulai Tidak Sehat

Karena itu, pendekatan yang dilakukan terlebih dahulu adalah membantu memulihkan fungsi pencernaan. Ketika pencernaan membaik, nafsu makan pun diharapkan kembali dengan sendirinya.

Jamu Pahitan untuk Orang Dewasa

Prinsip yang sama juga dikenal pada orang dewasa. Bedanya, orang dewasa tidak lagi menggunakan jamu dalam bentuk cekokan. Jamu pahitan merupakan ramuan yang dikenal memiliki rasa pahit kuat.

Penggunaannya bukan semata-mata untuk meningkatkan selera makan, tetapi juga membantu mengurangi rasa penuh di perut, memperlancar proses pencernaan, serta mengembalikan kenyamanan setelah makan.

Baca Juga: Cara Menyimpan Bekal Anak agar Makanan Tetap Terjaga Selama di Sekolah

Konsep tersebut memperlihatkan bahwa rasa pahit dalam tradisi jamu tidak berdiri sendiri. Penggunaannya berkaitan dengan upaya mendukung fungsi pencernaan.

Rasa Pahit sebagai Bagian dari Tradisi Herbal

Konsep digestive bitters dikenal dalam dunia herbal internasional. Tanaman pahit digunakan untuk membantu fungsi pencernaan.

Indonesia sendiri memiliki beragam tanaman yang mempunyai karakter rasa pahit dan secara turun-temurun digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk membantu nafsu makan dan pencernaan.

Beberapa di antaranya adalah temulawak, lempuyang, temu ireng, brotowali, sambiloto, dan daun pepaya. Masing-masing tanaman mempunyai kandungan kimia berbeda, tetapi memiliki karakter yang sama berupa rasa pahit.

Baca Juga: Anak Usia 5 Tahun Bisa Kena Diabetes, Dokter Peringatkan Bahaya Makanan Mini Market

Dengan demikian, tradisi penggunaan jamu pahit tidak hanya berkaitan dengan upaya membuat seseorang makan lebih banyak. Di baliknya terdapat filosofi bahwa fungsi pencernaan perlu diperhatikan agar nafsu makan dapat kembali secara alami. (*)

Editor : Chairunnisya
jamu pahit nafsu makan jamu cekokan jamu pahitan pencernaan