Kanker Payudara di Kalbar Tembus 1.545 Kasus, Dinkes Tekankan Pentingnya Pencegahan dan Deteksi Dini

Uray Ronald • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 23:47 WIB
Ilustrasi seorang wanita menunjuk pita pink sebagai simbol dukungan terhadap pencegahan kanker payudara.
Ilustrasi seorang wanita menunjuk pita pink sebagai simbol dukungan terhadap pencegahan kanker payudara.

 

PONTIANAK POST – Dinas Kesehatan Kalimantan Barat mencatat 1.545 kasus kanker payudara berdasarkan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Online 2024. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi di antara kasus neoplasma ganas yang dirawat di sejumlah rumah sakit di Kalbar.

Kanker payudara menjadi neoplasma ganas dengan jumlah penderita terbanyak yang menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Kalbar.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Erna Yulianti mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan pencegahan dan deteksi dini untuk menekan beban penyakit kanker di daerah.

"Karena itu, upaya promotif, preventif, deteksi dini, pengobatan hingga rehabilitatif perlu dilakukan secara berkesinambungan," kata Erna di Pontianak, Senin (14/9).

Menurut Erna, pada umumnya kanker dapat dicegah dan ditangani apabila ditemukan sedini mungkin.

Berdasarkan data yang sama, neoplasma ganas serviks uterus menempati urutan berikutnya dengan 708 penderita yang menjalani perawatan di rumah sakit di Kalbar.

Baca Juga: Kasus Kanker Ganas Masih Tinggi, 1.545 Penderita Payudara Tercatat di Kalbar

Deteksi Dini Kanker

Erna mengatakan kanker masih menjadi salah satu penyakit dengan beban kesehatan dan pembiayaan tinggi. Penyakit tersebut juga termasuk kelompok katastropik yang membutuhkan penanganan secara berkelanjutan.

Karena itu, pemahaman masyarakat mengenai faktor risiko dan gejala kanker perlu terus ditingkatkan. Hal tersebut penting agar masyarakat tidak menunda pemeriksaan ketika menemukan tanda-tanda yang mencurigakan.

Deteksi dini, kata Erna, memungkinkan kasus ditemukan pada tahap awal sehingga peluang mendapatkan penanganan yang tepat dapat lebih besar.

Ia menegaskan pengendalian kanker tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan.

Keterlibatan tenaga kesehatan, organisasi profesi, institusi pendidikan, pemerintah, sektor swasta, lembaga masyarakat, dan masyarakat diperlukan untuk membangun sistem pencegahan yang lebih kuat.

"Saya harap pelaksanaan PIN POI mampu menjadi ruang untuk memperkuat sinergi sekaligus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pelayanan kanker di Kalimantan Barat," ujarnya.

Erna mengatakan kegiatan ilmiah tersebut juga dapat memperkuat empat pilar aksi, yakni pemberian layanan, edukasi, pelatihan dan penyuluhan, fasilitator kemajuan, serta ketatalayanan dan koordinasi dalam pelayanan kanker.

Baca Juga: Risiko Kanker Payudara Meningkat Akibat Konsumsi Keju? Cek Faktanya di Sini

Kasus Kanker Nasional

Secara nasional, beban penyakit kanker juga masih tinggi. Data International Agency for Research on Cancer (IARC) 2022 mencatat Indonesia memiliki sekitar 408.661 kasus baru kanker dengan 242.988 kematian.

Pada perempuan, kanker payudara menjadi jenis kanker dengan kasus tertinggi secara nasional, yakni 66.271 kasus, disusul kanker leher rahim sebanyak 36.964 kasus.

Sementara pada laki-laki, kanker paru mencapai 38.904 kasus dan kanker kolorektal 35.676 kasus.

Pemerintah mendorong Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara 2023–2030 sebagai bagian dari strategi nasional untuk memperkuat pencegahan, deteksi dini, pengobatan, dan pengendalian kedua jenis kanker tersebut.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
Deteksi Dini Kanker kanker payudara Kalbar kasus kanker payudara Kalbar kanker di Kalimantan Barat Dinkes Kalbar