Probiotik dan Mikrobiom Usus, Begini Hubungannya dengan Kesehatan Tubuh

Chairunnisya • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 13:21 WIB
Ilustrasi minuman prebiotik (AI)
Ilustrasi minuman prebiotik (AI)

PONTIANAK POST - Istilah probiotik sering muncul ketika membahas makanan fermentasi.

Namun, keduanya memiliki pengertian berbeda dan tidak setiap produk fermentasi dapat disebut sebagai probiotik.

Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, menjelaskan probiotik merupakan bakteri baik yang tergabung dalam kumpulan mikroorganisme yang hidup di tubuh.

Baca Juga: Air Beras Fermentasi Berpotensi Menjaga Keseimbangan Bakteri Baik di Usus

Mikroorganisme tersebut terdapat di usus dan permukaan tubuh, termasuk kulit. Kumpulan mikroorganisme itu membentuk komunitas yang disebut mikrobiom.

Mengenal Mikrobiom dalam Tubuh

Mikrobiom tersusun atas bakteri, virus, dan jamur yang bekerja sama secara baik dan seimbang.

Salah satu fungsi utamanya adalah memerangi bakteri, virus, serta parasit yang dapat membahayakan kesehatan tubuh.

Baca Juga: Ekstrak Daun Ungu Berpotensi Melawan Bakteri Penyebab Karies dan Radang Gusi

Karena itu, keberadaan mikroorganisme di dalam tubuh tidak selalu berarti sesuatu yang merugikan. Sebaliknya, komunitas mikroorganisme yang seimbang memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan tubuh.

Tidak Semua Bakteri Hidup Disebut Probiotik

Sebuah produk tidak dapat disebut probiotik hanya karena mengandung bakteri hidup.

Makanan atau produk disebut probiotik apabila mengandung bakteri hidup yang secara ilmiah sudah terbukti memiliki manfaat kesehatan dalam dosis tertentu.

Baca Juga: Guru Besar Unair Ungkap Hubungan Bakteri Usus dengan Suasana Hati Manusia

Beberapa mikroorganisme yang termasuk di dalamnya adalah Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Saccharomyces species.

Probiotik dapat ditemukan dalam bentuk suplemen, makanan yang difortifikasi probiotik, maupun makanan fermentasi tertentu.

Yoghurt dan kefir, misalnya, dapat menjadi makanan fermentasi yang mengandung varian bakteri yang memenuhi persyaratan probiotik.

Mengapa Makanan Fermentasi Belum Tentu Probiotik?

Perbedaan tersebut menjelaskan mengapa makanan fermentasi tidak otomatis disebut probiotik.

Baca Juga: Spons Cuci Piring Bisa Jadi Sarang Bakteri Berbahaya, Ini Saran Dokter Untuk Mencegahnya

Produk fermentasi seperti minuman beer dan roti yang melalui proses pemanasan atau penyaringan kebanyakan tidak lagi mengandung varian bakteri spesifik yang memiliki manfaat kesehatan.

Produk tersebut memang mengandung mikroba hidup, tetapi belum tentu termasuk probiotik.

Sebaliknya, terdapat produk probiotik yang mengandung varian mikroba khusus dan dikemas dalam kapsul tanpa melalui proses fermentasi konvensional.

Interaksi dengan Lingkungan Usus

Baca Juga: Ini Daftar Makanan Prebiotik Alami yang Baik untuk Menjaga Kesehatan Usus

Ketika makanan fermentasi dikonsumsi, mikroorganisme dan senyawa hasil fermentasi akan berinteraksi dengan lingkungan saluran pencernaan serta mikroorganisme yang berada di dalam usus.

Mikroorganisme tertentu dapat menghasilkan asam organik yang menurunkan keasaman lingkungan dan memengaruhi pertumbuhan mikroorganisme lainnya.

Interaksi tersebut dapat membantu membentuk lingkungan usus yang mendukung keseimbangan mikroorganisme.

Baca Juga: Cuka Apel dan Fermentasi, Mengapa Produk Ini Berbeda dari Yoghurt?

Dengan demikian, memahami perbedaan makanan fermentasi dan probiotik penting agar manfaat keduanya tidak disamakan.

Proses fermentasi dan keberadaan mikroorganisme hidup merupakan bagian dari pembahasan yang berbeda dari kriteria ilmiah sebuah produk untuk disebut probiotik. (*) 

Editor : Chairunnisya
probiotik bakteri baik makanan fermentasi mikrobiom usus kesehatan pencernaan